Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Akhirnya


__ADS_3

Di persidangan, seluruh kelakuan bej*t Pak Nugroho terbongkar. Bukan hanya pembunuhan, tindakan suap dan korupsi tak tak sedikit jumlahnya juga terbongkar. Motif pembunuhannya berawal dari Ayah Wardah yang mengetahui bahwa Pak Nugroho korupsi. Ayah Wardah yang merupakan sahabatnya dulu tak sengaja mengetahui hal itu saat berkunjung di kediamannya. Ayah Wardah awalnya sudah menasehatinya dan memintanya untuk menyerahkan diri. Saat itu belum terlalu banyak tindakan kasus suap yang ia lakukan. Tak terima dengan nasehat yang diberikan Ayahanda Wardah, sontak Pak Nugroho merencanakan dan melakukan aksi tersebut.


Setelah pembunuhan itu berlangsung Nugroho justru tak menyesali perbuatannya, justru ia semakin berulah hingga kini kasus suap dan korupsinya mencapai angka milliyaran rupiah. Jadilah kini ia terbukti melakukan pelanggaran pasal berlapis. Usaha pengancaman yang ia lakukan terhadap Om Bagas pun terdeteksi pula. Sehingga pengamanan terhadap pihak terkait saat ini dilimpahkan pada pihak berwajib.


Berita mengenai hasil siding terakhir sudah tersebar di seluruh penjuru media sosial maupun televisi. Bukan hanya mengenai kasus, tapi juga berita mengenai pengangkatan hak asuh anak oleh Eza dan Wardah. Baru saja keluar dari ruang persidangan, mereka sudh disuguhi oleh reporter yang berbondong-bondong menghampiri mereka. Anisa dan Farhan yang juga menemani mereka sontak membawa Wardah untuk segera memasuki mobil. Eza tampak masih mencoba memberikan beberapa penjelasan kepada para reporter itu.


“Iya, pasti saya akan membuka konferensi pers beberapa hari lagi. Tapi tidak untuk saat ini. Ntah itu di kota ini atau di Jakarta nantinya. Terima kasih,” ujar Eza kemudian menyusul rombongannya.


Sampai di rumah Wardah langsung merebahkan dirinya di sofa. Lelah, Bahagia, sedih, bercampur menjadi satu. Lelah setelah bersusah payah bersama suaminya membuka kembali kasus sumber dari kesedihannya. Bahagia karena akhirnya kasus sang ayah terpecahkan. Dan sedih atas pihak-pihak yang terpaksa harus memikul imbasnya. Anisa memeluk Wardah yang lunglai menyender di sofa.

__ADS_1


“Kamu hebat Wardah, hebat banget bisa melalui hal berat ini,” ujar Anisa.


“Makasih ya udah nemenin aku selama ini,” jawab Wardah membalas pelukan Anisa.


“Si kembar sama Oma-nya?” tanya Wardah. Sepertinya ia membutuhkan charger dengan melihat dua baby gemoy.


***


“Kenapa Ay?” tanya Eza mengusap lembut rambut istrinya.

__ADS_1


“Makasih ya udah memilih aku jadi pendamping,” jawab Wardah dengan senyumnya.


“Sama-sama, aku juga terima kasih udah melepaskan yang lama dan menerima aku,” balas Eza mencium punggung tangan Wardah.


Beberapa minggu ini mereka habiskan di luar kantor, membuat Eza harus membagi waktunya sembari menyelesaikan pekerjaan yang ada. Ini adalah malam terakhir mereka di Jombang. Esok hari mereka berdua harus kembali ke Jakarta. Kasihan pekerjaan yang sudah menunggu.


Eza bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar bisa lekas beristirahat. Besok menjelang siang mereka harus sudah berada di bandara. Sebelul itu mampir terlebih dahulu di kediaman Anisa dan Farhan. Tepat pukul sepuluh malam Eza menyelesaikan pekerjaannya. Dilihatnya Wardah masih tersenyum-senyum sendiri menonton film dari gawainya. Sebenarnya ada tv di kamar mereka, tapi Wardah memilih menonton dari gawainya saja. Dengan posisi tangan yang masih melingkar di pangkuan Eza.


“Alhamdulillah selesai, nonton apa sih Ay? Asik banget kayaknya,” tanya Eza sembari meletakkan leptopnya di atas nakas. Kemudian bergabung dengan Wardah.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2