Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Muualu


__ADS_3

...Maaf-Maaf baru up! Dari hari minggu jaringannya seperti hidup segan mati tak mau. Jadinya Lhu-Lhu bingung mau update gimana. Mana tugas belum kekirim. Ditambah dengan tanggungan novel yang muter-muter terus. Puusreeenggg! ...


Sayup-sayup Wardah menyelesaikan dengan cahaya sekitar. Matanya tertuju pada wajah tampan Eza tepat di hadapannya. Tapi Eza tak sedang menatapnya. Tepatnya sedang berbincang mengghibahi dirinya. Niat hati ingin beranjak, tapi ia baru saja sadar jika kini tertidur di pangkuan Eza.


Muuaaaluuuuu! Bisa-bisanya ia tak terbangun saat turun dari pesawat. Lalu bagaimana ia bisa sampai di mobil? Jangan bilang! Jangan bilang Eza yang menggendongnya!


"Nah! Sebentar lagi sampai ini," ujar Farhan.


Wardah memilih pura-pura belum bangun. Ia tak punya muka kali ini. Ya Allah, ingin rasanya tenggelam dalam lautan penuuuh maluuuu.


Eza kembali menggendong Wardah memasuki hotel. Tampak beberapa petugas hotel khawatir melihat Eza yang menggendong Wardah..


"Istrinya kenapa Pak? Perlu saya panggilkan dokter?"tanya petugas hotel.


"Tidak apa-apa Pak, istrinya hanya kelelahan," jawab Farhan.


Deg! Rasanya jantung Wardah berpacu setelah mendengarkan tuturan Farhan. Wardah pun bisa merasakan detakan Eza yang juga bergemuruh. Wardah ingin mengakhiri tidur pura-puranya, tapi ia tak kuasa menahan maluuu.


"Kamu ndak capek ta gendong Wardah gitu?" tanya Anisa ketika mereka memasuki lift.


"Latihan kalau besok mau nikah Mbak," jawab Eza.


Akhirnya sampailah mereka di kamar Wardah yang sudah dibooking Farhan jauh hari.


"Gimana respon Bunda sama Kak Yusuf waktu kamu minta izin Za?" tanya Farhan sembari berjalan keluar dari kamar Wardah.


"Awalnya Kak Yusuf dan Bunda sempat ragu, tapi alhamdulillah akhirnya diizinkan," jawab Eza.


Anisa yang telah selesai membereskan perlengkapan Wardah hendak mengikuti suaminya keluar. Tiba-tiba Wardah menahan pergelangan tangannya. Sontak Anisa terkejut.


"Nis! Sini duluuu," bisik Wardah.


"Kamu pura-pura tidur?" tanya Anisa.


Ditariknya Anisa agar duduk di sisinya.


"Aku kebangun waktu di mobil tadi, malu mau benar-benar bangun... Ya udah pura-pura tidur aja," lirih Wardah.


"Dasar anak ini!" geram Anisa.


"Gimana rasanya digendong abang ganteng?" ledek Anisa.


"Iisshhh kamu mah gitu...." rengek Wardah. Dapat dipastikan pipinya merah kali ini.


"Ciieee salting!"

__ADS_1


"Anisaaa!"


"Beberapa waktu lalu Mas Eza ngelamar aku. Tapi, aku masih takut Nis..." lirih Wardah.


"Dia juga meminta izin untuk menaklukkan hatiku, aku takut saat aku sudah terpaut dengannya dia malah mempermainkan aku seperti yang sebelumnya," sambungnya lagi.


"Tidak semua laki-laki seperti Cak Ibil Wardah... Eza berbeda, Eza laki-laki baik, Eza sudah tulus meminta izin kepada Bunda dan Kak Yusuf, ia berusaha meyakinkan mereka hingga mendapatkan izin dan Bunda mendukungnya..." jawab Anisa.


"Bunda?" tanya Wardah memastikan. Anisa mengangguk mengiyakan. Apa karena itu Bunda tampak dekat dengan Eza?


"Bahkan Eza meminta izin dengan Ayah. Mas Farhan dan Kak Yusuf pernah diam-diam mengikuti Eza, ternyata dia ke makam Ayah mengirimkan doa sekaligus meminta izin," sambung Anisa.


Wardah terdiam, dipeluknya Anisa dengan erat. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang.


"Ya udah, sekarang mau istirahat atau mau ikut aku?" tanya Anisa.


"Jam berapa sekarang? Emm, aku mandi dulu, habis itu ikut kamu," jawab Wardah sembari melihat jam tangannya.


"Ya udah, aku ke luar dulu... Di sisi kanan nanti ada tempat santai, nanti ke sana ya? Aku duluan," ujar Anisa.


Wardah mengangguk mengizinkan Anisa keluar terlebih dahulu. Sendirilah kini Wardah di kamarnya. Meratapi nasib. Hahaha.


Wardah memilih untuk membersihkan dirinya. Wardah memilih pakaian santai untuk sore ini dipadukan dengan bergo andalannya.



Wardah segera keluar kamar, karena Anisa sudah meneleponnya sedari tadi. Mereka sudah berkumpul di sana semua ternyata. Tatapan Wardah tertuju pada Eza yang kebetulan menatapnya pula. Malu! Tentu saja!


"Ini nih yang ditungguin dari tadi, baru dateng," ujar Anisa.


Wardah tersenyum kikuk dibuatnya. Eza masih saja memandanginya. Dan lihat dia tersenyum tertahan pada Wardah. Berani-beraninya ia mengejek.


Di sana hanya ada Farhan, Anisa, dan Mas Eza ternyata. Ntah apa yang mereka lakukan. Wardah berjalan di pinggir balkon melihat pemandangan sekitar. Ada bangunan hotel di hadapannya, dan ada taman serta kolam yang teramat cantik di dasar itu. Sepertinya hotel di sebelahnya ini satu jenis. Terlihat dari arsitekturnya yang mirip.


"Nyaman banget tidurnya," celetuk Eza berdiri di samping Wardah. Sontak Wardah terjingkat kaget. Wardah menoleh ke belakang ternyata Anisa malah asik bermain air yang kebetulan ada kolam di sini. Dengan santainya mesra-mesraan pula.


"Nggak usah ngeledek Mas," jawab Wardah salah tingkah.


"Kita di hotel ini cuma sehari, besok kita pindah resort yang lain," ujar Eza.


"Kitakan belum keliling-keliling di sini, masak udah pindah aja?" protes Wardah tak terima.


"Iya, kita jalan-jalan sekarang," ajak Eza menarik lengan baju Wardah.


Selalu saja seperti itu. Wardah terhuyung mengikuti Eza.

__ADS_1


"Maasss, pemaksaan ih! Iya iya, Wardah ngikuut,"protes Wardah. Barulah Eza mensejajarkan langkahnya dengan Wardah.


.


.


.


Disinilah mereka saat ini, di pantai yang sangat cantik putih bersih. Terlihat sekilas karang-karang di laut itu. Suara deburan ombaknya juga membuat pikiran siapa saja relax seketika.



Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di salah satu pulau tercantik milik Indonesia. Pantai memang destinasi wisata favorit Wardah, tak bosan-bosan rasanya jika ia harus setiap hari ke pantai, atau bahkan bermukim di kawasan pantai.


Wardah menikmati suasana sore dengan mengayunkan kakinya menghampiri sapuan air laut di kakinya. Berlari kesana-kemari, hingga kini ia mendudukkan dirinya di atas pasir, membiarkan sapuan air laut mengenainya. Eza memilih untuk menghampiri Wardah dan duduk di sisinya. Tak peduli dengan baju dan celananya yang ikut basah seperti Wardah.


"Gimana? Suka nggak?" tanya Eza.


"Suka, suka banget," jawab Wardah dengan senyuman yang selalu terukir.


"Mas, yang gendong Saya tadi sampean ya?" tanya Wardah dengan menunduk.


"Iya, pasti mbak Anisa yang ngasih tahu," jawab Eza dengan sedikit terkikik.


"Terima kasih sekaligus minta maaf Mas, maaf jika Saya merepotkan sekaligus lagi memalukan," lirih Wardah.


"Sama-sama, nggak repot kok! Ada Alif yang bantu bawa barang-barang kita, saya mah tinggal gendong kamunya saja," celetuk Eza.


"Wardah, sekarang balik ke hotel yuk... Setelah maghrib saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat," ujar Eza.


"Kemana?" tanya Wardah.


"Ke tempat istimewa, kamu harusnya sih senang," jawab Eza.


.


.


.


Beriringan kembali ke hotel, Tatapan Wardah tak sengaja menangkap keberadaan Husna di depan hotel, dengan tatapan yang ntah apa itu.


"Dek? Kamu ikut ke sini juga ternyata," sapa Wardah seolah-olah tak tahu jika ada Husna tadi saat menjemputnya. Padahal sejatinya ia basa-basi agar tak ketahuan jika pura-pura tidur tadi.


"Iya Kak, tadi aku juga iku jemput Kakak. Eh! Kakaknya tidur," jawab Husna. Sontak pipi Wardah memerah malu. Akhirnya Wardah hanya meringis menimbali jawaban Husna.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2