Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Night Walk


__ADS_3

Eza menemui Gita setelah Wardah memanggilnya. Wardah terus menemani suaminya hingga akhir perbincangan. Ternyata pembahasan mengenai kontrak kerja cukup rinci. Hingga saat ditengah-tengah pembahasan mereka tiba-tiba terdengar panggilan serak khas bangun tidur milik Sakha yang memanggil Buna-nya.


Wardah pamit undur diri untuk menemui anaknya yang baru bangun tidur siang. Gita semakin kaget saat tahu jika temannya itu sudah memiliki anak. Wardah menggendong Sakha keluar dari kamar. Dengan berbinar Eza tentu saja menyapa anaknya. Rutinitas setiap saat.


"Hallo anak Ayah..... Sini nak, sama Ayah dulu," ujar Eza menerima Sakha dari Wardah.


Ia pun tak lupa untuk meminta izin pada Gita untuk mengajak Sakha. Takutnya tamunya itu tak nyaman jika ada Sakha di sini. Sedangkan Wardah sudah beralih ke pantry minimalis yang tersedia di ruangan Eza untuk membuatkan susu untuk Sakha.


"Aku makin syok saat tahu kamu udah punya anak Wardah," celetuk Gita saat selesai membahas kontrak kerja.

__ADS_1


Wardah tersenyum simpul menanggapi temannya itu. Temannya benar-benar sudah berubah 90° sejak keluar dari pesantren.


"Kan Sakha udah 3 tahun nih, kapan rencana kasih adek?" tanya Gita dengan tawa renyahnya.


"Kalau sekarang sih masih pengen luangin waktu full buat Sakha ya. Tapi, kalau seumpama memang rezekinya dipercepat juga Alhamdulillah nggak papa," jawab Wardah dengan tersenyum kepada Eza yang juga tersenyum menimpali Wardah.


"Semoga yang terbaik aja ya besty," sambung Gita.


*****

__ADS_1


Wardah dan Eza berjalan beriringan keluar dari ruangan. Setelah Gita pulang mereka juga bergegas untuk pulang juga karena memang sudah waktunya pulang. Eza mengemudikan mobilnya dengan Sakha yang ada di pangkuannya. Begitulah si kecil, ada saja tingkahnya. Ia tak mau duduk dipangkuan Wardah, justru ia ingin di pangkuan Ayahnya terus.


Jadilah Eza mengemudikan mobil sembari sebelah tangannya memegangi Sakha. Berbahaya memang, makanya jangan ditiru ya teman-teman. Berhubung Eza sudah terbiasa dan ahli, Wardah tenang membiarkan hal itu. Jalanan cukup ramai sore ini. Mungkin karena malam ini waktunya para pasangan kencan. Yaitu malam minggu.


Hal itu tak berlaku untuk Wardah dan Eza, karena mereka setiap hari pasti kencan. Hahaha. Tujuan awal mereka awalnya langsung pulang, tiba-tiba Eza mengajak istrinya untuk makan malam di luar. Ada pasar malam yang baru saja di buka katanya. Eza ingin mengajak anak dan istrinya bermain sembari kulineran di tempat itu. Sudah lama sekali rasanya ia tak berkunjung di pasar malam. Sepertinya dulu saat kecil terakhir ke pasar malam.


Dengan senang hati Wardah menyetujuinya. Perjalanan kurang lebih sepuluh menit, tibalah mereka di salah satu lapangan lokasi pasar malam diadakan. Jika Dinda dan Inayah tahu pasti dua bocil itu akan marah padanya. Seperti biasa Eza menggendong Sakha dengan sebelah tangannya yang lain menggenggam jemari Wardah.


Jelas saja pasar ini semakin ramai. Mengingat ini adalah malam minggu. Sakha yang melihat keramaian di sekelilingnya sangat girang sekali. Sontak ia meminta untuk berjalan sendiri. Berontak dari gendongan ayahnya, membuat Eza mau tak mau menurunkan. Sakha diapit ke dua orang tuanya dengan masing-masing memegang tangannya. Takut kalau sampai terpisah. Bisa berabe. Apalagi tempat ini cukup ramai.

__ADS_1


Eza dan Wardah mengajak Sakha untuk menikmati beberapa wahana yang cocok untuk si kecil. Wardah dan Eza haruus bergantian menemani si kecil menaiki wahana tersebut. Tak lupa Wardah menggunakan gawai suaminya untuk mengabadikan momen bagus mereka. Anggap saja untuk menyapa para followers mereka berdua yang kangen dengan Sakha. Hahaha. Jangan salah, anak kicil itu sudah memiliki penggemar yang tak sedikit jumlahnya. Membuat Wardah harus aktif mengabadikan momen Sakha melalui instastory-nya. jika tidak, jangan harap kesehariannya akan tenang, damai, Sentosa. Para netizen akan menyerbunya melalui dm pribadi menagih konten tentang Sakha.


...Bersambung...


__ADS_2