
Udah threeple yaa.......
Wardah mencium punggung tangan Para Bu Nyai dan Ning yang berkumpul dengan sopan. Ia kemudian duduk di sebelah Umi-nya Ning Vida dan di sebelahnya Nong Vida. Perbincangan santai pun mulai tercipta kembali setelah kedatangan Wardah dan Ning Vida.
“Sudah seperti anaknya Bu Nyai Shofia, adiknya Ning Vida kamu nduk,” celetuk Bunyai Hanan.
“Lha Nggeh, anak kulo ini,” jawab Umi Ning Vida merangkul Pundak Wardah.
Perawakan Ning Vida yang tinggi dan Wardah yang mungil membuatnya seolah adalah adik Ning Vida. Padahal mereka beda beberapa tahun. Pertanyaan-pertanyaan seolah seperti Q and A siap menjadi hidangan Wardah kini. Mereka semakin acxited saat tahu jika Wardah santri sekaligus abdi ndalem Kyai Munif. Sayangnya istri Kyai Munif tidak ikut hadir di acara ini, dapat dipastikan Wardah akan semakin terbelenggu di tengah-tengah Bu Nyai saat ada istri beliau juga.
Tapi perbincangan itu tak berlangsung lama, karena Ning Vida mengajak Wardah untuk bergabung bersama para Ning dan Gus yang ternyata berada di salah satu pendopo luar yang ada di dekat aula.
“Tunggu Ning, suami saya masak mau ditinggal?” celetuk Wardah. Tak berselang lama, ternyata Eza menyusul. Sakha rewel ingin bersama Buna-nya.
“Kita ikut Ning Vida apa mau pisah di sini Mas?” tanya Wardah.
“Ning Vida mau kemana? Kulo masih ada panggilan dari kawan lama di pesantren,” tanya balik Eza.
“Dimana Kang?” tanya Ning Vida lagi.
“Katanya tadi sih, di pendopo aula, yang ada rumah makannya itu lhoo,” jawab Eza.
__ADS_1
“Lhoo, ya sama kalau gitu Kang, rombongannya Gus Makhrus bukan?” tanya Ning Vida lagi.
Ternyata tujuan mereka sama. Ternyata perkumpulan yang dituju Ning Vida itu juga bersama para alumni santri senior.
“Sayang, kita reunion dulu ya,” tanya Eza pada Sang Istri.
“Iyaa Mas,” jawab Wardah menyetujui.
Sakha yang awalnya ingin bertemu Wardah ternyata hanya ingin melihat dan bersama. Eza pikir ingin gelendotan dengan Buna-nya. tapi ia bersyukur, sebab Wardah tak perlu menggendong Sakha. Biarlah ia yang menggendongnya. Ning Vida menuju pendopo terlebih dahulu. Sedangkan Wardah dan Eza menuju tempat sholat untuk sembahyang dan juga mengganti popok Sakha. Ia juga perlu mengganti pakaian Sakha agar lebih nyaman.
Wardah juga menelepon Faiz yang masih berada di dalam stadion. Memberitahu jika Eza sudah menitipkan uang cash pada salah satu staf di sana untuknya. Karena Wardah yakin jika Faiz pasti kehabisan uang cash. Akan sulit mencari Tarik tunai di tempat seramai ini. Tapi memang untuk wilayah aula dan beberapa tempat sekitarnya harus sterill dari orang-orang untuk kenyamanan para tamu undangan. Itu sebabnya di tempat ini hanya ramai bagi mereka keluarga pesantren dan juga beberapa orang yang diberi kewenangan.
Sampai di pendopo yang dimaksud, Wardah kembali dikejudkan dengan kehadiran teman-temannya di pesantren yang kini masih berada di lingkup pesantren ataupun sudah boyong. Bukan hanya itu! Ada Gus Hasan anak dari Kyai Munif. Benar-benar reuni besar besaran ini. Bukan hanya satu pesantren, tapi beberapa pesantren di Jawa Timur.
“Maaf, beberapa hari ini sibuk ngurusin untuk liputan acara. Kok kalian bisa di sini bareng-bareng sih?” jawab Wardah setelah mengurai pelukannya.
“Kan! Pasti nggak buka grup chat alumni! Kebiasaan!” sambung temannya yang lain.
Tidak semua memang, hanya beberapa santri dan keluarga pesantren yang bergabung di acara ini. Ternyata acara ini memang dibuat berkolaborasi dengan pesantren lain. Agar lebih ramai tentu saja.
“Terakhir aku lihat suami kamu waktu di acara pernikahan kalian. Makin tampan aje,” celetuk mereka.
__ADS_1
“Hey! MasyaAllah, ntar numbuh jerawat di jidatnya kalau kalian gitu!” jawab Wardah.
Banyak perbincangan di antara mereka. Eza sudah bersama temannya juga. Jangan lupakan Sakha, anak itu masih setia dipangkuan Ayah-nya. Wardah teringat jika belum membuatkan Sakha susu. Wardah mengambil tas jinjing Sakha untuk ke dapur restoran meminta air panas. Sekaligus Wardah juga menyiapkan makan siang untuk anaknya.
Wardah adalah salah satu ibu yang sangat memperhatikan (protective) terhadap makanan untuk si kecil. Tapi di saat urgent seperti ini tak mungkin untuknya harus memasak terlebih dahulu. Jadilah saat di luar seperti ini ia memanfaatkan makanan instan untuk Sakha yang aman sesuai saran dokter anak keluarga Eza.
"Ini Mbak air panasnya," ujar seorang koki yang bertugas.
"Terima kasih ya Mbak, maaf ya udah ganggu waktunya," ujar Wardah merasa tak enak.
"Nggak papa dong Mbak, gantinya foto bareng ya," jawabnya dengan permintaan foto.
"Boleh, boleh, monggo," Wardah menyetujui dan mulai berfoto ria.
***
Makanan untuk Sakha siap, Wardah menghampiri anaknya yang tengah duduk anteng di pangkuan Eza.
"Tuuh, mamamnya Tole sudah siap," ujar Ning Salma menyambut kedatangan Wardah.
"Monggo, Sakha-nya mamam dulu nggeh Om, Aunty," Wardah menawari para Bulek atau Pak lek yang duduk di sekitarnya.
__ADS_1
Sembari menyuapi Sakha, Wardah yang awalnya sedikit canggung karena banyaknya rekan Eza, kini mulai asik berbaur menanggapi perbincangan mereka.
...Bersambung ...