Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Arem²


__ADS_3

Anyong Haseo.... Kita lanjut lagi ya cerita Wardah dan Eza-nya.... Komen yang banyak yaa gaess, biar Lhu-Lhu cemungut, hehehe


like vote nya jg jgn lupaaa.....


Wardah mencoba menghubungi Bang Fadhil untuk menanyakan keperluannya. Dua kali ia mencoba menghubungi tapi tak ada jawaban sama sekali dari si empunya. Akhirnya Wardah meninggalkan pesan teks.


‘Bang Fadhil ada perlu apa sama saya?’ Wardah


Belum ada tanda-tanda balasan, Wardah memilih untuk mengupas beberapa buah untuk cemilannya sembari menunggu Eza dan Sakha yang juga ikut dengan Ayahnya. Setelah buah kupasannya siap, Wardah duduk di kursi Eza, menyalakan laptopnya dan bersiap menonton. Sudah lama rasanya ia tak bersantai ria seperti ini. Jika biasanya ia akan memilih drama oppa-oppa, kini Wardah lebih tertarik dengan film Indonesia yang baru saja rilis. Kebetulan di laman premium langganannya sudah ada pula. Film ‘Hati Suhita’ menjadi pilihannya saat ini. Film karangan Ning Khilma Anis ini benar-benar menyita perhatiannya dari awal rilis cuplikan. Akhirnya kini sudah bisa ditonton.


Kisah yang dulu hampir sama terjadi padanya, bedanya tak ada pihak lain saat itu dan Wardah berakhir sad ending. Sedangkan Suhita berakhir happy. Benar-benar film yang luar biasa. Pembawaan dunia pesantren juga sangat kental sekali. Membuat Wardah ingin berkunjung ke pesantren sowan kepada Abah dan Umi Kyai. Cukup lama ternyata Eza dan Sakha keluar. Sampai Wardah hampir selesai menonton filmnya.


“Assalamu’alaikum Mas, dimana sih? Kok lama banget keluarnya?” tanya Wardah yang kini menelepon Eza.


“Waalaikumsalam, iyaa Ay, ini tadi habis rapat aku ajak Sakha beli jajan di foodcar sebrang kantor. Ada banyak jajanan rumahan Ay, kamu nggak?” jawab Eza di sebrang telepon.


Mendengar suaminya menyebutkan jajanan rumahan, mata Wardah berbinar seketika. Ia pengen makan arem-arem. Jajanan khas jawa yang terbuat dari nasi yang dibungkus dengan daun, ditambah dengan beberapa tumisan lauk di dalamnya. Kemudian di kukus beberapa saat. Bergegas ia langsung mematikan laptop Eza, dan segera menyusul mereka. Bisa-bisanya ia baru dikabari saat menelepon.


“Mau kemana hey? Buru-buru banget, hati-hati jalannya,” sapa Kak Nuy yang melihat Wardah bergegas menuju lift.


“Mau nyusulin Mas Eza di bawah Kak,” jawab Wardah.

__ADS_1


Ia kembali melangkahkan kakinya, tapi kini lebih santai. Saking semangatnya ia sampai lupa jika tengah hamil. Wardah menyusuri lobi kantor dan segera keluar. Nyebrang? Ia sampai lupa jika dirinya tak berani menyebrang sendiri. Wardah celingukan mencari seseorang untuk membantunya menyebrang.


Di samping itu, Eza yang sudah di tempat tengah sibuk menggandeng Sakha yang melihat-lihat makanan yang ada. Ada beberapa mobil bak yang sudah tertata rapi memamerkan jajanan tradisional mereka. Bukan hanya jajanan tradisional, tapi juga makanan inovasi-inovasi para pedagang di sana. Bisa di sebut ini adalah bazar makanan.


Sosok Eza yang merupakan bibitan hot dady tentu menjadi beberapa perbincangan beberapa pengunjung di sana yang memang cukup ramai juga. Apalagi dipadukan dengan Sakha yang juga termasuk bibit unggul. Wajahnya yang tampan, imut, lucu juga tak lepas dari perhatian orang-orang. Beruntung tak ada yang mengerubungi Sakha seperti waktu-waktu biasanya di tempat umum. Bisa bosan anak itu jika dimintai banyak foto bersama.


“Ayah! Tu Buna!” seru Sakha yang melihat siluet Buna-nya.


Wardah akhirnya dibantu Mamang satpam untuk menyebrang tadi. Ia celingukan mencari keberadaan Sakha dan Eza. Keduanya yang sudah melihat Wardah pun langsung menghampirinya yang masih celingukan.


“Buna tantik!” goda Sakha yang kini sudah digendongan Eza.


“Dasar! Udah jago ngrayu ya anak kamu,” kekehan Eza.


“Ooh, itu ceweknya? Kayaknya aku pernah lihat deh! Dimana ya,” bisik seseorang pada temannya.


“Iyaa sama, aku juga nggak asing lihat wajahnya,” jawab temannya.


Keluarga kecil itu mulai berkeliling mencari jajanan yang menurut mereka menarik. Tujuan Wardah pun belum berubah, ia masih ingin mencari arem-arem. Tentu saja Eza dengan senang hati menemani istri tercintanya untuk mencari. Eza menggandeng Wardah dengan eratnya dan di sisi lainnya ia menggendong Sakha. Saat-saat seperti inilah yang membuat para penonton mulai gusar. Adegan manis yang membuat mereka gemas. Keluarga yang amat sangat diimpikan oleh semua orang.


“Demi apa! Dari sekian banyak keluarga romantis, mereka itu yang paling berhasil menyita keirian gua!” celetuk salah seorang pengunjung.

__ADS_1


“Iya, bener banget! Ayo dong minta fotonya mereka, mumpung ketemu nih!” celetuk temannya yang lain.


Jadilah para fans mulai beraksi setelah kedatangan Wardah. Mau tak mau mereka berfoto bersama. Beruntungnya tak banyak. Setelah itu mereka baru bebas berbelanja. Dengan senang hati pula Eza menemani Wardah mencari arem-arem keinginannya. Dari satu tempat, ke tempat lain mereka datangi tapi belum ada tanda-tanda menemukan.


“Coba ke mbah-mbah itu aja Ay, siapa tahu ada,” ujar Eza.


Ia melihat seorang nenek-nenek yang menunggu bakul di depannya. Tak seperti yang lainnya yang menggunakan food car. Cukup ramai juga di tempat Mbah itu, yang dibantu oleh seorang perempuan. Sepertinya itu anaknya.


“Permisi Mbah, ada jajanan arem-arem mboten nggeh?” tanya Eza dengan lembut.


*tidak ya?


“Arem-arem? Wallah, lha kok kebetulan sudah habis Le,” jawab Mbah itu.


*Le: sebutan untuk laki-laki muda dalam bahasa Jawa.


“Kita telat Mass,” lirih Wardah dengan kecewanya.


“Lho, lagi ngisi ta? Ayo ke rumahnya Mbah, di rumahnya Mbah masih ada”


"Beneran Mbah? Monggo Mbah, saya antar pakai mobil saya," ujar Eza yang segera bergegas mengambil mobilnya.

__ADS_1


... Bersambung.......


__ADS_2