Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
CCTV PENGINTAI?


__ADS_3

*TING!


Beberapa saat kemudian, satu notif di gawai Eza berbunyi. Tapi tak dihiraukannya dan memilih untuk mengikuti Wardah yang sudah terlelap.


Hingga merdunya suara azan Faiz membangunkan Wardah yang sejujurnya masih nyaman dalam dekapan Sang Suami. Jemari lembutnya mengusap lembut pipi Eza dengan kecupan harian yang tak pernah terlewatkan.


“Mas, subuhan yuk,” ujar Wardah.


Sayup-sayup Eza membuka matanya. Pemandangan indah yang selalu ia dapatkan setiap hari.


“Emmhh, masih pengen meluk kamu... Kita sholat jamaah di kamar aja ya,” jawab Eza yang kembali mendusel pada istrinya.


“Zaa! Ezzaa! Deekk!” tak berselang lama gelegar panggilan Mama mulai nyaring memanggil.


Ting!


Satu notif kembali masuk ke dalam gawai Eza. Wardah beranjak untuk membukakan pintu dan memberitahu Mama jika ia dan Eza akan sholat di kamar.


Eza meraih gawainya. Ia ingat jika tadi malam juga ada notifikasi juga. Siapa tahu hal penting dari kantor. Raut wajahnya berubah seketika setelah melihat pesan itu. Eza menelisik memeriksa setiap sudut kamarnya mencari titik sesuatu.


“Mas, aku ke kamar mandi dulu yaa?” ujar Wardah.


“Sayang, kamu pakai jilbab dulu yaa, selama di kamar pakai jilbab dulu. Mas mau memastikan sesuatu.” Ujar Eza, mencegah Wardah masuk ke kamar mandi.


“Ada apa Mas? Mau zoom meeting?” tanya Wardah kebingungan. Pasalnya sekarang masih terlalu pagi untuk itu.


“Nanti Mas jelasin, sekarang kita sholat dulu,” jawab Eza.

__ADS_1


Ia juga mengecek kamar mandi mereka. Seluruhnya, tanpa terkecuali. Setelah dirasa aman, barulah Wardah diperbolehkan masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Wardah masih diam merenung di hadapan kaca besar yang memantulkan dirinya. Sebenarnya suaminya tadi kenapa? Sadar dengan lamunannya yang tak akan berujung, akhirnya Wardah memilih untuk cepat-cepat membersihkan dirinya. Biarlah nanti suaminya yang menjelaskan pada dirinya,


Sedangkan Eza di kamar tengah menelisik setiap sudut dan celah tengah mencari sesuatu. Tapi sepertinya nihil. Matanya terus menelisik, hingga tibalah di jendela kaca kamar yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Mata Eza begitu jeli untuk menelisik bagian luar pula. Hingga terfokuskan pada sebuah tanaman keluarga palem. Sebuah cahaya merah kerlap-kerlip dari sana. Ciri khas sebuah kamera pengintai. Eza baru sadar jika semalam ia dan Wardah lupa tak menutup gorden kamar mereka. Bukan lupa, tapi memang biasanya tak pernah menutup gorden itu agar bisa menikmati gemerlap bintang di langit.


“Mas! Ngapain?” tanya Wardah menepuk pundak suaminya.


“Ayaang, kaget akunya,”


“Lhaa habisnya ngelamun aja dari tadi, lihatin apaa?” tanya Wardah.


“Nanti aku kasih tahu. Mas mau ambil wudhu dulu,” jawab Eza yang langsung melipir ke kamar mandi, sekaligus menutup gorden yang terbuka tadi.


‘’Pasti gitu! Senengnya buat orang penasaran ajah! Malesin banget, tapi gemesinn, hihihi’’ gerutu Wardah sembari menyiapkan perlengkapan sholat mereka.


Setelah selesai sholat dan lalaran Al-Qur’an dengan disimak Eza, Wardah membuka semua gorden yang masih tertutup rapat.


"Sayang, coba deh kamu lihat itu,"


“Kamu ngelihat arah mana sih Ay?” tanya Eza gemas.


“Arah genteng? Arah pagar? Pohon? Yang manaa?” jawab Wardah tak yakin.


“Huufft, sini-sini, tak tunjukin... lihat arah pohon palem yang buat panjat pinang biasanya... di sana ada kerlip-kerlip merahkan Ay? Ada nggak?” jelas Eza.


“Ooohhh, iya-iya! Itu kayak cctv nggak sih Mas? Tapi sejak kapan ada di situ? Terus kenapa kok arahnya ke sini?” tanya Wardah mulai mengerti.


Eza mengajak Wardah untuk duduk di sisi tempat tidur. Menjelaskan semua kronologinya. Wardah tercengang dan mulai panik wajahnya mengetahui hal itu. Ia bahkan sering melepas jilbabnya saat di kamar.

__ADS_1


“Berarti kemungkinan besar, pelakunya ada di acara kemarin malam?” tanya Wardah memastikan.


“Iyaa, mas mau ke bawah ngelepas kamera pengintai itu,” ujar Eza.


“Nanti ada di dalam kamar kita juga Mas?” tanya Wardah, parno.


“InsyaAllah nggak ada. Sudah Mas cek seteliti mungkin.”jawab Eza menenangkan.


Eza bergegas turun ke bawah, tak lupa mengganti outfitnya terlebih dahulu. Pagi ini ia siap panjat pinang. Turun di bawah, ternyata di sana ada Papa yang tengah menonton berita pagi di tv. Kesempatan bagus untuk memberitahu.


###


Eza sudah meluncurkan aksinya dibantu oleh Mang Dadang dan ada Papa juga di sana. Wardah masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk orang-orang rumah bersama Mama dan Si Mbok. Mama yang sudah tahu pun tak henti-hentinya mengintrogasi Wardah dengan pertanyaan-pertanyaan terkait cctv itu. Bahkan Papa juga sudah memeriksa ruangan kontrol cctv. Jangan sampai orang yang sangat terobsesi dengan anak menantunya itu berbuat di luar nalar. Dalam cctv tak ada gerak-gerik mencurigakan. Sayangnya tak ada cctv yang mengarah pada taman yang ada di sisi kamar Eza dan Wardah.


“Tunggu! Siapa orang ini?” Papa melihat sosok yang mengenakan pakaian serba hitam.


Benar! Pasti itu orangnya. Tapi ia mengenakan penutup kepala. Sepertinya memang telah direncanakan. Orang itu tampak terstruktur dalam menjalankan aksinya.


“Mulai hari ini seluruh akses keluar masuk pekarangan rumah harus dijaga! Pintu paling belakang juga harus dijaga! Jika kurang anggota, langsung buat laporan,” ujar Papa.


“Siap Pak! Anggota kita masih cukup banyak Pak!” jawab ajudan pemimpin bagian keamanan.


Turun dari pohon, Eza langsung mematikan kamera itu. Setelah beres, Eza dan Papa langsung ke ruang makan. Ternyata semuanya sudah berkumpul di sana.


“Mbok, mulai hari ini akan ada penambahan penjagaan di pintu-pintu yang biasanya ditutup. Jadi, minta tolong mulai hari ini siapkan hidangan untuk mereka juga ya,” ujar Papa.


“Nggeh, siap Pak!” jawab Si Mbok yang kemudian ke belakang.

__ADS_1


Si Mbok merupakan pekerja terlama di rumah ini. Bahkan sejak Papa dan Mama baru menikah. Si Mbok benar-benar mengabdikan dirinya untuk bekerja di sini. Sesekali ia pulang jika hari raya, tapi terkadang anak-anaknya yang berkunjung ke sini. Si Mbok sudah tidak punya suami, anak-anaknya 2 dan masih sekolah di kampung halamannya.


...Bersambung...


__ADS_2