Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Curahan Hati


__ADS_3

Seperti malam biasanya, Wardah dan Eza sudah berada di dalam malam saat jam tidur Sakha. Anak itu sudah pulas beberapa saat yang lalu. Eza juga sudah memindahkan anak itu ke dalam box-nya. tentu saja ia bisa berduaan dengan Wardah. Eza sudah berbaring sembari memeluk istrinya. Ditemani oleh siaran TV Family 100 yang menyisakan menit-menit terakhir.


Wardah hendak mengambil minum di atas meja. Ternyata sudah tandas diminum Eza tadi. Jadilah Wardah harus rela kembali turun untuk mengisinya. Wardah memberitahu Eza terlebih dahulu barulah ia turun. Suasana rumah sudah hening. Hanya terdengar suara tv lirih di ruang keluarga. Ternyata Faiz belum tidur.


“Tumben masih di luar Iz, biasanya udah di kamar,” celetuk Wardah.


“Abis ngerjain tugas tadi Kak, refreshing dulu nonton tv,” jawab Faiz yang tengah berbaring di sofa.


“Mau kakak buatin coklat panas nggak? Biar lebih rileks,” tawar Wardah.


“Boleh kak?” tanya Faiz.

__ADS_1


“Bolehlahh.. Sebentar yaa,” jawab Wardah kemudian berlalu ke dapur.


Wardah segera meracik coklat panas untuk Faiz dan mengisi teko kaca untuk ia bawa ke kamar. Tak perlu membutuhkan waktu lama Wardah kembali membawakan secangkir coklat panas untuk Faiz. Setelah berbincang sebentar Wardah kembali naik ke atas.


Samar-samar Wardah mendengar isakan tangis. Ia melihat arah kamar Kak Winda yang sedikit terbuka. Wardah yakin itu isakan Kak Wardah. Dengan hati-hati Wardah mendekati kamar kakak iparnya dan melihat ke dalam. Tak ada Dinda, itu berarti Dinda tidur bersama Inayah. Wardah melihat Kak Dinda yang tengah meringkuk dengan punggung gemetarnya.


“Kak…” panggil Wardah dengan lembut selembut mungkin agar tak mengagetkan kakaknya itu.


Dengan tergesa Kak Winda mengusap air matanya. Setelah dirasa terhapus barulah ia berbalik. Wardah sudah berdiri tak jauh darinya dengan membawa air minum di tangannya.


Hati Wardah hancur melihat hal itu. Tiba-tiba ia teringat masa-masa kelam dahulu. Wardah mendekati Kak Winda dan duduk di sampingnya. Mengusap lembut pundaknya agar sedikit lebih tenang. Wanita mana yang sanggup dielus seperti itu saat sedih. Ia pasti akan semakin menangis saat tahu ada yang simpati padanya. Begitu pun dengan Kak Winda, mendapatkan perlakuan seperti itu membuatnya semakin menjadi. Ia menangis dipelukan Wardah. Wardah memberikan waktu sedikit pada Kak Winda agar lebih plong. Tanpa sepatah pertanyaan pun.

__ADS_1


“Kakak udah siap cerita sama Wardah?” tanya Wardah lembut saat Kak Winda dirasa sudah tenang.


“Kakak percaya kan sama Wardah?” tanya Wardah lagi.


Kak Winda mengangguk menimpali. Digenggamnya kedua tangan Wardah. Wardah dapat merasakan gemetar hebat dari Kak Winda. Saat makan malam tadi Wardah sempat melihat Kak Winda yang seperti tak begitu berselera.


“Kakak pernah melihat lipstick orang lain di mobil Papanya Dinda… Tadi pagi kakak sempat mendengar Mas Rio telfonan dengan suara perempuan,” llirih Kak Winda akhirnya.


Kak Winda sebelumnya bertekad untuk membiarkan hal itu. Mungkin hanya kesalahpahaman atau pungkin kebetulan. Tapi semakin ke sini ia semakin gundah. Ia tak bisa lagi memendamnya sendiri. Hendak menanyakan pada suaminya pun ia masih belum berani. Wardah yang mendengar hal itu terbelalak seketika. Wardah memang pernah diceraikan, tapi kasusnya jauh berbeda.


“Kakak nggak pengen tanya ke Mas Rio pelan-pelan?” lirih Wardah.

__ADS_1


“Kakak takut dek, kakak takut kalau yang kakak khawatirkan benar-benar terjadi,” jawab Kak Winda.


...Bersambung...


__ADS_2