
"Kau tak akan percaya ini" seru Claudia, tiba-tiba melenceng ke topik yang 100% berbeda tanpa mengalihkan tatapan dari majalah di tangan. "Hama Yanti berselingkuh dengan sutradaranya yang sudah menikah! si bandot tua itu. Tidak ku sangka, Hama Yanti kan diduga berkencan dengan Alex nagatawa." Wajah yang dilontarkan Claudia terlihat sangat menyeramkan karena dia merupakan fans berat dari Alex nagatawa.
Aku menertawakan sahabatku. "Kau pasti maklum sebagian besar gosip artis memang disengaja dirancang bukan?". Aku mendekatkan tubuh dan memperhatikan foto yang tidak jelas, penuh bintik yang di ketuk-ketuk oleh Claudia dengan jemari ber kukunya kuning limau, yang kemudian mendadak berhenti setelah mendengar dari bangku digeser.
Aku Dan Claudia serentak menoleh pada laki-laki bertudung yang berdiri menghampiri kami. Dia merogoh sesuatu dari kantongnya yang ternyata adalah uang kertas, menariknya selembar, dan menaruhnya di bar, tepat disebelah minumannya yang tidak habis.
Aku memperhatikan tatapan Claudia tiba-tiba turun dan berhenti di bokong menggiurkan laki-laki itu, yang terbungkus dengan denim modis.
Sekejap aku menamparkan Claudia satu kali keras-keras.
"Aduh!" pekik Claudia.
__ADS_1
Laki-laki itu berjalan keluar melalui pintu depan, dagunya dirapatkan ke leher.
Aku mengalihkan pandangan pada Claudia yang melihatku dengan tatapan pura-pura marah. "Apa?... Bokongnya memang bagus , "gerutu Claudia lalu mengembalikan perhatian ke bacaannya.
"Pesanan sudah siap," seru Roy dari loket dapur sambil menyorong sekotak sterofom. Astaga kabar baiknya, jika laki-laki bertudung itu tidak kembali 5 menit lagi aku akan bawa pulang pesanan ini. Semoga ia meninggalkan cukup uang untuk membayar pesanannya, kataku dalam hati. Aku berjalan mengambil uang yang dia tinggalkan di. 5000 Yen titik aku menjumlahkan tagihan laki-laki itu dan mengambil kembalian dari mesin kasir.
" Roy, "aku balas seru melalui loket. "Tip malam ini besar. "Aku mendorong uang 800 Yen di permukaan kontainer lalu mendorongnya ke dapur, lalu berberes-beres untuk menutup restoran. Tidak lama kemudian aku menyusul kalau dia untuk mengunci restoran.
Malam ini indah. Meski udara terasa gerah, hawa panas akhirnya berkurang, dan bintang-bintang memenuhi langit. Aku berdiri di ambang pintu, mendongak dan menghirup udara segar. Terdengar suara jangkrik mengerik riuh, iramanya yang terus bersahutan dan mudah diikuti terasa membuat diriku tentram. Aku tahu sepenggal tempat ini akan senantiasa hidup di kalbuku karena sudah terpatri dalam jiwaku. Meski seringkali kota ini membuatku kesal, tidak ada tempat lain yang bisa benar-benar menyerupai belahan dunia yang satu ini titik suatu hari nanti, aku tahu aku ingin meninggalkan kota ini. Aku hanya perlu menunggu Joy menyelesaikan kuliah supaya kami bisa bertukar tempat. Itulah kesepakatan kami. Itu juga salah satu alasan aku tidak berkencan. Tidak ingin ada situasi yang yang memberatkan ketika tiba waktunya Aku harus pergi. Alasan lain, aku kenal hampir semua pria lajang yang berpotensi si dijadikan teman kencan, sementara aku tipe pilih-pilih daun.
Usai menghayal dan memikirkan banyak hal, aku melangkahkan kaki ke halaman depan restoran yang remang-remang untuk merapikan letak beberapa perabot, sudut mataku menangkap gerakan yang membuat diriku hampir terkena serangan jantung. (Brengsek!)
__ADS_1
Di salah satu meja di tempat gelap berdiri- seolah sudah sejak tadi dia menungguku - laki-laki - bertudung. Aku menyentuh dadaku dan menghembuskan napas panjang dari paru-paru ku.
Aku memperhitungkan jarak dari tempat laki-laki itu berdiri dengan pintu titik apakah aku sempat masuk lagi ke restoran sebelum laki-laki itu mencapai ku? mengapa aku se ceroboh ini? Joy selalu mengingatkanku untuk mengunci restoran, dan saat ini aku tidak tahu apakah masih bisa masuk restoran.
Aku bergeming di tempat, berusaha melihat wajah di bawah topi laki-laki itu. Dia berjakun dan kelihatannya kuat sama jenisnya yang berwarna gelap mencetak bentuk tungkai panjang yang lurus. Jikalau laki-laki itu ada maksud menyerangku setidaknya aku harus berusaha mengingat ciri-cirinya. Haaaa mimpiku menjadi seniman terkenal akan hancur sebelum aku meraihnya. Atau tunggu, jangan-jangan itu lebih buruk. Jika aku sampai mengenali ciri-cirinya, bukankah itu berarti dia harus membunuhku setelah mempermainkanku?.
Aku panik dan terpaku seperti kelinci kecil yang terkejut, tapi lambat laun aku sadar laki-laki itu juga tidak bergerak dan aku tidak merasakan aura mengancam terpaksa dari dirinya. Bukan berarti aku memiliki indra keenam. Kecuali jikalau menghitung beberapa momen ketika aku yakin Nenek muncul di rumahku untuk melihat-lihat sambil menengok keadaanku. Pokoknya, sikap tubuh laki-laki itu dan cara ia mengangkat dua tangan dengan ragu-ragu membuatku tetap berdiri ditempat.
Ketakutanku perlahan berubah menjadi rasa penasaran. Aku belum melihat seperti apa wajah pria itu. Mengapa sih halaman restoran segelap ini? aku baru hendak bicara ketika laki-laki itu mengeluarkan jemarinya yang panjang ke kepala, lalu gerakannya berhenti sesaat, seolah ragu-ragu. Setelah itu ia cepat-cepat menggenggam topi lalu merengut nya berikut kerudung hingga lepas.
Untuk kedua kalinya aku tidak bisa bernafas dalam beberapa menit terakhir. Di depanku berdiri laki-laki paling tampan yang pernah kulihat selama 20 tahun aku hidup di planet ini. Rambut silver gelapnya yang lebat, berantakan karena topinya dilepas, mencuat di beberapa tempat, membingkai wajah berstruktur tulang menonjol yang dihiasi mata berwarna...
__ADS_1
Aku tidak bisa memastikan warna matanya karena suasana remang-remang, tapi aku yakin warnanya biru kelabu.5 tahun ini aku tidak hidup di gua. Aku tidak perlu memeriksa lubang tabloid yang tadi dibaca Claudia. Majalah, majalah itu tidak menggambarkan pria ini dengan jelas. Untuk mengetahui siapa laki-laki yang berdiri di depanku Dina Batavya, diluar restoran Zi Long sniper girl di kota Tokyo yang berpenduduk kisaran beribuan jiwa yang terletak di bagian timur Cina dan sering juga disebut dengan negara matahari terbit ini dia tidak lain adalah Alex nagatawa, sang Mega bintang yang sangat terkenal di dunia.
Pikiranku hancur lebur bagaikan vas bunga yang jatuh berkeping, dan terlintas di otakku kenapa dia bisa ada di tempat ini? dan kemana semua ajudannya? apakah ini momen yang paling penting untuk aku mengambil foto? atau aku harus teriak? aku tidak tau apa yang harus kulakukan, Tuhan tolong aku. Rasanya aku mau pingsan saja.