Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lanjuut


__ADS_3

Pagi ini Wardah dan Eza tengah bersiap untuk jalan-jalan menikmati pemandangan kota Padang. Beberapa waktu lalu Eza telah menjelajahi wisata di kota Padang ini menggunakan bantuan Mbah Go*gle. Pilihannya tertuju pada pantai di ujung Barat Pulau Sumatra itu. Ia juga meminta pendapat Fiona selaku masyarakat asli Padang.


Beruntung Fiona tahu destinasi wisata pantai yang paling bagus di kotanya. Kini Eza dan Wardah sudah berada di mobil untuk menjemput Fiona. Hendak melajukan mobilnya tiba-tiba seorang perempuan menghadang mereka. Ternyata Bu Arumi. Ia sudah membawa bag sedang dan juga tas selempang. Jangan lupakan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya juga. Eza dan Wardah bahkan lupa jika orang itu akan ikut menemani perjalanan mereka.


Wardah menghembuskan nafasnya berat. Moodnya kacau seketika. Eza mengelus lembut punggung tangan Wardah merasa tak enak. Ia bahkan juga lupa jika ada orang lain lagi selain Fiona.


"Ay, maaf ya... Mas juga lupa kalau Mbak Arumi mau ikut." ujar Eza.


"Nggak papa, kita atur rencananya seperti yang kemarin Mas. Awas kalau macam-macam sama orang gatal itu!" jawab Wardah dengan ancamannya tak tertinggal.


"Tenang, Mas macam-macamnya sama kamu aja kok," ujar Eza mengangkat jemari tangan Wardah dan mencium punggung tangannya.


"love you to the moon and back," lirih Eza.


"love you more," balas Wardah.


"Mari mbak Arumi, silahkan masuk!" ujar Eza membuka jendela kaca di sampingnya.

__ADS_1


Arumi tersenyum menanggapi Eza dan menyapa sebentar. Barulah ia masuk ke dalam mobil. Eza melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Fiona. Wardah membantu Eza mengatur navigasi di mobilnya berdasarkan alamat yang dikirimkan Fiona.


Di mobil hanya ada percakapan antara Wardah dan Eza membahas mengenai keluhan masing-masing mengenai pekerjaan mereka. Sedangkan Arumi tampak menyimak perbincangan pasutri itu tanpa ikut nimbrung. Kehendak hati ingin ikut nimbrung, tapi ia tak tahu mengenai pembahasan dua orang di depannya itu.


"Enak ya Pak punya pasangan satu kantor?" ujar Arumi saat Wardah dan Eza berhenti berbincang.


"Alhamdulillah Mbak, kita jadi sering bersama," jawab Eza.


***


Singkat cerita, setelah perjalanan kurang lebih lima belas menit kini Fiona sudah bergabung dengan mereka di dalam mobil. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Sudah kak, tadi ibu nyuruh sarapan sebelum berangkat," jawab Fiona.


"Saya juga sudah," jawab Arumi.


"Mas, mau sarapan sekarang?" tanya Wardah.

__ADS_1


"Boleh," jawab Eza.


Wardah mengambil bekal yang sempat ia siapkan di resort tadi.



Wardah sempat menyiapkan makanan setelah selesai menyiapkan perlengkapannya dengan Eza tadi.


"Wiiihh, kimbab? Kak Wardah ternyata pinter masak ya?" tanya Fiona spontan.


"Enaknya jadi Pak Eza, dimasakin enak-enak terus sama Kak Wardah," sambungnya berdecak kagum.


Pasalnya baru kali ini ia melihat makanan khas Korea itu secara langsung. Wardah dan Eza terkekeh melihat ekspresi mahasiswi itu.


"Enak banget Fi, perut terjamin kebahagiaan pun terjamin, haha" jawab Eza.


"Kamu bisa belajar memasak juga Fiona," ujar Wardah sembari menyuapi suaminya yang tengah menyetir.

__ADS_1


Perjalanan mereka cukup panjang kali ini. Membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di pantai yang mereka tuju. Wardah menyuapi Eza dan sesekali juga menyuapi dirinya sendiri. Tampak Fiona asik menjelaskan monumen atau tempat yang mereka lewati kepada Wardah dan Eza. Sedangkan Arumi lebih banyak diam melihat pemandangan yang ada di sampingnya. Tiba-tiba dirinya merasa tak nyaman di sini.


...Bersambung ...


__ADS_2