
Malam semakin larut, tapi Eza belum mengantuk juga. Dielusnya rambut lembut Wardah yang ada di atas dadanya. Bagaimana bisa rambut sang istri begitu lembut dan wangi? Eza terus mengelus lembut rambut Wardah, semakin dielus, semakin tercium aroma wanginya. Sebelah tangannya mengelus lembut alis Wardah. Ayah sering kali mengelus Wardah seperti ini dulunya kata Bunda. Benar juga, Wardah semakin mengeratkan pelukannya pada Eza. Menyiratkan sajian wajah yang damai, tenang, nyaman, dan jangan lupakan dengan senyuman Wardah itu.
Eza memilih untuk menyalakan televisi untuk menemaninya yang belum bisa tertidur. Tengah malam seperti ini sepertinya hanya tertinggal siaran berita kalau tidak tayangan horror dari Mr. Tukul, hahaha.
Malas melihat pemberitaan yang kebanyakan memberitakan tentang dirinya, Eza memilih untuk menonton Mr. tukul saja. Eza ingin cepat tidur, tapi matanya masih saja enggan untuk terpejam. Esok hari ia harus menghadiri undangan di beberapa stasiun tv, tak mungkin ia harus hadir dengan kantung mata yang merajarela.
“Allahu!” kaget Eza mendengar intro dari siaran yang ia tonton.
Sontak Wardah terusik dengan reaksi suaminya itu.
“Kok belum tidur Mas?” tanya Wardah dengan suara kantuknya.
"Belum ngantuk Ay," jawab Eza kembali merebahkan kepala Wardah di dadanya. Tak lupa dengan ibu jarinya yang mengelus lembut alis Wardah agar tertidur lagi.
"Astaghfirullah!" kaget Wardah mendengar intro dari acara televisi yang dilihat oleh Eza. Wardah semakin mengeratkan pelukannya pada Eza.
Awalnya Wardah ingin melanjutkan tidurnya, tapi ia penasaran juga dengan siaran yang ditonton Eza. Sesekali Wardah mengintip, tapi juga kembali bersembunyi di saat-saat menegangkan.
"Nonton aja Yank, nggak serem kok. Lucu malahan," celetuk Eza.
Oke! Akhirnya Wardah memilih untuk menonton. Padahal Wardah bukan tipe orang yang penakut, tapi kenapa saat ini ia malah seperti seorang penakut? Wardah sampai bingung sendiri dengan dirinya. Seolah instingnya menjadikannya penakut saat bersama Eza. Kini Eza beralih menonton kanal YouTube Sarah Wijayanto. Semakin menegangkan ya bun.
"Maasss! Takut," rengek Wardah melihat salah satu pesonil kerasukan.
Eza memeluk Wardah dengan erat. Memberikan kehangatan dan rasa aman untuknya. Wangi harum yang keluar dari tubuh Eza, membuat Wardah semakin nyaman. Oke! Tak perlu menonton lagi, Wardah sudah kembali mengantuk. Eza melepaskan jepit rambut Wardah yang ternyata belum terlepas.
Suara adzan subuh di gawai Eza berhasil mengusik tidur Wardah. Ia masih stay dipelukan Eza. Kehangatan ini membuatnya enggan untuk bangun walaupun hanya sekedar membangunkan Eza. Suasana pagi yang dingin menjadi salah satu faktor pula. Wardah mendongakkan kepalanya menghadap ke wajah Eza. Mengelus lembut pipi Eza hingga dagunya. Wajah tampan dan tenangnya saat tidur membuatnya tak tega untuk membangunkan.
"Mas, Mas, subuhan dulu Mas," lirih Wardah.
Ciuman lembut Wardah terjunkan di dagunya. Eza semakin mengeratkan pelukannya masih setia memejamkan mata.
"Dingin Ay..." lirih Eza dengan suara khas bangun tidurnya.
"Subuhan... Kan kita mau ke Jakarta," jawab Wardah.
Cuupp!
Satu kecupan mendarat di kening Wardah. Barulah Eza membuka matanya. Senyuman manis Eza di pagi hari membuat detak jantung Wardah berpacu semakin kencang.
Cup! Cup! Cup!
Mulai dari kening, pipi kanan-kiri, terakhir bibir Wardah, tak tertinggal untuk mendapatkan kecupan dari Eza.
"Udah, sholat dulu," ujar Wardah menjauhkan wajah Eza dari hadapannya.
__ADS_1
Eza mengambil wudhu, sedangkan Wardah menyiapkan perlengkapan sholat Eza. Menunggu sang surya memancarkan sinarnya, Wardah kembali merebahkan kepalanya di pundak Eza yang kini duduk di sofa. Melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan Eza yang menyimaknya. Aktivitas mereka terhenti saat sebuah ketukan pintu membuyarkan mereka.
"Pasti belum mandi, mandi dulu sayang. Setelah itu sarapan, terus berangkat ke Jakarta deh," ujar Mama setelah Wardah membukakan pintu.
Wardah tersenyum kemudian mengangguk. Menggandeng Mama agar ikut masuk ke kamarnya.
"Kirain balik tidur habis sholat," celetuk Mama melihat sang anak masih memegang Al-Quran, koko, dan sarung.
"Eza nggak pernah tidur lagi ya Maa setelah subuh," Protes Eza.
"Iya-iya, mandi sana. Wardah mau Mama ajak berberes," ujar Mama.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kembali terketok. Memunculkan sosok Alif dengan senyum merekahnya. Tanpa dipersilahkan, ia sudah nylonong masuk ke kamar sang kakak.
"Wuiiihhhh! Kamar pengantin memang beda ya Ma," celetuk Alif.
"Udah mandi belum kamu?" bukannya menjawab, Mama malah kembali bertanya.
"Udah Ma," jawab Alif yang kini tiduran di ranjang sembari menonton tv.
"Kadonya belum ada yang dibuka sayang?" tanya Mama.
Beberapa kado memang terlihat masih utuh belum dibuka sama sekali di bawah televisi.
"Ajak-ajak aku ya kak," ujar Alif.
"Iya kalau kamunya belum ke pondok," jawab Wardah.
🌾🌾🌾
Barang bawaan Wardah dan Eza sudah diboyong ke dalam mobil khusus. Kini tinggallah peralatan make up yang masih ada di atas meja. Kini Wardah tengah mengenakan jilbabnya. Sisa sentuhan terakhir, berupa pemasangan jarum pentul di atas ubun-ubunnya agar tak merosot jilbabnya.Barulah mereka menyusul keluarga yang lain ke Caffe.
"Sini, Mas aja yang bawa," ujar Eza mengambil alih tas Wardah.
Dengan senang hati Wardah menyerahkan tasnya. Make up intinya memang tak terlalu banyak, tapi juga ada tablet Eza di dalamnya. Tentu saja itu menambah beban berat tasnya. Hahaha.
"Mau nyebrang kalian nih?" tanya Hito yang hendak ke caffe pula bersama Caca.
"Iya, menyebrangi bahtera rumah tangga," jawab Eza.
Wardah yang melihat Anisa tengah menyantap makananya dengan disuapi Farhan sembari menggendong si gembul segera menghampirinya. Si Upin ternyata yang digendongnya, sedangkan Ipin digendong Bunda. Cocuiit sekali sahabatnya itu.
"Nis, Abang biar aku gendong dong!" ujar Wardah.
__ADS_1
"Kamu makan dulu gih! Kan sebentar lagi kita ke Jakarta," jawab Anisa.
"Nggak papa, aku pengen gendong Abang gembul," sambung Wardah dengan kekehnya dengan menggendong Upin.
Jadilah kini Wardah mengikuti Eza yang tengah mengambil makanan di meja prasmanan yang sudah disediakan. Wardah requests makanan, dan Eza yang mengambilkan.
" Arzan udah makan pendamping ASI Ay?" tanya Eza setelah mendapatkan tempat duduk.
"Belumlah Mas, baru 4 bulan. Dua bulan lagi baru boleh makan makanan pendamping," jawab Wardah yang kini duduk di samping Eza. Agar mudah menyuapi tentunya. Sejujurnya menggendong Arzan adalah alasan mereka agar bisa mesra-mesraan tanpa malu. Hahaha.
Wardah mengajak Arzan bermain, kemudian Eza menyuapinya.
"Simulasi sebelum punya anak nih?" tanya Hito.
"Comel banget sih kamu naaak," celetuk Caca mencubit gemas pipi Arzan.
"Namanya ngikutin aku. Makanya paras tampannya juga ngikut," jawab Eza.
"PD kali kau ini," balas Hito.
🌾🌾🌾
Wardah dan Eza mengantarkan Anisa dan Farhan ke bandara terlebih dahulu sebelum ke salah satu undangan stasiun tv. Perpisahan ini akhirnya datang juga. Selama perjalanan, Wardah tak henti-hentinya menciumi dan mengajak bermain si kembar. Coba saja waktu libur Eza bisa diperpanjang lagi, pasti Wardah akan memiliki waktu lebih lama bersama kembar.
"Udah, jangan sedih... Nanti kalau kita libur, bisa main ke Jombang," ujar Eza menggenggam jemari Wardah.
"Sedih banget pisah ama Kembar," lirih Wardah merebahkan kepalanya di pundak Eza.
Setibanya di stasiun tv X, mereka disambut dengan hangat oleh para crew. Wardah dirapikan kembali riasannya, begitu pula dengan Eza. Barulah mereka memasuki beberapa segment acara. Dialog santai dipimpin oleh tiga presenter dengan Eza dan Wardah yang menjawabnya.
"Dimana pertama kali kalian kenal?" tanya seorang presenter.
"Di kantor!"
"Di pantai!"
Jawab Wardah dan Eza bersamaan. Wardah sempat linglung alias bingung oleh jawaban suaminya.
"Waktu kita dikejar bapak satpam," bisik Eza.
Mata Wardah membulat seketika. Tak mungkin. Apa iya, laki-laki yang waktu itu adalah Eza? Tatapan Wardah sepenuhnya tertuju pada Eza. Wardah seketika blank tak tahu hendak menjawab apa dengan pertanyaan host. Jadilah Eza yang menjawab, Wardah hanya manggut-manggut, menimpali sedikit, dan tersenyum.
...Bersambung...
__ADS_1