
Makan malam kali ini semakin ramai dengan bocil yang bertambah satu. Mereka semakin akrab meskipun baru beberapa jam yang lalu berkenalan.
"Kamu makan sendiri dulu Wardah, biar Mama yang nyuapin Inayah," ujar Mama.
"Nggak papa Ma, biar Wardah aja yang nyuapin," tolak Wardah.
"Kalau di rumah Inayah juga makannya sama Wardah kok Ma," sambung Eza.
Mama manggut-manggut menanggapi anaknya. Dengan telaten Wardah menyuapi Inayah. Di sampingnya ada Dinda yang disuapi juga oleh Mbak Winda.
🌼🌼🌼
Malam ini cuaca tampak mendukung untuk melakukan sesi barbeque di taman rooftop. Karena esok hari mereka akan segera kembali ke Jombang untuk melihat dekorasi yang sudah dihandle Caca. Mama dan Mbak Winda nantinya yang bertugas memoles dekorasi itu.
Kini Wardah tengah menyiapkan daging-daging beserta perintilannya seperti sosis, dan yang lainnya. Yang lainnya menyiapkan tempat di atas.
"Gua nggak nyangka ternyata elu janda," celetuk Dea yang tiba-tiba muncul menghampiri Wardah di dapur.
"Ada yang salah dengan janda? Toh itu bukan pilihan mereka untuk menjadi janda," jawab Wardah dengan santainya.
"Hahaha, janda aja belagu! Kasihan Mas Eza yang masih ting-ting dapet elu yang udah jadi bekas orang lain," sarkasnya.
"Kamu nggak tahu apa-apa tentang saya, jadi jangan sok tahu," jawab Wardah kemudian meninggalkan penyihir itu.
Mbak Winda membantu Wardah yang datang dengan nampannya. Mereka mulai memanggang daging dengan sosis itu. Sedangkan para laki-laki tengah asik mengobrol sembari membakar jagung yang Papa panen dari kebun di belakang rumahnya.
"Nanti setelah barbeque Mbak mau ngobrol berdua sama kamu," ujar Mbak Winda.
"Iya Mbak," jawab Wardah.
Inayah dan Dinda tampak berlarian saling kejar dengan tawa bahagia mereka. Wardah senang sekali melihatnya. Untung saja sang ponakan tak rewel.
Wardah juga membuatkan untuk anak-anak kecil itu. Menyuapi mereka satu persatu sembari mengikuti kemana pun mereka berjalan.
__ADS_1
"Ini Pama suapi, kamu juga harus makan sayang... Bukan hanya Inayah dan Dinda," ujar Pama menyuapi Wardah.
Wardah tersenyum haru kemudian menerima suapan Papa. Papa benar-benar perhatian sekali..
"Cucu-cucu Papa sini duduk. Kita makan di sini, ndak baik makan dengan lari-larian," ujar Papa.
Sontak Dinda dan Inayah duduk di sebuah lesehan yang sudah disiapkan Mama dan Mbak Winda tadi. Wardah memberikan 1 piring dengan dua sendok untuk mereka. Membiarkan mereka makan sendiri. Sedangkan Papa sesekali masih menyuapi Wardah sembari mengobrol.
"Ini," ujar Eza memberikan jagung hasil bakarannya.
"Papa nggak dikasih?" tanya Papa.
"Hahaha, sebentar bos!" jawab Eza kemudian beranjak.
"Papa coba jagungnya deh!" ujar Wardah menyodorkan jagung pada Papa. Berniat untuk menyuapi.
Dengan senang hati Papa menerimanya kemudian menggigit jagung itu. Mereka tertawa girang saat mayonaise menghiasi sudut bibir dengan pipi Papa.
Papa tampak mencoba menghilangkan saos itu, tapi tak bisa. Alhasil Wardah membantu Papa mengambil selenbar tisu, kemudian mengusap bersih pipi beliau.
"Nah... Opa udah ndak cemong kayak Dinda lagi," ujar Wardah.
Mama yang sedang bersama Mbak Winda dan Dea tampak memperhatikan cucu, suami, dan calon menantunya itu. Senang sekali melihat raut bahagia dari keluarganya. Wardah mampu mengambil hati suaminya dengan baik. Dengan sekejap, sang suami sudah sangat sayang dengan Wardah.
"Anak Papa bukan aku lagi sepertinya," celetuk Eza.
"Hahaha, Wardah memang pintar mengambil hati Papa dan Mama. Jangan sekali-kali kamu sia-siakan dia," jawab Mas Rio.
"Sepertinya Wardah juga sudah mengambil hati kakak iparku," celetuk Eza lagi. Mas Rio hanya terkekeh mendengar jawaban adik iparnya kemudian melanjutkan membakar jagung.
🌼🌼🌼
Acara barbeque berakhir saat Dinda dan Inayah mulai perang dunia. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Sepertinya anak-anak itu sudah mengantuk.
__ADS_1
Tiba di dalam rumah, mereka kembali ceria dengan rengekan Dinda yang ingin menonton barbie. Akhirnya Mama menemani anak-anak itu bersama Dea yang tampak bosan. Pap, Eza, dan Mas Rio masih bertahan di atas. Mereka belum puas tampaknya.
Wardah dan Mbak Winda sudah duduk berdua di pinggir kolam.
"Apa benar, kamu sudah menikah sebelumnya?" tanya Mbak Winda setelah tadi berbasa-basi.
"Iyaa Mbak," jawab Wardah.
"Kamu nggak kasihan sama Eza? Masak iya, Eza yang masih perjaka harus dapat kamu yangg," ucapan Mbak Winda terpotong.
"Saya masih perawan Mbak," jawab Wardah spontan.
Tampak Mbak Winda bingung mendengar jawaban Wardah. Bagaimana bisa?
"Mas Eza sudah tahu kisah pernikahan saya sebelumnya yang memang tak berjalan dengan semestinya... Tapi sepertinya dia juga belum tahu, jika sebenarnya saya ini masih perawan... Saya sudah sangat bersyukur ada laki-laki yang mau menerima saya tanpa melihat status saya. Awalnya saya sudah menolak perasaan Mas Eza karena sempat trauma dengan pernikahan pertama saya, tapi dia terus berusaha mengambil hati saya. Bukan hanya saya, tapi juga Bunda dan Kakak saya. Dia sukses dengan itu semua. Bahkan dia yang membujuk saya supaya tidak terpuruk dengan status janda. Meski sebenarnya orang-orang akan sulit percaya jika saya mengatakan bahwa saya sama sekali tak disentuh oleh mantan suami," sambung Wardah panjang lebar dengan menunduk.
"Kenapa kamu tidak meyakinkan mereka dengan tes keerawanan?" tanya Mbak Winda.
"Saya ingin memiliki pendamping yang benar-benar menerima saya apa adanya Mbak... Anggap saja sebagai kejutan saat malam pertama. Hahaha, konyol sekali," jawab Wardah dengan tawa garingnya.
"Bagaimana jika media tahu jika kamu pernah menikah sebelumnya?" tanya Mbak Winda.
"Hadapi, itu pilihan hidup Eza! Bukan urusan netizen," celetuk Eza yang tiba-tiba datang.
Sontak Wardah dan Mbak Winda terkaget-kaget.
"Kenapa kalian terlihat cemas seperti itu?" tanya Eza.
"Sejak kapan Mas Eza di situ?" tanya Wardah.
"Barusan, waktu Mbak Winda tanya....
...Bersambung ...
__ADS_1