
...YOK KOMEN YOK!...
...YOK LIKE YOK!...
...YOK VOTE YOK!...
...YOK BINTANG YOK!...
...YOK TONTON IKLAN YOK! ...
...Biar Semangat Up...
Tengah asik berbincang berdua pandangan Wardah tertuju pada seseorang yang tak jauh dari posisi mereka. Benar-benar sosok yang familiar sekali. Wardah menajamkan penglihatannya karena memang cukup remang. Gita! Benar itu Gita! Dengan spontan Wardah memanggil teman yang tadi baru saja ia temui di kantor.
__ADS_1
Gita yang mendengar Wardah memanggil terlihat tengah memfokuskan penglihatannya pula pada Wardah. Wardah melambaikan tangannya tanpa beranjak dari pembaringannya. Gita yang sudah sadar sontak membalas lambaian tangan Wardah. Ternyata Wanita itu tak sendirian. Bersama laki-laki yang tingginya sedikit hampir sama dengan Eza suaminya.
Wardah langsung duduk menyapa Gita yang berjalan menghampirinya dengan Eza dan Sakha. Eza tersenyum ramah menyambut kehadiran partner kerja sekaligus teman istrinya itu. Mereka memberikan tempat untuk Gita dan partnernya itu.
“Wiish, malam mingguan nih ceritanya,” ledek Wardah sembari menawari cemilan untuk temannya itu.
“Iya dong! Kamu nggak kenal sama cowok yang sama aku ini?” jawab Gita disambung dengan pertanyaannya.
Wardah tampak diam sejenak dan mengamati, menganalisis atau apalah itu terhadap laki-laki itu. Sampai-sampai laki-laki itu tersipu karena dilihati oleh Wardah. Eza spontan mengusap wajah istrinya agar menyudahi aksi analisanya itu. Bisa-bisanya sang istri membuat orang tak nyaman. Wardah meringis menimpali suaminya. Ia berfikir kembali. Tapi ia sama sekali tak menemukan siapa gerangan laki-laki itu. Sudah pasti dia teman sekolah atau mungkin teman kuliahnya dulu.
“Ha? Yang bener!” kaget Wardah seolah tak percaya.
“Hai Wardah, lama ya udah nggak ketemu,” ujar Laki-laki itu tampak tersenyum menyapa Wardah.
__ADS_1
“Hallo, bang,” jawab Wardah dengan komuknya yang masih tak percaya dan mendadak canggung.
Kalian masih ingat Bang Fadhil? Cowok Minang dari Sumatra Barat yang juga teman sekelas Wardah. Bukan hanya itu, ia juga laki-laki cinta pertamanya dulu. Yaaa, anggap saja cinta monyetnya dulu zaman di pesantren. Banyak pertanyaan muncul kini dipikiran Wardah. Bagaimana mungkin ada suatu kebetulan seperti ini? Gita? Bang Fadhil? Ntahlah! Wardah tak ingin memikirkannya. Nanti saja ia tanya melalui chat atau telepon kepada Gita. Bukan karena masih ada rasa, ia hanya terkejut dipertemukan kembali oleh Allah dengan cara seperti ini.
Disamping Wardah yang bingung hendak membahas apa, beruntung di sini Eza membantunya mencairkan suasana. Eza banyak mengajak Bang Fadhil berbincang. Sehingga Wardah hanya perlu bercengkrama dengan Gita atau sekedar menimpali perbincangan suaminya. Sakha juga mendukung reuni dadakan ini dengan yang mulanya anteng bermain menjadi reog mengajak Ayah dan Buna-nya bermain. Mau tak mau Wardah mengikuti Sakha yang berjalan mengelilingi sekitar sembari bergabung berbincang.
“Aku nggak nyangka lho kalau kamu udah menikah Wardah, bahkan sudah memiliki anak,” ujar Bang Fadhil diakhiri dengan tawa garingnya.
“Sudah hampir empat tahun Bang. Kalian aneh, padahal dulu aku sama Mas Eza ngadain acara resepsi di Jombang sebelum di Jakarta. Keluarga pesantren juga ikut andil padahal, kok bisa nggak sampai kabarnya ke kalian berdua? Iyakan Mas?” jawab Wardah dengan meminta dukungan jawaban suaminya.
“Iyaa, kami juga sempat mukim (menetap) di Jombang beberapa bulan,” sambung Eza.
Dan di sinilah Wardah tahu jika ternyata sekarang Bang Fadhil menjalin hubungan dengan Gita. Daebak! Sungguh tak terduga. Dan ternyata Bang Fadhil sudah menetap di Jakarta hampir satu tahun ini setelah sebelumnya sering dipindah tugaskan di berbagai kota lain.
__ADS_1
Hari semakin malam dan Sakha juga sudah tertidur. Mungkin Lelah sudah berjalan mengitari sekitar sungai. Sungai yang mereka tempati singgah tergolong terang, meski sedikit remang dengan beberapa penjaga. Sehingga mereka yang berada di sekitar itu tak merasa takut. Eza meminta izin pamit pada Gita dan Fadhil. Ternyata keduanya juga ikut untuk pulang juga. Eza menggendong Sakha dan membenarkan posisi anak itu agar tetap nyaman digendongannya. Tangan sisinya seperti biasa menggandeng jemari istrinya.
...Bersambung...