
Tepat selesai sholat subuh Wardah dan Eza pulang ke rumah Bunda. Sebelumnya mereka juga sudah memberi tahu Bunda jika mereka pulang pagi-pagi buta.
"Sejujurnya Adek masih ngantuk Mas, tadi malam Anisa ngajak begadang. Minta ke kamar mandi terus," lirih Wardah.
"Kalau kata Mama, orang yang mau lahiran itu memang gitu Ay... Sering kebelet," jawab Eza.
"Ay?" panggil Eza.
"Hem?"
"Coba deh kamu panggil Mas itu pakai panggilan sayang juga," ujar Eza to the point.
Sontak Wardah terkikik. Ia rasa memanggilnya "Mas" itu sudah lebih cukup sebagai panggilan sayang. Haruskah ia memanggilnya Ayank juga? Membayangkannya saja ia sudah malu sendiri.
"Kalau kita lagi berdua aja deh. Kalau di depan orang mau, ya nggak papa sih! Hehehe" sambung Eza.
"Ay-yang," goda Wardah.
Eza tersenyum puas mendengarnya. Mendadak jantungnya berdebar + bahagia + gugup + malu. Campur aduk menjadi satu.
"Pertahankan!" jawab Eza.
Sampai di rumah ternyata pintu utama sudah terbuka sepenuhnya. Tampak Kak Yusuf dengan anak perempuan kecilnya tengah bermain lari-larian. Sepertinya itu bagian dari kebugaran jasmani mereka pagi ini. Tidak hanya berdua, ternyata ada Alif juga di sana.
"Aunty!" panggil Inayah.
"Hay! Main sama Om Alif?" tanya Wardah.
"Iya! Tadi Naya juga diajarin ngaji sama Om Alif," jawabnya dengan senang. Maklumlah, ia tak ada teman di rumah. Hanya orang tuanya dan Omanya saja.
__ADS_1
"Tapi Om Alifnya mau berangkat sekolah dulu yaa, nanti kalau libur lagi baru main kesini lagi," ujar Wardah. Agar Inayah tak kaget saat tahu Alif tak lagi di rumahnya.
Terlihat jelas wajah murung Inayah kali ini. Sontak Wardah memeluknya dan mengelus lembut rambut Inayah.
"Kan masih ada Om Eza," ujar Eza mengikuti Wardah jongkok mensejajarkan dengan Inayah.
Inayah mendongak melihat ke arah Eza. Ia sempat ragu, tapi sepertinya ia mulai ingat siapa Eza. Karena dulu pernah menginap di rumah saat tujuh bulanan Anisa. Inayah mengurai pelukan Wardah dan mendekati Eza. Tanpa persetujuannya, Eza menggendong Inayah. Tentu saja anak itu kaget.
"Dasar anak kicil! Tahu aja yang bening-bening," celetuk Wardah.
"Dek, ayo siap-siap!" ajak Wardah pada Alif. Tinggallah di sana Eza dan Kak Yusuf bersama Inayah.
Wardah menyapa Bunda dan Kak Ina di dapur sebentar kemudian barulah mengurus calon adik iparnya. Koper Alif ia ganti dengan tas ranselnya. Karena barang Alif yang tak banyak. Untung saja Wardah punya tas ransel cowok yang cukup besar.
"Bunda, Alif mau dibawain bekal jugakah?" tanya Wardah kembali ke dapur.
"Iya! Kamu siapkan di Tupperware itu Dek! Banyakin lauknya biar bisa dimakan sampai malam," jawab Bunda.
Barang bawaan Alif sudah beres, barulah Wardah mempersiapkan dirinya. Tak lupa mengingatkan Eza pula agar ikut bersiap.
"Naya mau ikut!" ujar Inayah ketika mereka sudah berkumpul di meja makan.
"Lho, Nayakan mau sekolah... Masak mau bolos?" ujar Kak Yusuf.
"Kapan-kapan kita lihat Om Alif di pesantren kalau libur panjang ya?" bujuk Kak Ina. Perlahan Inayah mengangguk patuh. Tak pernah sekalipun anak itu membantah sang Ibu.
"Janji ya Ma?" tanya Inayah memastikan.
"Insyaallah," jawab Kak Ina. Senyuman Inayah kembali terpancar mendengar jawaban Mamanya.
__ADS_1
...----------------...
Perjalanan dari Jombang ke Kediri menghabiskan waktu satu jam lima belas menit. Eza yang mengemudikan mobilnya. Alif duduk di jok belakang sedangkan Wardah di samping kemudi. Tampak Wardah masih sibuk merias wajahnya karena tadi memang belum bermake-up.
"Awas kecoret itu nanti alisnya," ledek Eza yang melihat Wardah tengah mengaplikasikan alisnya. Maklumlah, alis Wardah memang tak lebat.
"Jangan lewatin lubangan Ay, nanti kecoret beneran," jawab Wardah.
Jangan tanyakan bagaimana Alif saat ini. Tentu saja ia ngenes melihat keuwuan kakaknya itu. Persis ia menjadi obat nyamuk di sini. Alif memilih untuk memainkan gawainya. Say goodbye dengan game onlinenya. Satu jam berkecimpung dengan jalanan yang cukup ramai, akhirnya sampai juga di Kediri.
Eza mengajak untuk berhenti ke cafe terlebih dahulu sebelum menuju pesantren Alif.
"Sini jamnya Aku benerin dulu," ujar Wardah meminta jam tangan Eza yang tadinya mengeluh karena tak berfungsi. Setelah memberikan jam tangannya barulah Eza beranjak untuk memesan makanan.
"Ay!" panggil Eza.
Ckrek!
Wardah yang anaknya sadar kamera langsung bergaya dengan tatapan mautnya.
"Wuuiiih! Sok galak," ledek Eza.
"Nih jamnya, nggak bisa! Pakai aja walaupun mati, hahaha," ujar Wardah terkikik.
"Nanti kalau ditanya orang malu Ay. Masak pakai jam mati," jawab Eza.
"Alay banget sih! Sayang-sayangan," celetuk Alif yang baru kembali dari kamar mandi.
__ADS_1
"Biarin, bentar lagi juga halalan toyyiban," jawab Eza.
...Bersambung ...