Suami Yang (Tak) Dianggap

Suami Yang (Tak) Dianggap
Eps 154


__ADS_3

Tubuh Malik seketika lemas setelah mendengar sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Yaitu tentang masa lalunya.


Jika benar menurut informasi yang diberitaahukan oleh pengacaranya, bahwa Dimas adalah anak dari Marissa Prasetyo. Berarti Dimas adalah darah dagingnya, anak kandungnya bersama Marissa. Wanita yang berstatus sebagai istri sahnya, dan satu-satunya wanita yang sangat dia cintai.


Karena kedua orang tua Marissa tidak menyetujui pernikahannya hingga saat itu Malik diusir dari rumahnya dan dipaksa bercerai.


Saat itu Malik tidak bisa bertemu dengan istrinya karena sengaja disembunyikan oleh ibu mertuanya. Namun Malik berjanji akan kembali lagi pada Marissa saat dirinya sudah sukses. Namun kenyataan pahit ia terima, karena menurut informasi semua keluarga Prasetyo pindah ke luar negeri dan dirinya tidak bisa menemukan jejaknya.


Namun dengan informasi yang baru saja Malik dapat dari Raihan, bahwa Marissa menitipkan anak ke panti asuhan. Itu bebrarti Marissa tidak benar-benar pindah ke luar negeri.


“Marissa! Dimas! Jika benar kamu anakku, itu berarti aku telah membunuh darah dagingku sendiri.” Gumam Malik.


“Tuan, anda baik-baik saja?” tanya Raihan.


“Tidak. Aku minta kamu awasi laki-laki yang bernama Dimas. Bagaimana keadaanya saat ini, pasca operasi.” Perintahnya sebelum beranjak meninggalkan Raihan.


“Baik, Tuan.” Jawab Raihan dengan tegas.


***


Sudah dua hari ini Axel masih dirawat di rumah sakit. Kondisi kesehatannya belum sepenuhnya membaik. Dia masih saja mencari istrinya, namun Nia selalu mengalihkan perhatiannya kalau Gita akan menemuinya saat dia sudah diperbolehkan pulang. Axel yang masih lemah pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain menurut dengan ucapan Mamanya.


Sementara itu Felix harus kembali ke perusahaannya. Karena memangg sedang sangat sibuk dengan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai. Dia ingin sekali menanyakan keadaan Gita pun jadi terlupakan. Felix masih belum menyadari kalau semua kontaak ponsel keluaraga Iqbal sudah diblokir oleh istrinya. Karena memang dia berniat mendatangi langsung rumah Iqbal. karena setahu dia Gita sudah keluar dari rumah sakit.


Tok tok tok


Ketukan suara pintu mengalihkan sejenak kesibukan Felix di depan layar laptopnya. Dia langsung menyuruh masuk pada orang tersebut.


“Maaf, Tuan. Ada Tuan besar ingin bertemu dengan anda.” Ucap Anton, sekretarisnya.


“Baiklah, persilakan Papa masuk.” Jawab Felix.

__ADS_1


Setelah itu Anton keluar dan memanggil Tuan Besar, yang tak lain adalah Papa Felix. Felix sedikit heran dengan kedatangan Papanya pagi ini, kalau tidak ada hal penting yang harus dibicarakan.


Beberapa saat kemudian, Papa Felix sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Begitu juga dengan Felix, dia duduk di depan Papanya.


“Apa ada hal penting yang membuat Papa harus datang sendiri kesini pagi-pagi?” tanya Felix.


“Perusahaan Papa yang ada di luar negeri sedang ada masalah. Papa minta kamu pergilah kesana, karena hanya kamu yang bisa mengatasinya.” Ucap Tuan Adyatma.


“Tapi, Pa. Papa tahu sendiri kalau saat ini Axel sedang-“


“Papa tahu, dan saran Papa lebih baik kamu juga mengajak Dania dan Axel untuk tinggal disana. Axel juga biar mendapatkan perawatan yang lebih bagus di rumah sakit luar negeri.” Tuan Adyatma memotong cepat perkataan putranya.


“Pa, Axel memang sedang sakit. Tapi dia juga mempunyai istri. Felix tidak bisa membawanya pergi begitu saja. Lagi pula masih ada Kevin yang bisa pergi kesana, tidak harus Felix.” Tolak Felix.


“Sudah Papa katakan, bukan? Hanya kamu yang bisa mengatasinya. Kamu tahu sendiri kalau saat ini istri adik kamu itu sedang hamil tua. Jadi persiapkan diri kamu dan segera urus kepindahan cucuku ke rumah sakit di luar negeri agar cepat sembuh.” Jawab Tuan Adyatma, setelah itu pergi meninggalkan ruangan Felix.


Felix bingung dengan masalah yang menrpa dirinya saat ini. di satu sisi perusahaan Papanya sedang membutuhkan dirinya, di sisi lain dia kasihan dengan keadaan Axel yang sejak sadar terus mencari istrinya. Tiba-tiba Felix teringat, kalau dia akan mencari tau kabar tentang Gita sebelum mendatangi rumah besannya.


Drt drt drt


Tiba-tiba ponsel bergetar dan ada panggilan dari istrinya yang saat ini sedang berada di rumah sakit menjaga Axel.


“Iya, Sayang ada apa?” tanya Felix.


“…..”


“Baiklah, aku akan ke rumah sakit saat ini juga.” sahut Felix setelah itu mengakhiri panggilannya.


Beberapa saat kemudian Felix sudah tiba di rumah sakit. Dia menjumpai istrinya sedang menangis di luar ruang rawat Axel. Tanpa bertanya terlebih dulu, dia segera memeluk istrinya dan menenangkannya.


“Katakan. Apa yang terjadi dengan anak kita?” tanya Felix.

__ADS_1


“Mas, sejak tadi Axel tidak mau makan sama sekali. Dia terus mencari Gita. Dan baru saja dokter memerika keadaannya kembali drop. Harusnya otaknya belum bisa dipakai untuk memikirkan sesuatu yang berat. Apa yang harus kita lakukan, Mas?” tanya Nia.


Felix masih terdiam. Apakah ini kesempatan buat dirinya untuk menyetujui perintah Papanya tadi. lagi pula saat ini juga dia tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang Gita. Mungkin nanti akan mencari seseorang untuk menggali informasi tentang keluarga besannya. Dan saat ini yang terpenting adalah kesehatan anaknya.


“Kita bawa Axel berobat ke luar negeri.” Jawab Felix mantap.


“Sekarang lebih baik kita urus beberapa administrasi kepindahan Axel.” Lanjutnya.


Nia akhirnya lega setelah suaminya memutuskan membawa Axel berobat ke luar negeri. Karena beberapa saat yang lalu dia sudah menghubungi mertuanya dan meminta bantuan agar menyuruh suaminya pergi ke luar negeri mengurus perusahaannya yang ada di sana. Nia memang sengaja ingin mencarikan pengobatan terbaik buat anaknya. namun dia juga ingin menjauhkan Axel dengan Gita.


Bukannya Nia jahat pada anak dan menantunya, hanya saja itulah yang menurutnya pilihan terbaik. Buat apalagi mempertahankan sebuah hubungan jika hanya salah satu pihak saja yang mencintai. dan semoga keputusannya benar, tanpa memberitahu suaminya terlebih dulu.


Beberapa saat kemudian, Felix mengajak istrinya untuk datang ke apartemen Axel. Dia membutuhkan beberapa berkas untuk kelengkapan keberangkatan Axel nanti malam ke luar negeri.


Nia menunjukkan pada suaminya tentang kamar anak dan menantunya yang terpisah. Bahkan baju-baju mereka tertata rapi di kamar masing-masing. Felix melihatnya begitu terkejut. Dia sedih selama ini tidak tahu menahu tentang rumah tangga anaknya.


“Mas sekarang sudah tahu sendiri, bukan?” tanya Nia dan Felix mengangguk.


“Nanti kalau keadaan Axel sudah membaik, perlahan aku akan memintanya untuk menceraikan Gita saja. Bukannya aku membenci Gita, Mas. Hanya saja anak kita yang semakin terluka jika cintanya tidak pernah terbalas.” Ucap Nia.


Felix tidak mampu berpikir lagi. Sekrang yang terpenting adalah kesehatan anaknya. untuk masalah hubungan rumah tangga anak dan menantunya, mungkin nanti dia akan mencari solusinya tanpa ada perceraian.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2