
Axel hari ini memang sengaja mendatangi kantor calon mertuanya, karena dia ingin melihat calon istrinya pertama kali bekerja. Saat jam makan siang tiba, Axel bergegas menuju kantin karyawan. Sebelumnya dia juga sudah tahu kalau Gita sudah pergi kesana lebih dulu dan diikuti oleh Dimas.
Axel melihat dan mendengar dengan jelas tentang ungkapan cinta yang baru saja Dimas katakan pada Gita. Hatinya mencelos. Tapi dia berusaha untuk tetap tegar. Lagi pula posisinya sekarang menang telak daripada Dimas. Axel tidak peduli walau Gita sebenarnya mencintai Dimas juga. dia akan tetap berusaha mendapatkan cinta Gita.
Setelah itu Axel segera pergi tanpa mendengar lebih lanjut percakapan dua orang yang sedang duduk di belakangnya.
*
“Aku mencintaimu Gita. Sudah lama aku menyimpan perasaan ini. dan aku berencana akan melamar kamu nanti setelah kamu wisuda. Tapi ternyata aku terlambat. Semoga kamu bahagia dengan pasangan kamu.” Ucap Dimas sambil pandangannya tak lepas dari mata Gita.
Gita terdiam sesaat setelah mendengar ungkapan perasaan Dimas. Sebenarnya sudah lama Gita sudah menyadari arti perhatian Dimas selama ini. dia juga merasa nyaman tapi bukan berarti dia juga mencintai Dimas. Tapi setidaknya, jika tidak ada kejadian antara dirinya dan Axel, mungkin dia akan menerima cinta Dimas. Namun, Gita sudah menutup pintu hatinya untuk siapapun ssetelah kejadian itu. Dimas juga tidak pantas mendapatkan wanita seperti dirinya yang sudah tidak suci lagi.
“Aku tidak melarang Kak Dimas mencintaiku. Aku juga tidak menyalahkan perasaan itu. Tapi aku minta maaf sebesar-besarnya tidak bisa membalas perasaan Kak Dimas. Aku harap Kak Dimas bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku.” jawab Gita. Lalu dia segera pergi meninggalkan Dimas tanpa menyelesaikan dulu makannya.
Selepas kepergian Gita, hati Dimas merasa sedikit lega. Walau rasa sakit dari penolakan itu lebih mendominasi. Tak apalah, yang penting dia sudah mengungkapkan perasaannya.
Kini Gita memilih fokus dengan pekerjaan barunya. Lebih baik menyibukkan diri dengan pekerjaan daripada pusing memikirkan tentang laki-laki.
***
Hari wisuda Gita sudah dekat. yaitu minggu depan. Dan hal itu juga dekat dengan hari pernikahannya. Rencananya hari pernikahan itu akan digelar dua hari setelah wisuda. Dan hari ini Gita harus bolos kerja karena Mamanya meminta datang ke butik untuk fitting baju pengantin. Gita sebenarnya sangat malas datang ke butik Mamanya. Karena dia harus datang bersama dengan calon suaminya yaitu Axel.
Sejak pertunangannya sampai hari ini Gita sama sekali tidak pernah bertemu dengan Axel. Begitu juga dengan Axel. Laki-laki itu sudah tidak pernah mengirim pesan ataupun menelepon Gita seperti sebelumnya. Entah apa yang sudah direncanakan Axel setelah sudah sah memperistri Gita nanti.
“Kak, ditunggu Kak Axel di bawah tuh.” Ucap Daniel yang baru saja memasuki kamar kakaknya.
“Ya sebentar lagi aku turun.” Jawab Gita tanpa melihat Daniel.
Beberapa saat kemduian Gita turun. Disana dia melihat Axel sedang terlibat pembicaraan dengan Chandra. Entah mereka berdua sedang membicarakan apa, Gita tidak peduli.
__ADS_1
“Sudah selesai? yuk kita langsung berangkat!” ajak Axel.
Gita hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Tapi semua itu hanya sandiwara. Karena ada Chandra disana.
“Duh senangnya yang mau nikah!” goda Chandra.
Gita hanya mencebik sebal tanpa menjawab ucapan Chandra. Setelah itu dia segera mengikuti langkah Axel.
Sesampainya di dalam mobil, Axel segera melajukan mobilnya menuju butik. Selama itu juga mereka berdua tediam tanpa ada pembicaraan yang berarti.
Jenny menyambut kedatangan Gita dan juga Axel dengan senyum merekah. Wanita paruh baya itu sejak tadi sangat cemas. Jenny takut kalau Gita akan beralasan untuk tidak fitting baju pengantin. Pasalnya selama ini dia juga tidak pernah melihat Gita dan Axel jakan bareng. Jenny sedikit curiga dengan hubungan mereka berdua. Tapi setelah melihat kedatangan Gita dan Axel, Jenny sudah lega.
“Mama kira kalian tidak jadi kesini.” Ucap Jenny berbasa-basi.
“Maaf Tante, tadi Axel yang sedikit telat.” Jawab Axel bohong, walau sebenarnya Gita lah yang mengulur waktu.
“Yuk Ma, jadi fitting baju nggak sih.” Sahut Gita merasa bosan mendengarkan pembicaraan Axel dan Mamanya.
“Iya-iya. Nggak sabar banget yang mau nikah.” Goda Jenny dan membuat Gita semakin kesal.
***
Hari wisuda Gita pun sudah tiba. Gita sudah berdandan cantik untuk acara yang sebentar lagi dimulai. Gita merasakan bahagia akhirnya pendidikan yang sudah ia tempuh selama 4 tahun sudah berakhir. Dia sangat puas dengan pencapaian hasil belajarnya selama ini. dan hal itu tidak luput dari dukungan kedua orang tua dan sahabat-sahabatnya.
Semua keluarga Gita ikut menghadiri acara wisuda itu, termasuk Daniel dan juga Chandra. Bahkan keluarga Felix juga hadir. Walau Gita tidak mengajaknya tapi Mamanya lah yang meminta.
Kini Gita sudah berbaur denga teman-temannya. Gita tidak menyangka ternyata bisa lulus bersama dengan kedua sahabat baiknya. Karena smemang sebelumnya dia mengira kalau Fathia yang akan ikut wisuda pada gelombang selanjutnya, tetapi tidak. Kini ketiga perempuan itu sudah duduk berjejer menanti acara dimulai.
“Enak sekali ya kamu Gita, sekarang wisuda lusa langsung merid. Pekerjaan pun sudah ada di depan mata.” Ucap Fathia.
__ADS_1
“Tapi kita berdua ikut senang kok. Ya nggak, Tia?” sahut Inez dan diangguki oleh Fathia.
Gita hanya tersenyum simpul menanggapi celotehan dua sahabatnya. Memang terkadang yang orang lain lihat tidak seperti kenyataan yang dia rasakan. Buktinya, kedua sahabat Gita menganggap hidupnya sangat sempurna tapi yang dirasakan Gita sangat jauh berbeda.
Inez yang sudah tahu masalah Gita akhirnya ikut senang akhirnya Gita menerima Axel mempertanggung jawabkan perbuatannya. Walau sebenarnya dia tidak tahu apa alasan Gita menerimanya.
Acara pun dimulai. Semua mahasiswa yang mengikuti wisuda juga tampak memancarkan kebahagiaan. Tepuk tangan meriah saat nama Gita disebut sebagai mahasiswa yang mendapat peringkat kumlaud yang mewakili dari fakultas ekonomi.
Gita bahkan tidak menyangka atas prestasi yang ia raih. Kemudian dia maju ke depan untuk menerima piagam penghargaan.
Setelah acara selesai, Gita menemui keluarganya yang sudah menyambut dengan suka cita. Begitu juga dengan keluarga Axel.
“Selamat ya, Sayang. Papa sangat bangga padamu.” Ucap Iqbal memeluk Gita, lalu bergantian dengan Jenny.
“Calon menantu Mama ternyata sangat hebat. Selamat ya, Sayang atas prestasinya.” Ucap Nia memeluk Gita dengan haru. Setelah bergantian dengan Felix.
Kini giliran Axel yang akan memberikan selamat pada Gita. Dia memang tidak membawa apa-apa. Tapi dia ragu akankah dia melakukan hal yang sama seperti kedua orang tuanya yaitu memeluk Gita.
“Selamat ya Gita atas prestasi yang kamu raih!” ucap seseorang sambil membawa sebuket bunga dan diberikan untuk Gita.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1