Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Penampilan Memukau


__ADS_3

Up ke-2 yaa....


Setelah briefing dan menyapa santri sebentar, saatnya mereka untuk bersiap keluar. Kini saatnya Wardah dan yang lainnya unjuk kemampuan di hadapan Bapak Presiden dan para Masyayikh. Dimulai dari Wardah dan Ning Vida yang hadir terlebih dahulu, menyambut para santri dengan jumlah kurang lebih 900 santriwan dan santriwati memasuki lapangan yang luasnya masyaallah ini. Lantunan sholawatlah yang memandu para santri menempati tempat mereka masing-masing. Setelah semua telah lengkap barulah lantunan nadhom Alfiah bergerumuh menyejukkan hati tiap umat yang mendengarkan. Dihiasi dengan beberapa Gerakan ringan kreasi, menambah penampilan mereka yang kompak semakin menarik dan sukses menyihir mereka yang menyaksikan baik itu secara online maupun offline.


Bahkan beberapa kali Bapak kita tercinta dan jajarannya sesekali juga menirukan Gerakan-gerakan simple itu. Membuat para santri semakin bersemangat melantunkannya. Alhamdulillah kerja keras mereka berlatih sedemikian rupa sukses memuaskan para pendengar. Lantunan nadhom Alfiah tak diambil semua. Bisa sampai esok hari melantunkan 1000 bait sekaligus. Jadilah para santri hanya melantunkan beberapa bait saja. Setelah itu disusul oleh penampilan kreasi sholawat nabi yang pimpin langsung oleh Ning Vida dan Wardah.


Dapat dipastikan beberapa saat lagi pasti notif di gawai Wardah akan lebih banyak dari biasanya. Penampilan ini pasti sangat mengejutkan bagi mereka yang mengenal Wardah. Tak ada angin taka da hujan tiba-tiba ia hadir di layar tv Indonesia bahkan dunia ikut memeriahkan acara harlah 1 abad ini. Apalagi keluarga yang ada di Jakarta juga takt ahu jika ternyata Wardah menjadi salah satu pusat perhatian dalam lantunan nadhom dan sholawat saat ini. Boro-boro keluarga Jakarta, Kak Yusuf dan istrinya pun yang kini hadir di lokasi juga baru tahu jika adiknya ikut tampil.


“Kenapa nggak bilang kalau ikut penampilan?” tanya Kak Aisyah pada Eza. Yang kebetulan duduk di stand juga.


“Dadakan Mbak, semalam latihan pertama sekaligus gladi. Diminta sama Ning Vida dan Umi-nya, jadi juga nggak enak kalau Nolak,” jelas Eza.


“Mbak juga bakalan nggak setuju kalau Wardah sampai nolak, kesempatan emas ikut memeriahkan harlah 1 abad, bukan main-main ini sakralnya,” sambung Kak Aisyah lagi.


“Iya Mbak bener, pertimbangan Wardah semalam kan takut kalau nggak bisa maksimal. Takut kalau mengecewakan audiens bahkan Ning Vida sendiri. Mengingat ini hanya Latihan sekali.” Jawab Eza.


“Tapi bukan Wardah Namanya kalau nggak bisa, dia pasti akan memberikan yang terbaik meski dengan sedikit was-was,” sambung Eza.

__ADS_1


“Iya Za, kamu bener,” jawab Kak Yusuf yang kini menggendong Sakha yang asik menikmati buah apel ditangannya.


Setelah penampilan selesai, Wardah ditagih jumpa fans oleh mbak-mbak santri. Mau tak mau Wardah menyetujuinya. Tapi tak saat ini juga. Tak mungkin mereka akan berbincang ditempat berkumpulnya jutaan manusia seperti ini. Apalagi Wardah belum selesai dengan pekerjaannya. Wardah harus kembali liputan. Akhirnya Eza yang merupakan suami sekaligus manager-nya menyiapkan jadwal untuk istrinya menyapa para penggemar.


Menjelang zuhur, setelah beberapa penampilan yang sangat memukau, barulah waktunya untuk ishoma (istirahat sholat makan). Ning Vida berbondong-bondong menghampiri Wardah. Mengajaknya untuk menemui Bapak Presiden. kata Abi beliau Pak Presiden ingin menyapa sebentar. Betapa terkejudnya Wardah mendapatkan berita itu. Jika Wardah hendak bertemu Presiden, Eza tak kalah juga ternyata. Ia diminta Abah Fadhoil yang juga jajaran tamu penting untuk menemuinya. Sudah pasti satu paket pula dengan jajaran tamu penting lainnya.


“Ya Allah Ning, kenapa kok repot-repot lari-lari sendiri nyamperin kulo? Kan bisa nyuruh yang lain,” ujar Wardah sembari mereka berjalan beriringan menuju aula tempat berkumpulnya para masyayikh untuk istirahat.


“Sebenarnya kulo itu pingin gendong Sakha Ning,” jawab Ning Vida malu-malu.


“Ya Allah, ya monggo Ning, silahkan.” lagi-lagi Wardah speeclesh mendengar tuturan random Ning Vida.


Ning Vida sudah berjalan terlebih dahulu. Wardah tampak ragu hendak menemui orang nomor satu di negara ini. Eza sendiri merasakan kegugupan istrinya. Tampak pelukan dilengannya semakin lama semakin mengencang dengan getaran ringan menyertainya. Eza mengelus lembut punggung tangan Wardah yang memeluk lengannya memberi ketenangan. Seolah berbicara, tenang, semua akan baik-baik saja, semua akan lancer.


Mereka keluar dari stadion dan berjalan sebentar hingga tiba salah satu aula di dekat Gor. Memasuki pintu megah aula mereka dapat melihat para masyayikh dan beberapa tokoh penting pemerintahan tengah berbaur dengan asiknya tanpa mengurangi tatakrama khidmad satu sama lain. Sangat menyejukkan hati. Wardah terus mengikuti Eza menyapa beberapa orang di sana. menemui Abah Fadhoil terlebih dahulu tentunya. Karena tujuannya ke mari adalah dipanggil oleh beliau. Sunggung sangat beruntung, bertepatan dengan Abah Fadhoil yang sedang berbincang dengan Bapak Presiden. Sakha sudah digendong kembali oleh Eza. Kesempatan seperti ini tak boleh disia-siakan. Kesempatan Eza meminta doa dari para ulama’ untuk Sakha. Ngalap Barokah istilah yang biasa dikenal.


“Za! Reneo!” panggil Abah Kyai setelah melihat keberadaan Eza.

__ADS_1


(Za! Sinio!)


Sembari menggendong Sakha dan menggenggam jemari istrinya, Eza menghampiri beliau dan para rombongan. Karena hanya para Bapak-Bapak, Wardah hanya menyapa sebentar. Sekaligus menyapa Bapak Presiden yang tadi ingin bertemu dengannya. Sedikit perbincangan ringan dan beberapa swafoto bersama beliau dan beberapa tokoh agama dan jajaran pemerintahan, Wardah pamit undur diri untuk bergabung bersama Ning Vida dan yang lainnya. Sakha masih bersama Eza untuk meminta barokah doa dari para Kyai.


Menemui Ning Vida dan Umi-nya yang tak jauh dari sana, Wardah kembali diharuskan untuk menyapa para keluarga pesantren yang ada di sana. Untuk tempat laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh satir. Wardah ditunggu Ning Vida untuk ikut bergabung bersama para akhwat.


“Gimana Ning ketemu sama Bapak Presiden?” tanya neng Vida penasaran.


“Gugup banget Ning, Ya Allah…” jawab Wardah.


“Ning, pliiss jangan panggil kulo Ning, nanti saya gabung sama Bunyai-Bunyai dan Ning di sana dikiranya kulo keluarga pesantren lagi,” pinta Wardah.


“Lhoo, perasaan saya sudah pernah jawab permintaan yang sama lhoo, kulo dulu tahu-nya njenengan anaknya Abah Munif, soalnya kemana-mana pasti sama beliau. Jadi kulo sama Umi kebiasaan nyebut njenegan Ning…” jawab Ning Vida.


“Tetep aja Ning, ini bisa jadi kesalahpahaman besar nanti,” bela Wardah lagi.


“Ya udah, gini aja Ning… Panggil kulo nama aja, panggil Wardah aja, jangan ada embel-embel Ning atau apalah,” sambung Wardah lagi frustasi.

__ADS_1


Ning Vida tertawa mendengar permohonan Wardah. Dan akhirnya ia menyetujuinya. Kasihan terus merengek.


...Bersambung...


__ADS_2