
...Iya-iya, Lhu-Lhu up lagi. Mohon maaf, kemarin kemarin Lhu-Lhu lagi banyak tugas, jadi belum bisa up....
...----------------...
Eza sudah ditunggu di ruang rapatnya oleh beberapa pengurus perusahaan. Tak membutuhkan waktu lama ternyata, mereka hanya membahas mengenai program baru acara tv mereka yang membutuhkan persetujuan Eza.
"Berita tentang kamu juga sudah menyebar Za, foto yang diupload Mama kamu juga sudah menyebar. Tapi, kenapa wajah calon kamu itu ditutupi emotc di postingan kamu?" tanya Pak Dana.
"Biarkan saja berita itu menyebar selagi masih dalam batas wajar. Terus pantau perkembangannya. Jangan sampai memberitakan hal-hal yang buruk, sebenarnya saya ingin menunjukkan pada publik siapa calon istri saya, tapi istri saya belum siap menjadi konsumsi publik... Eh! Mama sudah duluan membocorkannya. hahaha," jawab Eza.
"Kemarin ada foto menyebar juga, kalau kamu liburan dengan presenter baru dari divisi news," sanggah Pak Dana.
"Bapak cukup update juga ternyata. Saya permisi, Assalamu'alaikum," pamit Eza.
Ntah kenapa Bapak satu itu sangat kepo dengan kehidupannya. Eza bergegas beralih ke studio untuk menjemput Wardah. Tak habis-habis Bapak itu membahas perihal dirinya.
Eza disambut petugas keamanan ruang studio. Karena memang tak jarang ada orang yang menerobos masuk untuk menemui idola mereka. Jadi diperlukan penjagaan ketat di tiap wilayah kantornya.
"Pak Eza, bagaimana kabarnya Pak?" sapa petugas keamanan itu.
"Alhamdulillah baik Pak, mari saya masuk dulu,” jawab Eza tak lupa layangan senyumannya. Eza memang sosok atasan yang ramah plus murah senyum. Sehingga para karyawannya tak canggung jika menyapanya.
Wardah ternyata belum menyelesaikan prosesi syutingnya. Tak sengaja ekor matanya menangkap keberadaan Eza di balik kamera.
"Udah selesai rapatnya Mas?" tanya Wardah disela-sela syutingnya.
"Udah, barusan," jawab Eza sembari duduk di sofa yang telah disediakan.
"Wooaahh! Tumben CEO main ke studio. Biasanya kalau ada undangan syuting saja baru mau ke sini," sindir Pak Eko.
__ADS_1
"Jangan fitnah Pak," protes Eza. Pasalnya Eza masih sering mengecek tiap divisi di kantornya. Terutama studio ini.
"Hahaha, bercanda Za. Nanti Bapak kamu turunkan di bidang OB pulak," canda Pak Eko.
Eza ditemani Pak Eko sembari menunggu Wardah yang sedang siaran. Satu jam kemudian, akhirnya selesai juga Wardah dengan tugasnya.
"Bunda udah nelpon aja dari tadi," ujar Wardah setelah duduk di samping Eza.
"Iya, barusan juga nelpon Mas," jawab Eza.
"Kalian ini beneran ta? Bukan sensasi tok-kan?" tanya Pak Eko.
"Mohon doanya ya Pak... Kami pamit dulu, Assalamu'alaikum," pamit kemudian diikuti Wardah.
...----------------...
Sesekali Wardah menarik lengan baju Eza untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tak oleng karena tatapan orang-orang.
"Wardah!" panggil Caca menghampiri Wardah.
Jangan lupakan wajah manyunnya itu. Ia masih marah dengan Wardah. Bisa-bisanya ia tak mengajak Caca dalam prosesi pernyataan cinta Eza.
"Jangan di sini ya, pliiss, aku malu dilihatin orang-orang," lirih Wardah yang kini merangkul lengan sahabatnya itu.
"Kebiasaan, kalau jadi pusat pandangan pasti oleng," jawab Caca.
Akhirnya Caca ikut Wardah ke lobi. Sembari menunggu Eza yang mengambil mobilnya di basement.
"Gua pengen dengerin cerita elu, tapi kerjaan gua belum selesai. Jadi, nanti gua ke apartemen. Harus jelasin semuanya, oke!" ujar Caca.Wardah mengangguk kemudian segera masuk ke mobil setelah Eza datang.
__ADS_1
...----------------...
Keluar dari mobil Eza dan Wardah langsung diserbu beberapa awak media di depan lobi apartemen. Wardah sudah diintruksikan menggunakan masker oleh Eza. Sudah Eza duga, pasti sudah tersebar kabar kepulangannya dari Labuan Bajo.
Eza membelah kerumunan orang di sekitarnya untuk melindungi Wardah. Dirangkulnya Wardah agar terhindar dari para wartawan itu. Bahkan Eza sudah memerintahkan pada penjaga keamanan untuk membantunya menghindari awak media.
"Ngeri deh Mas, kalau lihat orang-orang itu," ujar Wardah melihat ke belakang masih banyak awak media di pintu masuk.
"Sabar ya, sebentar lagi kita go publik," jawab Eza.
"Takut Mas," lirih Wardah.
"Tenang, kan ada Mamas," jawab Eza.
"Assalamu'alaikum," sapa Wardah dan Eza memasuki apartemennya.
Tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Tapi klotekan perpaduan antara sutil dengan wajan saling beradu.
Eza tercengang melihat Alif yang sibuk membantu Bunda memasak. Bahkan mereka berdua tak sadar jika putri dan Kakaknya sudah pulang.
"Fokus banget dah! Masak aja sampai nggak dengar ada yang ngucap salam," celetuk Wardah mendekati Bunda dan Alif.
"Lho! Udah pulang, belum mateng makanannya Dek," jawab Bunda.
"Tumbenan kamu Lif di dapur, Mama di dapur aja nggak pernah kamu samperin," ujar Alif duduk di meja makan.
"Proses belajar ini Kak," jawab Alif.
...Bersambung... ...
__ADS_1