
...YOK KOMEN YOK!...
...YOK LIKE YOK!...
...YOK VOTE YOK!...
...YOK BINTANG YOK!...
...YOK TONTON IKLAN YOK! ...
...Biar Semangat Up...
...Minta Tolong Tag kalau menemukan ada yg salah yaa.......
Wardah, Eza, Faiz memilih untuk berjalan kaki menuju café pilihan mereka. Keluar dari pintu loni Sakha terus saja berontak ingin berjalan sendiri. Berulang kali Eza menenangkannya tapi tetap saja. Padahal jalanan sedang ramai-ramainya. Jadilah Wardah memakaikan sepatu Sakha yang tadi sempat dilepas agar tak kepanasan menginjak aspal. Dengan girangnya Sakha berjalan bergandengan dengan Faiz.
__ADS_1
Jika begini, Wardah dan Eza bisa bebas berduaan. Hahaha. Wardah memeluk lengan Eza. Sudah lama rasanya tak berjalan berduaan seperti ini. Karena Eza pasti hanya sekedar menggenggam tangannya. Dan sisi lainnya menggendong Sakha.
“Apa lebih baik kita liburan aja Ay?” tanya Eza tiba-tiba.
“Ngawur! Mending kalau anak kamu mau ditinggal. Jelas dia pengennya barengan terus sama Buna Ayahnya,” jawab Wardah sedikit memukul lengan Eza.
“Haha, iya ya, aku lagi kangen pengen berduaan sama kamu,” celetuk Eza lagi.
Sukses membuat Wardah merona. Tak dapat dipungkiri, dirinya juga ingin my times berdua dengan Eza. Wardah jadi berpikir, bagaimana jika nanti Sakha punya adik? Ia pasti tak akan bisa liburan berdua saja. Mau tak mau harus liburan berempat atau bertiga jika Sakha sudah memiliki adik.
Sampai di café, Wardah memesankan makanan untuk Faiz dan juga Eza. Ia juga meminjam daput café untuk menghangatkan makanan Sakha. Wardah dan Eza yang sudah sering ke café itu tak canggung lagi untuk sekedar menumpang menghangatkan makanan Sakha. Beruntung juga pemilik café itu juga merupakan kenalan Eza. Sebenarnya ada saja makanan yang bisa dinikmati Sakha di sini. tapi Wardah memang cukup protektif untuk urusan makanan Sakha. Jadilah ia selalu membuatkan makanan sendiri untuk Sakha. Kalaupun Sakha jajan di luar, ia pasti membatasi makanan untuk si kecil.
Pernah suatu waktu mereka makan disebuah restoran, Sakha yang sudah banyak dikenal orang menjadi pusat krumunan untuk mengajak anak itu berfoto. Sakha yang sudah bosan dan tak suka dikerumuni oleh banyak orang tentu saja berubah seketika menjadi reog yang siap atraksi.
“Kita makan siang dulu sayaang,” ujar Wardah menghampiri Sakha yang tengah berjalan-jalan mengeksplor café bagian atas.
__ADS_1
Dengan mengikuti Sakha berjalan Wardah menyuapi si kecil. Benar-benar menguras tenaga untuk mengikuti Sakha. Wardah sampai meminta pada Eza untuk membujuk Sakha agar mau duduk tenang. Jadilah tv yang seharusnya menayangkan siaran untuk seluruh pengunjung bagian atas, berubah menjadi kekuasaan Sakha seorang. Tayangan spongeboob kini yang menghiasi tv umum itu. Barulah Sakha mau duduk, makan, sembari menikmati tontonannya.
“Nggak ada yang bisa nandingin Sakha! Yang lain ya pada takutlah!” celetuk Faiz yang melihat Sakha suantui.
“Spesies seperti ini tu langka Iz,” jawab Eza.
Sembari menyuapi Sakha Wardah juga menyuapi dirinya. Memang harus seperti itu. Dalam satu waktu harus bisa melakukan banyak hal.
“Kita liburan ke puncak yuk Kak! Bentar lagikan Naya sama Dinda liburan semester,” ujar Faiz.
“Boleh tuh! Kita agendakan aja Iz! Oh iya, memangnya kamu libur kuliahnya? Kalau kantor mah bisa ngambil cuti,” tanya Wardah.
“Itu aman deh nanti, Faiz lebih sering tugas praktek individu kok Kak, jadi ke kampusnya jarang-jarang,” jawab Faiz.
__ADS_1
“Ya udah kalau aman,”
...Bersambung...