Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Last


__ADS_3

Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih 2 jam. Sampailah kini mereka di pinggiran sungai yang cukup lebar dengan tanaman mangrove di pinggirannya. Mereka perlu menaiki perahu untuk sampai di pantai yang mereka tuju. Eza mengurus penyewaan perahu, sedangkan Wardah mengajak Fiona untuk membeli cemilan untuk teman menyebrangi sungai yang bermuara ke laut itu.


"Kak, emangnya nggak papa kalau aku ikutnya gratisan gini?" tanya Fiona sembari menunggu penjual memberikan barang belanjaan mereka.


"Ya nggak papa dong Fi, kami-kan juga butuh pemandu wisata untuk menikmati kota ini Fio," jawab Wardah.


"Padahal sewa getek mahal lhoo, makanya aku juga nggak pernah ke pantai yang mau kita tuju ini," celetuk Fiona.


"Jadi ini juga first time buat kamu?" tanya Wardah.


Fiona mengangguk menjawabnya. Beruntung Fiona masih tahu alur untuk sampai ke tempat tujuan mereka.


"Anggap saja ini sebagai liburan akhir pekan kamu ya Fi," ujar Wardah kemudian mengajak Fiona ke tempat Eza.


Eza telah memindahkan barang bawaannya dengan Wardah ke atas perahu. Barulah ia bantu Arumi memindahkan barangnya juga diikuti dengan barang milik Fiona.


"Mas Eza, boleh minta tolong bantu saya naik ke perahu?" tanya Arumi meminta bantuan Eza.

__ADS_1


"Mas, tolong bantu Mbak itu naik ke perahu," ujar Eza pada pemilik perahu.


"Siap! Mari Mbak," jawab Mas-mas itu.


Fiona yang melihat adegan itu terkikik. Ditoelnya lengan Wardah memberitahukan adegan itu. Eza yang melihat istrinya dan gadis di sampingnya membawa belanjaan yang cukup banyak, sontak bergegas mengambil alih belanjaan itu.


"Fiona kamu minta tolong Mas-mas itu kalau mau naik ke kapal," ujar Eza.


"Perahu Pak, bukan kapal. hahaha," jawab Fiona sembari naik dibantu penjaga perahu yang disewa Eza.


"Mas pinjam uang kamu dulu ya Ay... Mas belum ambil uang cash lagi," bisik Eza.


"Kayak sama orang lain aja sih Mas ganteng... Pakek aja, uang aku punya Mas juga tahuu," jawab Wardah dengan geramnya.


Cup! Kecupan singkat mendarat di pipi mulus Wardah. Eza membeli es campur itu sekaligus memberikan kepada para pekerja dan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Terima kasih nak ganteng nak cantik... Semoga dilancarkan segalanya oleh Gusti Allah," ujar kakek itu sebelum Eza dan Wardah pamit.

__ADS_1


"Hati-hati Ay," ujar Eza saat membantu Wardah naik ke perahu.


Tak lupa mereka membawakan es itu kepada Fiona, Arumi, dan juga dua pemilik perahu yang ditumpangi mereka. Fiona dan pemilik perahu sesekali menjelaskan mengenai pemandangan yang mereka lewati. Juga terkadang bercanda bersama. Mereka harus melewati hutan mangrove agar sampai di laut dangkal dan menyebrangi laut itu agar sampai di beberapa pantai dengan view tercantik.




"Mas, Mbak, sini foto di perahu depan, biasanya wisatawan banyak yang foto di sini," ujar pemilik perahu kepada Eza.


"Ayuk Sayang, buat kenang-kenangan," ujar Eza mengajak Wardah.


Dengan senang hati Wardah mengikuti Eza. Pelan-pelan Wardah duduk di samping, hingga berpindah haluan di depannya untuk pengambilan beberapa pose foto. Beruntung Fiona mau mengarahkan gaya terkini untuk pasutri yang ia fotokan itu.


Siap dengan foto-foto Eza dan Wardah diikuti oleh Fiona yang tak mau ketinggalan, dan juga Arumi yang tadinya malu-malu tapi ikut juga. Sibuk dengan foto-foto itu, akhirnya mereka keluar juga dari hutan mangrove. Kini mereka harus menyusuri laut untuk sampai di pantai yang perkiraan jarak tempuh 15 menit lagi.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2