
...YOK KOMEN YOK!...
...YOK LIKE YOK!...
...YOK VOTE YOK!...
...YOK BINTANG YOK!...
...YOK TONTON IKLAN YOK! ...
...Biar Semangat Up...
...Minta tolong di bantu tag kalau ada yang salah yaa.......
Menyelesaikan makan siang, mereka kembali ke kantor. Singgah sebentar di masjid kantor. Wardah bergantian dengan Faiz menjaga Sakha. Barulah ia berjamaah dengan Eza. Selalu seperti itu. Suami istri itu tak pernah sekalipun meninggalkan sholat jamaah. Kecuali jika taka da yang menjaga Sakha, barulah Wardah sholat belakangan.
__ADS_1
Di ruangan Eza Wardah dan Sakha sudah tiduran di tempat tidur yang memang disediakan di ruangannya. Untuk jaga-jaga jika Eza lembur ataupun jika Sakha ikut ke kantor dan perlu tidur siang. Tidak dalam satu ruangan, kamar pribadi ini ada di satu ruangan khusus. Tak mungkin tempat tidur berada di satu ruang kerja. Bisa mengganggu jika seandainya ada tamu. Ruang kerja Eza yang bisanya rapi paripurna pun kini sudah berubah dengan adanya beberapa mainan yang berceceran di tiap titik. Ulah siapa lagi kalau bukan Sakha?
Eza yang notabene-nya suka kebersihan juga mulai terbiasa dengan hal ini. Asalkan tak ada debu menempel ditiap barangnya. Justru ia senang saat bekerja ditemani oleh Sakha yang memainkan mainan di ruangannya. Seolah menjadi obat penat di saat pekerjaan cukup memusingkan.
Wardah mengelus lembut alis Sakha agar lekas tertidur. Sakha memang lebih cepat tertidur jika alisnya dielus. Bukan hanya Sakha, Wardah pun jika tak bisa tidur pasti Eza mengelus alisnya juga. Dengan begitu ia dapat tertidur dengan pulas.
“Udah bobok belum?” bisik Eza menghampiri istri dan anaknya.
“Udah sepempat watt ini,” bisik Wardah lagi.
Wardah menutip gorden agar anaknya tak terkena sengatan pancaran sinar matahari. Barulah ia ajak Eza keluar. Di ruang kerja Eza saja mereka berdua bingung akan melakukan apa. Pasalnya kalaupun pulang, nanti Eza harus kembali ke kantor lagi. Ada tamu yang akan menemuinya katanya. Makanya mereka tak pulang sekarang. Untuk mengusir rasa bosan dan capek berbincang berdua, Wardah mengambil tablet Eza dan mulai mencari film action untuk menemani mereka.
Wardah yang awalnya mengajak Eza untuk menonton di sofa Panjang sontak menarik pergelangan tangan Wardah. Terduduklah Wardah di pangkuan Eza. Beruntung tablet di tangannya tak terjatuh.
“Gini aja nontonnya, lebih romantis,” ujar Eza yang kini memeluk Wardah yang ada dipangkuannya.
__ADS_1
Wardah menurutinya dan mencari posisi yang nyaman. Biar tahu rasa nanti kalau kakinya kesemutan. Eza membopong Wardah untuk duduk di sofa Panjang. Sepertinya posisi seperti tadi tak akan bertahan lama. Hahaha.
“Dasar, tadi sok sok’an biar romantis,” ledek Wardah.
“Kayak gini juga romantis kok Ay,” bela Eza yang kini menyelonjorkan kakinya dengan Wardah yang masih dipangkuannya.
Eza mengambil tablet Wardah dan memilih film horror. Sempat berdebat dengan Wardah tadi, karena Wardah memang tak suka film horror. Benar saja, bukannya terus menonton, Wardah lebih sering menutup mata dan telinganya karena takut.
“Permisi Pak,” sapa seorang karyawan yang tiba-tiba masuk.
Melihat posisi kedua atasannya yang tengah mesra-mesraan membuat ia terkejut. Ia merasa hilang muka seketika. Kehadirannya sama sekali tak tepat. Padahal ia tadi sudah mengetuk pintu, karena tak ada sahutan akhirnya karyawan itu membuka pintu bosnya. Wardah segera turun dari sofa dan menghampiri karyawan itu.
“I-Ittu Mbak Wardah, tamu-nya Pak Eza sudah datang,” ujar karyawan itu dengan gagap.
...Bersambung...
__ADS_1