
Wardah hendak mengambil alih mangkuk makanan Baby Z, tapi Eza menolaknya. Eza masih ingin menyuapi anaknya. Baby Z yang lahap membuatnya ketagihan untuk menyuapinya.
"Aku bantuin Mama di dapur dulu kalau gitu," ujar Wardah beranjak ke dapur.
Ternyata sudah ada Bunda juga di dapur. Karna memang sudah sepenuhnya selesai,, alhasil Wardah hanya bertugas mengangkut makanan ke meja makan. Tak banyak, karena memang hanya untuk sarapan. Menu sarapan memang biasanya lebih simpel. Mama dan Si Mbok memasak nasi goreng dan menu pelengkap kesukaan Papa Eza. Salad ala jawa biasa disebut pecel sambel kacang. hahaha.
"Wau! Ada pecel ternyata! Pantesan dari kamar tadi baunya semerbak uweenak!" celetuk Papa yang baru saja keluar dari kamar.
"Papa-kan hantu pecel! Ya jelas senengnya," sambung Mama disambut tawaan yang lain.
"Hantu pecel itu apa Ma?" pertanyaan absurd Dinda mulai hadir.
Begitulah anak-anak. Tak kalah dengan gurunya di sekolah. Mereka selalu menghadiahkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih sulit mencari jawabannya dari pada matematika sekalipun. Jadilah Mbak Winda mengarang indah untuk menjawab pertanyaan anaknya yang tak ada habisnya.
__ADS_1
Satu per satu orang di meja makan meninggalkan rumah. Bahkan Mama dan Bunda kini juga pergi. Ada arisan katanya. Dinda dan Inayah sudah diantarkan Papa Dinda dan Opanya sekaligus berangkat ke kantor. Jika yang lain sibuk, berbeda dengan Eza dan Wardah. Mereka justru bermalas-malasan di kamar. Bukan tanpa alasan. Tenang saja, nanti ada waktunya mèreka berdua sibuk.
Karena terlalu pagi, tempat tujuan mereka tentu saja belum buka. Jadilah mereka masih bersantai ria sembari bermain dengan Baby Z.
"Mas, nggak ke kantor dulu? Kita udah lumayan lama lho nggak ke kantor," tanya Wardah.
"Aman Ay, udah ada Kak Nuy yang handle. Lagian juga ada Faiz, dia udah makin lihai aja Mas kasih tanggung jawab siaran TV baru," jawab Eza dengan antusiasnya.
"Iyaa sih Mas, setidaknya Mas sambang ke kantor walaupun sebentar... Kan ini juga masih tanggung jawab Mas juga," sambung Wardah.
Wardah tersenyum menanggapi dan langsung bersiap. Dimulai dari si kecil terlebih dahulu. Wardah mengganti setelan si kecil ala-ala OOTD bayi gemezz.
Sampai di lobi kantor, mereka bertiga menjadi pusat perhatian para karyawan. Bagaimana tidak, Wardah dan Eza yang biasanya hanya berdua, kini bersama dengan seorang anak yang ada digendongan Eza. Eza menggendong Baby Z dan menggenggam tangan Wardah memasuki kantor.
__ADS_1
"Kak Wardah?" panggil Faiz yang menghampiri mereka.
Faiz menawarkan diri untuk menjaga Baby Z sembari Eza menyelesaikan urusannya. Beruntung Faiz memang baru saja senggang waktunya.
Faiz mengajak Baby Z ke taman kantor. Taman yang tak terlalu besar tapi cukup rimbun. Sehingga tak terasa panas di siang hari nanti.
"Hei, anak bayi comell banget," celetuk beberapa karyawan yang menghampiri Faiz. Baby Z tertawa menimpali.
"Ini anaknya Pak Eza ya Iz?" tanya mereka lagi.
"Iyaa Mbak, anaknya Pak Eza," jawab Faiz.
Tengah berbincang tiba-tiba gawai Faiz berdering. Ternyata nomor Eza. Cepat sekali kakaknya itu menyelesaikan keperluannya. Tak berselang lama datanglah Eza bersama Wardah. Tiga karyawan tadi sontak membungkuk hormat pada atasannya.
__ADS_1
Setelah selesai, Eza dan Wardah segera ke tempat pengacaranya. Waktu syukuran makin dekat, Wardah sudah tak sabar menunjukkan anaknya kepada publik sebentar lagi. Harapannya, dengan kehadiran Baby Z, akan memancing dirinya agar segera memiliki momongan dari rahimnya sendiri.
...Bersambung ...