
...Maapkeuun yaa! Niatnya mau up tadi malam, tapi ternyata ketiduran. Hehehe...
...Reek! Kalian jangan lupa baca karya Lhu-Lhu yang lainnya. Ayooo! Ramaikan kolom komentarnya. Like, vote, share, dan hadiahnya juga jangan lupa yaak! ...
...Lopeyuu Kaliaaan semuaaa! πππ...
Sayup-sayup mata Wardah terbuka saat mendengar suara azan dari gawai Eza. Ya! Gawai Eza memang di setting dengan azan jadwal sholat lima waktu. Karena jika azan dari masjid sekita memang tak terdengar jelas. Tangannya meraba meja di samping tempat tidur untuk mematikan suara itu. Dingin sekali rasanya. Enggan untuk melepaskan kehangatan. Wardah kembali meriuk pada sumber kehangatan di depannya.
Satu detik, tiga detik, lima detik, Wardah terdiam untuk berpikir. Perasaan kemarin-kemarin tak sedingin ini. Dan yang memeluknya? Wardah tak membawa boneka kesayangannya. Lagi pula ini tak seperti bearnya. Wardah meraba lengan Eza. Pipi, hidung, mulut. Mata Wardah terbuka sempurna. Spontanitas ia mendorong Eza yang masih memeluknya.
"Allahu!" kaget Eza.
"Astaghfirullah, Ay... Banguninnya lembut banget sih," ujar Eza dengan suara khas bangun tidurnya. Ia telentang sembari mengucek matanya. Wajarlah, mereka tidur larut malam kemarin.
Wardah yang baru saja sadar telah durhaka dengan sang suami lantas berhambur ke pelukan Eza.
"Maaf Ay... Maaff, aku lupa..." lirih Wardah dengan memeluk erat leher Eza.
"Tunggu-tunggu. Eh! Jangan gitu, geli...." cegah Eza menjauhkan kepala Wardah yang tepat berada di lehernya. Sudah jelas-jelas Eza menahan nafsu sanubarinya terhadap sang istri, kini malah diuji dengan semakin berat. Napas Wardah sukses membuat Eza bergejolak.
"Astaghfirullah!" Eza mengganti posisi memeluk Wardah. Mendekap dalam pelukannya.
"Coba ulangi panggilan ke Mas tadi," ujar Eza saat Wardah sudah tak bisa berkutik.
"Panggilan apa?" tanya Wardah bingung.
"Tadi, waktu Ayang minta maaf," jelas Eza.
Dan Wardah semakin bingung. Ia menggeleng lemah.
"Haiish, lupakan!" Eza mengeratkan pelukannya.
"Hangat banget kalau gini. Kok dingin banget ya, padahal semalam nggak dingin-dingin amat," lirih Wardah.
Eza tersenyum mengingat kelakuannya yang menurunkan suhu ruangan. Berhasil juga.
"Mas belum sholat subuh," lirih Wardah.
"Iya, bentar lagi," jawab Eza tak melonggarkan pelukannya.
Sejenak Eza memeluk Wardah. Barulah ia bangun , mengecup kening Wardah kemudian ke kamar mandi. Speechless Wardah dibuatnya. Perlakuan yang sangat manis. Wardah menutup selimut hingga membungkus seluruh tubuhnya. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya.
Ia bagaikan ABG lagi kali ini. Ternyata seperti ini diperhatikan oleh orang spesial. Wardah berguling ke kanan ke kiri untuk menggantikan rencananya untuk berteriak. Wardah segera menghentikan kehebohannya, takut jika ketahuan oleh Eza.
πΎπΎπΎ
Wardah kini tengah bersiap untuk turun ke cafe hotel tempat mereka mengadakan acara. Ternyata di sana sudah berkumpul seluruh keluarga. Meskipun tak ada orang lain, cafe ini tampak penuh dengan keluarga mereka. Eza memang sudah membooking seluruh hotel ini khusus untuk keluarga besar. Agar tak terganggu dengan orang lain. Karena memang sering kali ada wartawan ilegal yang diam-diam mengikuti buruannya.
Tidak untuk stasiun televisi milik Eza tentunya. Eza sudah memberikan fasilitas untuk crewnya juga. Mereka yang bertugas menyiarkan acara pernikahan Eza dan Wardah.
"Ini nih yang ditunggu! Baru nongol," celetuk Mbak Winda melihat adiknya baru datang.
"Macam tak pernah jadi pengantin baru baee," canda Eza.
"Mbak tahu yaa, kalau Wardah lagi datang bulan," bisik Mbak Winda.
Wajah Eza masam seketika. Ia pikir sang Kakak tak tahu. Pasalnya kemarin ia mencari Mbak Winda untuk meminta pembalut, orangnya tak ketemu. Wardah yang mendengar bisikan Mbak Winda hanya diam sembari menelusuri keadaan cafe mencari tempat duduk yang pas.
"Stay calm dek, Mbak pinter menjaga rahasia kok. Hahaha," tawanya lebih terdengar seperti milik penyihir jahat saja. Hahaha. Sepertinya harus menghindari nenek sihir itu agar tak diledekin terus.
Wardah mengusap lengan Eza mengajaknya ke prasmanan untuk mengambil makanan. Ia sudah lapar sekali rasanya. Eza dan Wardah memilih duduk di balkon yang menyajikan pemandangan jalan raya lancar teratur.Embun yang masih terlihat menambah kesan kecantikan untuk kota ini.
Tak berselang lama datanglah Anisa dan Farhan dengan kedua buah hati mereka. Dua bocil itu tampak mengoceh dengan gemasnya. Wardah ingin menggendong mereka, tapi ia harus segera sarapan kemudian latihan kembali dengan Kak Nuy.
Berkali-kali Wardah dan Eza harus mengulang lagu mereka. Ya! Sekarang mereka sudah berada di tempat latihan. Kurang beberapa jam lagi mereka akan tampil. Tentu saja harus perfek. Apalagi Eza merupakan konsumsi publik. Akan mencoreng nama baiknya yang terkenal perfek jika tampilan nanti tak sesuai.
"Good! Saya rasa itu sudah sangat luar biasa. Awas saja kalau nanti sampai memalukan saya sebagai pelatih kalian!" ujar Kak Nuy.
"Sudah sana ke kamar. Waktunya make up," sambung Mbak Winda.
Jahat sekali. Tak memberikan waktu istirahat untuk dua insan ini. Wardah dimake up terlebih dahulu. Karena membutuhkan waktu yang lama untuk pengantin perempuan. Kali ini Wardah ditangani langsung oleh desainer dan MUA milik negeri tetangga. Tepatnya negeri jiran (Malaysia). Sudah lama Wardah mengagumi sosok yang tengah memolesnya. Dan ternyata Mama mengetahui. Alhasil, Mama dan Bunda bekerja sama untuk menyewa beliau.
Dapat dipastikan Wardah akan disulap menjadi putri tercantik sepanjang sejarah kali ini. Gaun yang indah didesain langsung oleh idolanya. Sungguh luar biasa.
"Awak jangan pandang I macam itu, malulah I ni," ujar Cik Nisa perias Wardah.
"Hehehe, speechless bisa nengok langsung Cik Nisa," jawab Wardah malu.
"Comel kali awak ni," ujarnya lagi.
Jika Wardah dimake up oleh Cik Nisa. Eza kali ini dimake up oleh asisten beliau. Eza duduk di samping Wardah yang juga tengah dimake up.
"Belum beres juga? Onde-mande, lama kali," celetuk Eza mengikuti gaya bahasa Melayu.
__ADS_1
Meskipun Wardah start terlebih dahulu, tetap Ezalah yang terlebih dahulu selesai dimake up.
Tatapan Eza tertuju pada heels tinggi yang ada di atas meja. Yang benar saja sang istri harus mengenakan itu. Bagaimana kondisi kakinya nanti?
"Yakin Mas, nanti istri saya pakai sepatu itu?" tanya Eza.
"Iyelah, nak pakai mane lagi? Itu heels cantik sangat tau," jawabnya.
πΎπΎπΎ
Acara puncak yang ditunggu akhirnya sampai juga. Wardah telah selesai dirias, begitu pula dengan Eza yang tampannya paripurna. Gedung aula itu sudah full terisi dengan para tamu undangan. Eza dan Wardah memasuki aula resepsi diikuti oleh beberapa bridesmaids dengan dresscode senada.
Senyuman kedua mempelai sangat ketara. Menandakan bahwa pernikahan ini merupakan salah satu impian mereka berdua. Wardah memeluk lengan Eza, dengan buket di tangan yang terbebas. Di depan mereka ada dua bocil dengan gaun yang tak kalah cantiknya dengan sang pengantin. Siapa lagi kalau bukan Dinda dan Inayah. Wkwkwk. Di samping kiri Eza ada Papa dan Mama, sedangkan di samping kanan Wardah ada Bunda dan Pakde Wawan.
Alunan sholawat mahalul qiyam menjadi backsound pengiring mereka. Dipimpin langsung oleh Abah Fadhoil.
"Keren bener lakinya. Ternyata anak pesantren juga," ibu-ibu rumpi mulai beraksi.
Acara ini dimeriahkan oleh penampilan keluarga pesantren dan juga beberapa teman musisi serta artis Eza dan Wardah. Awalnya teman-teman santriwati mengajak Wardah berkolaborasi untuk pertunjukan tari, tapi Eza menolaknya. Takut sang istri kecapaian katanya.
Dilanjutkan dengan mau'idoh hasanah yang disampaikan oleh Abah Munif. Kemudian penampilan-penampilan kembali.
Wardah sudah berganti dengan gaun yang penuh dengan blink-blink bertaburan. Terlihat sangat cantik dipadukan dengan parasnya yang imut nan ayu. Ditambah dengan pasangannya yang tak kalah tampan membuat mereka semakin menjadi sorotan publik. Jangan lupakan dengan mahkota super cantik itu. Berlian asli sengaja menjadi pilihan desain Cik Nisa.
Kue pengantin mereka pun tak mau kalah. Hal ini juga tak tertinggal dari perbincangan publik. Wardah sempat keberatan waktu diajak memilih model kue, tapi Mama bersikeras memilihkan yang ini. Agar bisa dibagikan dengan rata ujarnya. Pemotongan kue berlangsung dengan sangat khidmat. Padahal yang dipotong hanya secuil, tapi alat yang digunakan menyerupai samurai. Wardah sempat tremor tadi memegangnya. Untung saja memegang bersama Eza.
Kini saatnya keuwuan ditunjukkan. Wardah dan Eza sudah berpindah posisi di panggung sebelah.
Lampion yang dipasang itu tampak sangat bagus. Eza mengambil dua mic untuknya dan Wardah. Lagu milik Ria Ricis kali ini yang mereka cover.
... "Janji Suci"...
Di antara tanda-tanda kuasaNya
diciptakan manusia berpasangan
dan dijadikan di antaranya ma waddah wa rahmah
(Kau pertemukan)
Kau pertemukan
aku dengan cintaku
Tuntunlah kami
dalam menempuh hidup yang baru
Di hari ini ku tetapkan hati menjadi satu
dalam ikatan yang suci di ridhoMu Ya Allah
Menjadi imam dan makmum saling melengkapi
Bismillah Ya Allah
ku jalani hidup baruku
Menjadi imam dan makmum
saling melengkapi
Bismillah Ya Allah
janji setia terucapkan
dalam suka dan duka
menjadi pasangan di dunia dan akhirat
Janji suci kami ucapkan
Kau pertemukan
aku dengan cintaku
__ADS_1
Tuntunlah kami
dalam menempuh hidup yang baru
Di hari ini ku tetapkan hati menjadi satu
dalam ikatan yang suci di ridhoMu Ya Allah
Menjadi imam dan makmum saling melengkapi
Bismillah Ya Allah
janji setia terucapkan
dalam suka dan duka
menjadi pasangan di dunia dan akhirat
Bismillah Ya Allah..
Menjadi imam dan makmum saling melengkapi
Bismillah Ya Allah
janji setia dalam suka dan duka
menjadi pasangan di dunia dan akhirat
Dalam ridhoMu Ya Allah
Janji suci kami ucapkan
Dengan ridhoMu Ya Allah..
πππ
Selama menyanyi, tak henti-hentinya jemari mereka bertaut. Mbak Winda yang awalnya ragu, takut jika feel mereka kurang, kini malah terharu. Ia menangis melihat sang adik akhirnya menemukan wanita itu.
Tak sengaja sorot mata Wardah tertuju pada sesosok laki-laki yang sebenarnya ingin ia hindari. Kenapa orang itu bisa berada di sini? Apa Eza yang mengundangnya?
Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari host Wardah dan Eza kembali ke kamar mereka untuk sholat asar dan berganti gaun kembali. Lagi-lagi Wardah melihat Cak Ibil yang mengikutinya meskipun dari jarak jauh.
"Mas Eza ngundang Cak Ibil?" lirih Wardah diperjalanan mereka ke kamar.
"Iya, kirain waktu akad kamu undang, ternyata nggak. Ya udah mas undang aja sekarang," jawab Eza.
"Aku takut tahuu," rengek Wardah.
"Kan ada Mas," cup! Satu kecupan mendarat dibibir Wardah.
"Tenang, dia udah janji nggak akan ganggu istrinya Mas," sambungnya sembari mengarahkan kepala Wardah ke dadanya.
"Mas dihubungi sama dia?" tanya Wardah.
"Ndak, Papa yang ngurus dia beberapa hari lalu," jawab Eza.
"Papa?" tanya Wardah heran dan bingung.
Ternyata selama gawai Wardah disita Papa, ada Cak Ibil yang menghubungi Wardah. Dan Papa yang baru mengetahui hal itu, segera menyelesaikannya. Papa meminta untuk bertemu dengan mantan suami menantunya itu. Betapa terkejutnya Cak Ibil melihat laki-laki paruh baya itu ternyata calon mertua Wardah. Ia kira akan bertemu Wardah, ternyata tidak.
Ia harus berhadapan dengan Papa Eza. Tai, tak berselang lama datanglah juga Eza di sana. Serasa dilabrak mungkin dirinya. Hahaha. Salah siapa mengganggu.
Kini Wardah dan Eza sudah kembali lagi ditengah-tengah tamu undangan. Kini adalah saatnya sesi foto-foto. Semakin sore, semakin ramai pula aula ini. Gaun penutup yang juga menjadi the best dress menurut kebanyakan orang. Wardah dan Eza kembali menyanyikan sholawat untuk para pengunjung. Sholawat Albi Nadak memang paling cocok dibawakan untuk keuwuan pasangan. Hahaha
"Ya Allah, udah mau selesai aja ni acara. Lusa aku juga udah pulang sama Mas Farhan," ujar Anisa saat foto bersama.
"Huhuhu, iya say... Padahal aku masih pengen main sama kembar," jawab Wardah yang kini menggendong kembar.
Tanpa disangka Wardah, ternyata Cak Ibil naik ke pelaminan memberikan selamat untuknya dan suami. Percayalah, saat ini rasanya canggung melihat mantannya itu. Wardah terus memeluk lengan Eza. Dia bersama teman-teman pesantrennya juga.
"Selamat ya Wardah, nggak nyangka jodoh kamu orang jakarta punya, hahaha," ujar Gus Ahmad putra Abah Munif.
"Terima kasih Gus sudah menyempatkan hadir dengan Kang-Kang Santri yang lain," jawab Wardah dengan senyumnya.
"Kok ndak bareng sama Abah Munif tadi Gus? Abahnya malah sudah undur," tanya Eza sekedar basa-basi mencairkan suasana.
"Hahaha, sungkan, Abah barengan sama keluarga pesantren Abah Fadhoil," jawab Gus Ahmad.
Barulah mereka berfoto bersama. Super heboh. Karena personilnya yang sangat banyak. Dilanjutkan dengan para santriwati yang tak mau kalah hebohnya pula.
"Sering-sering undang pesantren Ustadzah, biar bisa jalan-jalan jauh, hahaha" celetuk salah satu dari mereka.
"Hahaha, insyaallah ya... Oh iya, Husna ndak ikut ke sini ya?" tanya Wardah.
__ADS_1
"Ndak Ustadzah, ada ujian untuk kelasnya Kak Husna," jawabnya.
...Bersambung ...