
“Lho! Papa bareng sama Mas Eza pulangnya?” tanya Wardah yang tak mendapati mobil papa mertuanya.
“Ban mobil Papa bocor. Si Ujang masih dibengkel gara-gara nggak bawa ban cadangan,” jawab Eza.
Wardah mencium tangan Eza dan Papa. Mengambil tas kerja Eza untuk ia bawa ke kamar. Sekaligus punya Papa-nya. eza yang sudah rindu dengan anaknya sontak langsung ke taman belakang setelah bertanya pada Wardah. Papa juga mengikutinya.
“Lho! Ada Gita di sini?” sapa Eza yang melihat Gita di dapur saat hendak keluar.
“Iya Pak, lagi kunjungan sama Wardah eh sama tante diajak makan malam sekalian,” jawab Gita.
“Owh, saya ke belakang dulu ya,” pamit Eza.
Mama yang melihat Papa sudah pulang sontak menghampiri. Hendak mengambil tas kerja suaminya ternyata sudah dibawakan oleh Wardah. Papa menyapa sebentar tamu baru menantunya itu sebelum ikut ke belakang berkumpul dengan bocil-bocil yang lain. Pulang kerja bertemu para cucu itu cukup membuat Lelah mereka hilang seketika.
__ADS_1
Eza sedikit terkejud saat tahu ternyata ada Fadhil juga. Ia kira Gita sendiri. Laki-laki itu tampak tengah mengobrol dengan Faiz. Saat tahu Eza datang barulah ia menyapa. Eza juga memperkenalkan Fadhil pada Papanya.
“Mas, cuci kaki dilu dong! Jasnya juga, kok masih dipakai sih, nggak panas apa?” tegur Wardah yang datang membawakan sandal rumah.
“Ini buat Papa juga,” Wardah memberikan pula pada Papa.
Eza dan Papa duduk berdampingan di kursi taman yang tak jauh dari posisi Faiz dan Fadhil. Diawasi oleh Wardah yang membantu Eza melepaskan jas dan juga dasinya.
“Sayang, bawain jas sama sepatu Papa juga ya!” teriak Mama dari pintu dapur.
Sore yang biasanya sudah ramai, kali ini makin ramai atas kehadiran Gita dan Fadhil. Seperti biasa setelah selesai sholat maghrib berjamaah saatnya makan malam. Wardah dan Eza baru saja turun setelah semunya sudah berkumpul di meja makan.
“Bajunya nyaman-kan Git?” tanya Wardah memulai perbincangan dengan Gita.
__ADS_1
“Nyaman kok,” jawab Gita.
Gita dan Fadhil sudah berganti pakaian. Mereka yang awalnya memakai pakaian kerja tampak tak nyaman. Makanya Wardah meminjamkan bajunya dan juga Eza untuk mereka. Di meja makan mala mini diwarnai oleh percakapan para bocil dan juga perbincangan Papa yang masih saja ada pertanyaan untuk Fadhil. Sesekali juga membahas pekerjaan dengan Eza. Mama sampai menegur suaminya untuk berhenti membahas mengenai pekerjaan.
Harusnya jika di rumah itu digunakan untuk family time. Mungkin karena menurut Papa pekerjaan Fadhil hal yang baru ia bahas makanya sangat berexcited untuk membahasnya.
“Rio lembur lagi ya Win?” tanya Papa yang baru sadar jika menantunya yang satu tak ada.
“Kayaknya sih iya Pa, belum bisa dihubungi sama Winda,” jawab Kak Winda.
“Papa tadi nggak ngecek di bagian Rio, jadi nggak tahu problemnya apa,” sambung Papa lagi.
Setelah makan malam barulah Gita dan Fadhil pamit pulang. Wardah dan Eza yang menggendong Sakha mengantarkan pasangan itu keluar. Mereka kembali berterima kasih dan pulang.
__ADS_1
...Bersambung...