Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 144


__ADS_3

Seorang pria blasteran berwajah tampan baru saja turun dari pesawat. Pria yang usianya tidak muda lagi tapi wajahnya masih rupawan itu beberapi hari yang lalu baru pulang dari perjalanan bisnisnya di luar negeri. Namun hari ini juga dia harus terbang ke kota B karena ada hal penting yang harus ia kerjakan.


“Ayah sehat?” tanya Chandra saat baru saja menyambut kedatangan ayahnya.


“Ya, ayahmu ini selalu sehat. Kalau nggak sehat, kasihan Mama kamu.” Jawabnya ambigu dan Chandra pun tidak mengerti maksudnya.


“Sudahlah, ayo!” ajaknya kemudian.


Sean Gabriel, ayah sambung Chandra yang dulunya adalah asisten pribadi Papa kandung Chandra adalah seseorang yang dikenal sangat jenius. Sepak terjangnya sudah tidak diragukan lagi semenjak dia menjadi asisten pribadi mendiang bossnya yaitu Billal. Sean seringkali mengungkap kejahatan yang berniat menghancurkan perusahaan besar milik Billal. Jadi, Iqbal sudah sangat yakin kalau Sean mampu mengungkap siapa pelaku yang beberapa kali akan menculik Gita.


“Bagimana kuliah kamu?” tanya Sean saat sedang dalam perjalanan menuju rumah Iqbal.


“Lancar, Yah. Lagi pula masih beberapa bulan masuk.” Jawab Chandra.


Beberapa saat kemudian Chandra dan Sean sudah tiba di kediaman Iqbal. kedatangan Sean disambut baik oleh keluarga Iqbal. walau statusnya bukan saudara secara sah, tapi baik Iqbal dan Jenny sudah menganggapnya saudara.


“Bagaimana kabar kalian? Maaf tidak ikut hadir di acara pernikahan Gita.” Tanya Sean.


“Kami baik. Tidak masalah, kami mengerti kalau kamu memang sibuk.” Jawab Jenny.


Setelah itu Chandra mengajak ayahnya masuk ke kamar tamu dan membiarkannya istirahat. Sedangkan Iqbal kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia tidak memberitahu istrinya tentang maksud kedatangan Sean kesini. Dia mengatakan kalau ada keperluan pekerjaan saja dan akan menginap disini.


Iqbal berencana akan membicarakan masalahnya dengan Sean nanti malam sesuai dengan rencananya. Karena Axel juga masih sibuk di kantor.


***


Hari ini Gita sudah kembali lagi ke kantor untuk bekerja. Meski dia sempat ingin cuti lagi karena masih teringat dengan kejadian malam itu saat di pesta, tapi Axel berusaha meyakinkan kalau semuanya baik-baik saja. Bagi Axel yang terpenting kondisi lingkungan tempat Gita bekerja sangat aman dan nyaman. Walau Gita lebih sering menyendiri.


“Nih!” Axel memberikan sebatang coklat pada Gita.


Gita mengerutkan keningnya saat Axel memberinya coklat. Karena tidak biasanya laki-laki itu memberikan coklat saat mengantar kerja. Biasanya saat pulang kerja Axel baru memberinya, karena menurutnya coklat mampu membuat mood kembali normal pasca bekerja seharian.

__ADS_1


“Kenapa sekarang?” tanya Gita namun tangannya tetap menerima coklat itu.


“Nggak apa-apa. Biar semangat saja kerjanya.” Jawab Axel dengan tersenyum tipis.


“Terima kasih.” Ucap Gita.


“Oh iya, nanti sepulang kerja kamu ke rumah Mama Jenny dulu ya. Aku ada urusan pekerjaan, takutnya pulang hingga larut malam dan kamu akan sendirian.” Ucap Axel.


“Iya. Aku juga merindukan Mama.” Gita menyetujui.


Setelah itu Gita keluar dari mobil dan segera masuk ke kantor. Axel pun melajukan mobilnya menuju kantor. Dalam perjalanan, Axel masih memikirkan Gita. Meski dia bisa merasakan perubahan signifikan pada Gita, terlebih hubungannya sudah ada pertanda baik, tapi Axel masih merasakan kalau keadaan Gita masih tidak baik. Sementara ini dia hanya bisa memberi kenyamanan agar bisa mengembalikan rasa percaya dirinya lagi daripada harus mengajaknya pergi ke psikiater.


***


Sore harinya Axel menjemput Gita seperti biasa. Dan sesuai yang dikatakan oleh Axel tadi, dia langsung mengantar Gita menuju rumah mertuanya. Jenny yang melihat kedatangan anak dan menantunya sangat senang. Lalu mempersilakannya masuk.


“Maaf, Ma. Axel hanya mengantar Gita saja, karena masih ada pekerjaan yng sangat penting.” Ucap Axel.


“Jadi kamu hanya menitipkan anak Mama kesini?” sinis Jenny dengan nada bercanda.


Kini Axel sudah berada di apartemennya. Dia segera mandi karena sebentar lagi akan kedatangan tamu. Ya, tamu itu adalah yang tak lain Papa mertuanya sendiri bersama dengan Sean dan Chandra yang akan menyelidiki kasus penculikan Gita.


Pertemuan penting itu memang tidak bisa dilakukan di ruangan terbuka. Jadi Axel memberi ide agar dilakukan di apartemennya saja, dengan mengungsikan Gita sementara waktu.


Saat ini Iqbal, Sean, dan Chandra sudah berada dalam apartemen Axel. Mereka berempat berbincang cukup serius sebelum membiarkan Sean bergerak.


“Video rekaman cctv sudah Chandra kirim, Yah.” Ucap Chandra yang baru saja mengirim video itu.


Setelah itu Sean segera membuka laptopnya. Laptop itu bukan sembarang laptop. Karena di dalamnya ada teknologi canggih yang mampu mencari sesuatu yang tidak semua orang bisa.


Sean saat ini sedang sibuk mengoperasikan laptopnya. Sedangkan Axel. Chandra dan Iqbal masih menunggunya.

__ADS_1


“Malik Narendra.” Ucap Sean saat menemukan sosok pria yang menjadi kata kunci pencariannya.


Lalu Sean menjelaskan profil Malik dan juga sepak terjangnya di dunia gelap. Malik Narendra adalah pria berusia 63 tahun. Dengan status duda dan mempunyai seorang anak. Malik sejak lama sudah sangat disegani oleh beberapa rekannya yang ikut bekerja di dunia yang sama. Malik tidak bekerja sendirian. Dia mempunyai seorang asisten yang bernama Marco. Jadi dia lebih sering bekerja di balik layar.


Pekerjaan gelap yang sering dilakukan oleh Malik adalah bisnis human trafficking. Dia sering menjual beberapa gadis belia kepada beberapa pria hidung belang dengan harga tinggi. Kebanyakan dia menjual gadis-gadis itu kepada pelanggan yang berasal dari luar negeri. Selain itu, Malik juga menjalin kerjasama dengan salah satu temannya yang ahli dalam bidang penjualan organ tubuh manusia secara illegal.


“Siall!” umpat Sean saat melihat sosok rekan kerja Malik yang tak lain adalah orang yang sangat dikenal oleh Sean. Orang itu dulu hampir menculik Viana, adik kandung Chandra saat masih kecil dan kemungkinan akan menjual organ tubuhnya.


Setelah Iqbal mendengar beberapa penjelasan tentang Malik, dia masih belum bisa menemukan jawaban yang pasti, karena selama ini tidak pernah mengenal sosok Malik. Bahkan wajahnya saja sangat asing baginya.


“Bisakah kamu melacak, siapa saja teman dekat Malik? Karena aku sama sekali tidak mengenalnya. Siapa tahu Malik hanyalah suruhan orang yang aku kenal dan memintanya untuk menculik Gita.” Tanya Iqbal.


Sean pun kembali melakukan pencariannya. Meskipun dia sangat jeli, namun dia juga masih mempunyai sedikit kelemahan. Hal itu dikarenakan Malik yang sangat pandai menutupi semua kejahatannya. Dia juga mempunyai ahli IT yang selalu bertugas meretas setiap kamera cctv dimana setelah ada tindak kejahatan yang dilakukan oleh Malik.


“Marvin” Sean mengucapkan satu nama lagi dan sontak saja membuat Iqbal sangat terkejut.


“Marvin adalah sahabat baik Malik sejak dulu. Apa kamu mengenal orang ini?” tanya Sean dan Iqbal mengangguk.


“Apa benar dalang di balik semua ini adalah Marvin?” gumam Iqbal.


Sudah lama sekali Iqbal tidak pernah mendengar kabar tentang Marvin yang tak lain adalah ayah Danisa. Semenjak kebangkrutan perusahaannya dulu, Iqbal sudah tidak lagi mengetahui keberadaannya.


“Disini informasi yang tertera memang Malik bershabat dengan Marvin. Tapi aku tidak bisa mencari keberadaan Marvin saat ini. kalaupun memang dia adalah terduga pelaku itu, sepertinya Malik sedang menyembunyikan pria itu.” Ucap Sean.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Yang penasaran kenapa Billal meninggal? semua itu adalah rahasia ilahi😂😂✌️. insyallah nanti akan ada novel ttg kisah Lidya.. tunggu aja ya😁😁🤗


Happy Reading‼️


__ADS_2