
Setelah aktivitas siang yang cukup melelahkan, terbangunlah Wardah dari tidurnya. Dilihatnya, sang suami masih tertidur dengan pulasnya. Dengan hati-hati Wardah memindahkan tangan Eza yang kini memeluknya. Waktu sholat asar sudah sampai, ia harus segera mandi.
Asik menikmati kucuran air dari shower, Wardah sampai tak sadar jika ada sosok yang memperhatikannya. Eza tengah menyangga kepalanya menikmati pemandangan indah itu. Hingga ketika Wardah membalikkan badannya terkaget-kaget hampir terjungkal.
"Astaghfirullah! Mas! Ini transparan? Astaghfirullah!" panik Wardah berusaha menutupi tubuhnya yang bu gil.
Bisa-bisanya ia tak tahu jika kamar mandi di kamarnya transparan. Eza tersenyum jail menghampiri istrinya yang berusaha menggapai handuk.
"Sengaja biar bisa lihatin pemandangan indah," celetuk Eza yang kini sudah membuka pintu kamar mandi.
"Mandi bareng kayaknya lebih estetik deh Ay," ujar Eza menahan tangan Wardah agar tak mengambil handuk.
"Bisa-bisanya milih kamar yang kek gini," gerutu Wardah.
"Terus kalau pop juga nampak dari luar?" tanya Wardah.
"Iyalah," jawab Eza dengan entengnya.
Wardah geleng-geleng kepala gemas dengan suaminya. Jadilah mereka mandi bersama sore ini. Selepas sholat asar, Wardah dan Eza kembali membasahi tubuh mereka dengan menikmati pemandangan sekitar melalui kolam renang di kamar mereka.
Sekaligus menikmati makan siang yang dijamak di sore hari. Eza memeluk Wardah dari belakang sembari menerima suapan makanan darinya. Wardah kira air kolam ini dingin seperti pagi tadi yang ia rasakan. Ternyata air kolam ini bisa dirubah menjadi air hangat. Canggihnyaa, pikir Wardah.
Ia bisa sepuasnya berendam tanpa memikirkan kulitnya kedinginan.Hamper satu jam Wardah dan Eza menghabiskan waktu di dalam kolam renang. Sebenarnya Wardah tak bisa berenang, taoi ia senang bermain air. Jadilah Wardah bermain di pinggiran kolam saja.
“Ayo Ay aku ajarin berenang,” ujar Eza yang kini memeluk Wardah dari belakang.
Eza menyibakkan rambut Wardah yang terlepas dari sanggulannya. Basah sudah rambutnya. Menyibakkan rambut Wardah kesamping. Kembali terpampang dengan indahnya kulit putih mulus nan jenjang itu. Area inilah yang menjadi tempat favorit Eza. Tapi BOONG! Seluruhnya yang berkaitan dengan Wardah merupakan favoritnya. Hahaha.
Untuk menghindari kegiatan sebelum berenang tadi, Wardah memilih untuk mengganti aktifitas Eza dengan mengajarinya berenang. Baru enam jam di sini, masak sudah 5 kali mereka bersenandung merdu? Wkwkwk.
Setidaknya jika melakukan hal itu lagi, nanti malam saja. Hahaha. Biarkan Wardah menikmati villa ini terlebih dahulu. Bukan hanya di ranjang saja. Tenang, itu hanya secuil perasaan Wardah saja. Sebagian besar lainnya ia sebenarnya senang mendapatkan perlakuan yang mengenakkan itu.
__ADS_1
"Udah yuk! Udah makin dingin," ajak Eza.
Wardah menurut saja. Setidaknya ia berhasil menghalangi Eza untuk tidak kembali menyentuhnya. Malam ini Eza mengajak Wardah untuk makan malam di kapal pesiar ala-ala. Yakni sebuah kapal pesiar yang sengaja dibuat di tengah-tengah kebun teh. Tentu saja juga sebagai penarik wisatawan.
Hai gaess! Wardah menyapa kalian. Katanya ada yang kangen? Hahaha.
Eza memilihkan tempat duduk di luar kapal agar bisa menikmati pemandangan alam sekitar. Seperti biasa, Eza dan Wardah harus kembali meladeni para penggemarnya. Karena memang ini tempat umum.
"Astaghfirullah!" kaget Eza dan Wardah bersamaan. Tiba-tiba ada yang memeluk Eza. Spontan Eza mendorong perempuan itu.
"Nggak bisa gitu dong Mbak!" tegas Wardah yang kaget saat ada seorang perempuan memeluk Eza saat berfoto.
"Kan cuma foto aja Mbak," ujar Mbak-Mbak itu.
"Hargain saya yang istrinya Mas Eza dong," bantah Wardah lagi.
"Mas juga! Diem aja? Oohh, seneng ada yang meluk-meluk gitu?" sambung Wardah yang kini ke suaminya.
"Maaf ya Mbak... Sebaiknya nggak usah dilanjutkan ya. Tidak semua orang mau dipeluk sembarangan ya," ujar Eza pada orang itu.
Eza memeluk Wardah erat. Mengajaknya ke tempat yang sepi. Lebih tepatnya, ruangan yang sengaja Eza pesan sendiri. Tepat di lantai paling atas kapal pesiar. Wardah masih saja terdiam. Bahkan kini ia malah menangis.
"Ay... Jangan nangis gini," bujuk Eza kembali memeluk Wardah.
Eza cukup kaget tadi saat istrinya marah-marah. Ia sudah akan angkat bicara, tapi Wardah sudah terlebih dahulu nyolot. Ada secercah rasa bahagia sebenarnya. Rasa bahagia saat sang istri cemburu.
"Aku nggak rela milik aku dipeluk-peluk orang lain, huhuuhu" ujar Wardah dengan sesenggukan.
Eza menahan senyumannya mendengar penuturan Warda. Hatinya semakin bahagia saat ini. Itu tandanya sang istri begitu mencintainya. Beruntung Eza bukan artis yang harus bermain peran dengan banyak wanita. Jika iya, dapat dipastikan Wardah akan menangis setiap hari.
__ADS_1
"Sayaang, Mas hanya untuk kamu seorang..." lirih Eza menangkup pipi Wardah.
Diciumnya mata indah itu secara bergantian. Hidung, hingga bibirnya.
"Cinta banget ya sama Mas?" tanya Eza dengan cengirannya.
Wardah cemberut mendengar tuturan suaminya.
"Pakek ditanya lagi!" protes Wardah memukul dada Eza.
Ditariknya Wardah kembali ke pelukannya. Eza duduk di sofa dengan memangku Wardah. Wardah yang malu pun kembali menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Eza.
"Terima kasih ya Mas," ujar Eza pada waiters yang mengantarkan pesanannya.
"Mass, maluu," cicit Wardah.
Ia tak tahu jika akan ada waiters yang mengantarkan makanan. Posisinya masih berada di pangkuan Eza. Ia benar-benar tak berani mengangkat kepalanya.
"Mbaknya kenapa Mas?" ternyata waiters itu punya jiwa kepo.
Wardah semakin malu. Diremasnya baju kemeja Eza saking malunya. Eza semakin memeluk Wardah untuk menenangkannya sembari menepuk-nepuk halus punggungnya.
"Nggak papa, lagi kangen aja sama suaminya, jadinya ya gini, nempel terus, hehehe," jawab Eza sekenanya.
Waiters itu manggut-manggut mengerti. Kemudian pamit pergi.
"Udah, cuma kita di sini," ujar Eza.
Barulah Wardah berani mengangkat kepalanya. Mendongak ke Eza.
"Jawaban apa itu?" sindir Wardah dan Eza terkikik menimpali.
__ADS_1
🌾🌾🌾
...Bersambung...