
Sembari mengerjakan tugasnya, Wardah menghubungi sahabatnya. Beberapa waktu yang lalu Umi memberi kabar bahwa Anisa dirawat.
"Nis! Kamu nggak papakan? Kamu baik-baik aja kan? Debay-nya gimana?" tanya Wardah setelah sambungan telepon di angkat.
"Salam dulu napa sih!" jawab Anisa tak menggubris pertanyaan sahabatnya itu.
"Iya bumil. Assalamu'alaikum cantik," ujar Wardah.
"Waalaikumussalam cantikku juga," jawab Anisa.
"Sekarang jawab pertanyaan yang tadi!" todong Wardah.
Anisa mengubah mode telepon menjadi mode videocall. Dengan senang hati Wardah menuruti. Tapi kesenangan itu lenyap dikala Anisa memamerkan kemesraannya dengan Farhan. Pasalnya saat ini Farhan tengah tertidur dengan menyembunyikan wajahnya di antara ketiak dan dadanya. Jangan lupakan tangan Farhan yang memeluk erat Anisa.
"Dahlah! Udah sehat ternyata! Tak tutup! Assalamu'alaikum!" ujar Wardah menutup sambungan videocall sepihak.
Sebal sekali rasanya, enak aja pamer kemesraan dengan jomblo di sini. Mereka berdua benar-benar bersekongkol untuk mengerjai dirinya.
"Habis nelpon kok ngedumel sih!" celetuk Aditya menghampiri Wardah dan duduk di hadapannya. Tepatnya di kursi Angga.
"Punya sahabat rese banget! Mana suaminya ikutan rese pula! Masa mesra-mesraan dihadapkan ke aku!" jawab Wardah sebal. Ini sih lebih ke mengadu aslinya.
"Kamu kan bisa balas mereka, hahaha," ujar Aditya.
Wardah terlihat bingung dengan ucapan bosnya itu.
"Iya balas! Kapan-kapan kalau udah ada yang nyangkut," jawab Wardah kemudian kembali ke komputernya mengecek hasil tayangan liputan pagu.
"Sek! Tunggu-tunggu! Maaf ya Wardah... Maaf banget," Wardah tambah bingung dengan respon Aditya. Kenapa minta maaf?
"Suami kamu? Bukannya kamu sudah mempunyai suami? Atau kamu hanya berbohong waktu di pantai itu?" tanya Aditya hati-hati.
"Pantai? Kapan saya pernah bertemu Mas Al di pantai?" tanya balik Wardah.
"Lupakan, bukannya kamu sudah mempunyai suami?" tanya Aditya lagi. Bagaimana bisa ia lupa jika Wardah belum menyadari bahwa dia laki-laki yang mengajaknya lari-larian dikejar petugas keamanan.
"Caca benar-benar bermulut ember! Kalau begini gimana mau dapet gantinya Cak Ibil!" gumamnya dengan sangat lirih.
Untung saja Aditya sudah membersihkan telinganya pagi tadi. Jadi ia bisa mendengar bisikan lembut itu. Hahaha. Ada kelegaan tersendiri ketika mendengar jika wanita pujaannya mencari pengganti di hatinya.
"Iya, saya sudah bercerai tiga bulan yang lalu, karena suatu hal," lirih Wardah lagi. Ia menunduk sedalam-dalamnya. Kenapa rasanya malu sekali mengakui jika dirinya janda.
__ADS_1
Berbeda dengan Aditya yang kini tersenyum sumringah mendengar pernyataan itu. Ia tak perlu khawatir lagi mendekati wanita di hadapannya ini. Beruntung anak-anak yang lain belum datang ke kantor. Karena sekarang memang baru jam 6 pagi. Wardah memang berangkat sebelum subuh untuk mempersiapkan live liputan pagi. Dan Aditya tentu saja ingin bersama Wardah, makanya ia berangkat pagi juga.
"Hey! Kenapa? Kok malah sedih sih, maaf..." ujar Aditya.
"Hahaha, nggak papa Mas... Sarapan yuk!" ajak Wardah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kantinnya belum buka. Ayo ke ruangan saya," ajak Aditya.
Wardah tampak ragu, tapi Aditya sudah menarik lengan bajunya. Sepertinya itu memang menjadi hobi barunya saat ini. Menarik lengan baju Wardah tanpa meminta persetujuan.
"Wardah!" panggil seseorang sebelum ia benar-benar masuk ke ruangan Aditya.
"Mas Angga? Ada apa Mas?" Wardah melepaskan tangan Aditya yang menarik lengan bajunya.
"Oh! Nanti saja, sepertinya kamu ada perlu dengan Mas Adit. Permisi Mas," ujar Mas Angga pergi meninggalkan dua manusia yang saling pandang dengan bingung itu.
.
.
.
Ternyata Aditya sudah membawa bekal ke kantor. Bukan bekal makanan matang, melainkan bahan masakan yang sudah terjejer rapi di atas bar table. Ternyata di dalam ruangan Aditya tak kalah mewahnya. Sudah lengkap bak apartemen mewah.
"Nggak! Saya harus bantuin dong!" Protes Wardah.
"Boleh! Tapi cuma potong memotong saja! Selebihnya saya, saya ingin kamu mencicipi masakan saya," jawab Farhan memberikan pisau dan bahan yang akan di potong.
Wardah menyetujuinya. Selebihnya Aditya yang berkecimpung dengan peralatan memasaknya. Lucu melihat laki-laki itu mengenakan celemek. Wardah terkikik geli melihatnya. Ia jadi ingat sosok Ayah. Beliau sering kali mengajak Wardah kecil ke dapur. Menyulap sayuran-sayuran di kulkas menjadi masakan lezat. Meskipun tampak asal dalam mengerjakannya.
Oh! Tiba-tiba Wardah sangat rindu dengan Ayah. Wardah menangkup tangannya menutupi wajah cantiknya. Menghalangi butiran bening itu jatuh membasahi pipinya.
"Selesai!" seru Aditya meletakkan makanan matang di hadapan Wardah.
"Hey! Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Aditya panik melihat Wardah menangis dengan menutupi wajahnya. Wardah menggeleng lemah menjawab pertanyaan Aditya.
"Saya nggak bermaksud mencegah kamu memasak Wardah, saya hanya ingin kamu merasakan masakan saya," ujar Aditya lagi.
__ADS_1
Wardah menggeleng lagi sembari mengusap air matanya, "bukan, bukan masalah itu... Dedek hanya kangen Ayah, Dedek pengen ketemu Ayah," Lirih Wardah dengan sesenggukan. Bahkan ia tak sadar menyebutkan nama panggilan di rumahnya. Wardah menelungkupkan tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Serindu itukah ia dengan Ayahnya? Kenapa tak meneleponnya?" batin Aditya.
Tak tega rasanya melihat Wardah menangis seperti itu. Aditya mendekatinya dan mengusap lembut kepala Wardah yang tertutup jilbab.
"Tenang, sabar, kita telepon bareng yuk! Sekalian saya ingin berkenalan," ujar Aditya lembut.
Wardah memandangi wajah Aditya dan
"Ayah sudah di surganya Allah Mas," lirih Wardah.
DEG!
Hati Aditya runtuh seketika. Bisa-bisanya ia tak bertanya terlebih dahulu mengenai Ayah Wardah.
"Maaf, saya minta maaf,"
CKLEK!!!
Seorang laki-laki paruh baya memasuki ruangan Aditya tanpa mengetuk. Terbengong melihat anaknya memakai celemek dan berusaha menenangkan seorang gadis di depannya.
"Apa yang anak itu lakukan dengan anak orang?" gumamnya mendekati Aditya dan Wardah. Wardah tentu saja tak menyadarinya, karena ia kembali menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.
Aditya menarik tangan Papanya agar sedikit menjauh dari Wardah.
"Kamu apakan anak itu? Jangan macam-macam Za!" ujar Pak Adithama kepada anaknya. Ia baru saja berkunjung ke kantor sang anak, langsung disuguhi tangisan gadis yang ia yakini sangat baik dan cantik. Papa memang biasa memanggil anaknya dengan panggilan sesukanya. Kadang Eza, kadang Adit, kadang Altheza, dan lain-lain.
"Bantuin Eza nenagin dia Pa. Tiba-tiba dia nangis-nangis kangen sama Ayahnya yang sudah meninggal. Padahal cuma lihatin Eza masak aja," jelas Aditya.
"Siapa dia?" tanya Papa.
"Nanti Eza jelasin deh!" jawab Eza lagi.
"Dasar cemen! Cuma diemin anak nangis aja bingung." Celetuk Papa sembari mendekati Wardah.
Tapi, tak mendengar isakannya lagi. Hanya hembusan napas lembut teratur yang terdengar.
"Anaknya tidur," Ujar Papa berbisik.
Aditya terbengong mendekati Papanya. Wanita ini benar-benar *****. Kelelahan menangis malah tidur sembarangan. Mau tak mau Aditya memindahkan Wardah ke kamar pribadinya. Sepertinya makanan hasil masakannya menjadi rezeki Sang Papa.
__ADS_1
...Bersambung.... ...