
Esok harinya, aku terbangun dari tidurku lebih cepat di bandingkan jam bangunku biasanya. Di subuh hari Udara begitu lembab dan dingin, Terasa seperti menusuk kulit walaupun sudah terbalut di dalam selimut tebal. "Aku rasa ini adalah sisa-sisa hujan tadi malam." batinku sambil melihat jam pada Handphone yang menunjukkan pukul 3 pagi. Aku mencoba untuk tidur kembali dengan berguling beberapa kali dari satu sisi ke sisi lain tempat tidur. Namun hasil yang kudapatkan adalah nihil, karena tidak bisa kembali tidur aku memutuskan untuk membaca novel online di mangatoon karya Jorry Januardi yang sebelumnya sudah aku tambahkan ke favorit ku. Memangnya nyatanya dia belum terlalu terkenal namun karyanya yang unik dan menarik serta latar yang ringan membuat karyanya sangat cocok dibaca ketika baru bangun dari tidur ataupun di waktu-waktu senggang.
Aku menghabiskan waktu dengan membaca hingga Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 dini hari. Dari tempat tidur dan mengaktifkan tombol lampu lalu berjalan menuju cermin dan menata rambut ku. Usai itu merapikan tempat tidurku, menggunakan piyama dengan beralas kaki cleepper kelinci berwarna pink dengan rambut yang terkuncir satu ala ekor kuda. Aku langsung turun ke dapur dengan maksud ingin membuat teh dan beberapa makanan ringan untuk mengisi perut di pagi hari ini.
Sambil berjalan turun aku memperhatikan sekelilingku "Rumah Lina begitu luas dan besar" batinku sembari menguap. Setibanya di dapur aku mengaktifkan tombol lampu aku melihat dapur Lina yang begitu luas, elegan dan rapi. "Dapurnya saja seperti dapur di film-film" ucapku dalam hati sambil menghembuskan nafas panjang. Aku berjalan santai menuju kearah lemari-lemari kecil membukanya lalu mencari alat dan bahan untuk memasak. "Ternyata tidak ada apapun Disini"
Aku kemudian berjalan menuju kearah lemari-lemari kecil yang ada di langit-langit dinding yang tergantung berjajar di atas wastafel. Al hasil aku hanya menemukan tempat gula yang terbuat dari kaca berwarna biru dengan gula di dalamnya yang hanya tersisa setengah, beberapa kantong bubuk teh, dan kopi yang ada di dalam plastik. Aku meletakkan semuanya di atas meja kemudian berjalan ke arah kulkas putih 2 pintu dan berharap semoga ada sesuatu di sana yang bisa dimasak untuk dimakan pagi ini.
Aku membuka pintu kulkas bagian atas atau freezer tidak ada apa-apa di dalam sana selain bunga es dan es batu. Menutup pintu bagian atas dalam membuka pintu bagian bawah atau sokes. Dan aku hanya menemukan sebungkus roti tawar dengan 1 Cup selai coklat serta beberapa lembar keju sachet~ " Selamat pagi" terdengar berat. " Selamat pagi say" ucapku sambil menaruh selai ke selembar roti dan mengeluarkan semua yang aku temukan
di atas meja bersama dengan teh dan gula serta juga kopi yang sudah diseduh. Seketika aku sadar suara itu suara laki-laki aku langsung terkejut dan langsung membalikkan badan.
" Siapa kau?" ucapku takut sambil memegang centong di tangan kanan dan selembar roti tawar yang sudah diolesi selai yang sudah satu kali gigitan berada di lengan kiri.
Dia adalah seorang pria dan dia tidak menjawab apa-apa. Dia hanya bersandar ke dinding menyilangkan kaki dan melipat lengan nya. Kulitnya putih dan rambutnya hitam berantakan mengenakan piyama dengan kancing atas yang terbuka serta kaki yang beralaskan sandal jepit.
Aku menatap kearah mukanya yang tampan sungguh deg-degan namun ekspresinya sangat datar dan amat amat dingin. Aku mengamati tubuhnya dadanya sangat berisi dan padat dan roti sobek nya sungguh luar biasa tiba-tiba saja dia menguap dan menutup mulutnya.
" Seharusnya aku yang bertanya Kamu siapa." ucapnya dengan suara datar dan menatapku dengan dingin.
" Apa yang kau mau dari rumahku Sedang apa kau di rumahku?"
Aku terdiam dalam posisi siap siaga menyerang karena aku tidak tahu siapa dirinya sebenarnya. Aku terlihat Tegar dalam Posisiku agar dia tidak tahu bahwasanya aku sedikit takut.
"Oi!... Pertanyaanku!... Kenapa tiba-tiba membisu?... Dan satu lagi apa yang tadi baru saja kau lihat?" ucap pria itu dengan suara keras dan nada ala orang mabuk.
Lina datang dengan santai, rambutnya sungguh berantakan dan memakai atasan hanya tantop dan bawahan celana pendek. Dengan santainya dia berjalan ke tengah-tengah kami kemari menguap dan duduk di kursi meja makan. " Selamat pagi Honey" pria itu sambil berjalan mendekati Lina. Salah satu tangan pria itu memegang kursi yang Lina duduki, sementara lengan yang satunya lagi memegang dagu Lina dengan santai mengecup langsung bibir Lina. Aku terdiam merinding karena menjijikan perlahan-lahan aku meletakkan centong yang aku pegang dan mulai beranjak dari tempatku karena takut.
__ADS_1
"Mau lari kemana kau?" Ucap si pria itu.
" Jangan galak padanya, iya bukan orang asing. Dia adalah Dina sahabatku dulu, dan ya sebenarnya sih dari keluarga masih ada hubungan sejarah." ucap Lina sambil mengoles selai ke roti.
...
" Maaf aku lupa memperkenalkan kalian. Dina ini ada Rychi, tunanganku. Lihat cincin kami sama bukan. Dan Oh ya rumah ini beserta isinya termasuk juga aku adalah miliknya... Honey, dia adalah Dina, orang yang aku ceritakan kemarin itu." ucap Lina sambil mengoleskan roti.
Rychi menghembuskan nafas panjang untuk beberapa saat dia terdiam.
" Kemarilah dan duduk. Aku mengizinkan tinggal di sini karena itu permintaan Lina."
Aku berjalan menuju kearah Lina dan duduk di sebelah kanannya. "Syukurlah aku tidak salah berkata-kata. Ternyata dia adalah tunangannya Lina." ucapku dalam hati sambil melihat pria itu duduk di kursi Tengah, kursi sendiri dan tepatnya di sebelah kiri Lina... Persis seperti jamuan makan.
Aku melanjutkan gigitan roti yang ku buat sebelumnya. Sementara tanpa aku sadari Lina sudah mempersiapkan semuanya. Dioles selai dan 2 Gelas Teh serta satu gelas kopi. Aku memperhatikan teko yang Lina-nya pegang. " ternyata itu elektronik." Batinku.
"Eh say, barang-barang yang kamu bawa sudah ditata belum?" tanya Lina sambil mengunyah.
"Berhubung aku hari ini Off kerja, temani aku belanja ya." ucap Lina.
"Ok"
Lina melihat kearah Rychi. Rychi menggaruk-garuk kepalanya dengan menghembuskan napas panjang dan mengeluarkan black card seolah-olah entah dari mana lalu menyerahkannya kepada Lina.
"Thanks Honey." ucap Lina dan memberikan ciuman pada pipi Richi.
"Eh, say, siap siap ya. nanti pukul sepuluh dini hari kita berangkat."
__ADS_1
"Ok, dimengerti." ucapku setelah memandang Rychi yang memberikan tatapan menyeramkan padaku.
Usai sarapan pagi, aku membersihkan semua peralatan yang tadinya kami pakai lalu meniriskan di wastafel lalu pergi menuju kamar.
Di kamar, aku melihat jam dan ternyata masih lama. Berhubung waktu luang ku besar aku memutuskan untuk melukis " 1 lukisan saja " ucapku. Aku mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Usai itu memilih posisi yang tepat dekat jendela. Aku mendapatkan gambaran untuk melukis yaitu suasana hutan yang hijau dengan dua rusa yang sedang minum air di kolam yang biru dengan beberapa teratai yang tumbuh di tepi kolam disertai beberapa batu kerikil dan juga besar dan seekor katak yang terjun ke kolam. "Aku harap ini akan menjadi salah satu karya terbaikku yang layak dipromosikan dan dipamerkan di sosial media." Batinku semari mulai menggoreskan kuas. ini akan menjadi karya yang aku buat untuk pertama kalinya di lingkungan baru ku, di rumah Lina sahabatku, dan di kota Tokyo impianku.
Usai melukis dan melihat hasilnya memuaskan sesuai dengan ekspektasi ku. Aku kesenangan dalam kesedihan ku. Aku meletakkan lukisanku di tempat yang menurutku aman dari sentuhan dan juga senggolan. Aku melihat jam yang menunjukkan pukul 8.40 pagi. "Sudah hampir jam 9" ucapku sambil mempercepat pergerakanku.
Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai bersiap. Dengan rambut yang tergerai lurus dan poni selamat datang. Mengenakan sweater lengan panjang berwarna cream, dan bawahan celana pencil biru Dongker. Serta beralas kaki kan sepatu classic canvas high kw. Yang aku beli dari pasar kota asalku. "Yos sudah selesai." Ucap ku menatap cermin, lalu berjalan keluar kamar dan menunggu Lina selesai di sofa bawah.
Tidak lama menunggu Lina keluar dari kamar dengan rambut bergelombang tergerai dan poni yang menyamping style rambut yang persis seperti ketika menjemputku ke stasiun kereta. Mengenakan gaun hitam sebatas lutut dan bermotif bunga berwarna yellow dan gold yang terbuat dari kain sharin yang mengkilap. Di pemanis dengan anting silver dan gelang gold di tangan serta dompet genggam se ukuran kertas A5 yang berwarna putih bermotif daun hitam, dengan alas kaki sepatu wedgess hitam. sungguh paduan yang elegan dan manis dipandang oleh mata. "Seperti karakter Lina yang selalu mencuri perhatian banyak orang pada umumnya." ucapku padanya. Lina hanya tersenyum manis dan tertawa kecil lalu berkata say kita berangkat.
...----------------...
Lina membawaku ke salah satu mall yang berbintang 5 di Tokyo. Aku sangat senang dan gembira karena di kotaku sebelumnya tidak ada mall yang sehebat ini titik Lina memintaku untuk mendorong troli dan belanja bahan-bahan dapur titik sementara Lina mengobrol dengan seorang pria yang kelihatannya kisaran umur 37 tahun. aku mengesampingkan hal itu Dan mulai mengisi terali yang kubawa dengan bahan-bahan yang ingin di masak di dapur.
Tidak memerlukan waktu yang lama aku sudah selesai memilih bahan masakan dan kembali menghampiri Lina yang sedari tadi tidak kunjung berhenti mengobrol dengan pria yang sama. " Nah, ini dia orang yang saya maksud tadi. " kata Lina. Aku kebingungan terheran. "Ada apa ya? "tanyaku sambil berdiri di belakang Lina.
"ini, bapak ini adalah direktur restoran Zi Long di Tokyo. beruntung sekali bisa berjumpa dengannya disini, kita juga sudah cerita panjang kali lebar bapak ini kekurangan anggota di di Zi Long restoran Tokyo barat. Berhubung dirimu belum ada sumber pemasukan, aku menceritakan bagaimana dirimu pada bapak ini, berharap kamu mau menjadi salah satu staf Zi Long Tokyo bagian barat. penjelasan Lina.
"Iya benar yang dikatakan oleh Lina, perkenalkan saya Yukimura Okada, sering juga dipanggil orang dengan sebutan pak Yuki. Saya sudah dengar seperti apa dirimu dari Bu Lina. dan bu Lina juga sudah menjelaskan tentang apa yang kami bahas tentang dirimu. Jika kamu tertarik, datanglah ke kantor ku, ada beberapa surat kontrak yang harus kamu tandatangani terlebih dahulu. "Ucapan Yuki sembari memberikanku kartu identitas yang berisi alamat kantor Zi Long restoran pusat.
Aku menundukkan kepala menerima karena itu dari tangan pak Yuki dan mengucap terima kasih. " Sekarang kamu pikirkan saja baik-baik, aku sudah banyak membantumu dan membuka peluang bagi mu. selanjutnya terserah kepada keputusanmu. "Ucap Lina setelah pak Yuki pergi.
"Sebenarnya aku sangat berterima kasih. tapi, aku tidak tahu apa yang harus ku persiapkan. "ucapku sambil melihat kartu tersebut.
"Kau tidak perlu mempersiapkan apapun, karena kau direkomendasikan oleh direkturnya langsung. Jadi kau harus memikirkannya dengan matang dan menyusun rencana mu kedepannya. Jangan pakai lama. Ini kota Tokyo, kota besar, tidak ada waktu untuk bersantai di sini. Jika kau lama dan bermalas-malasan posisimu akan diganti oleh salah seorang dari berjuta-juta peramal pekerjaan. Lagipula kau tidak bisa berlama-lama tinggal denganku. Kau tahu sendiri bukan? rumah itu adalah milik tunanganku. Aku yang sekarang sudah berkeluarga dan kedepannya aku pasti memiliki masalah kehidupanku sendiri dan tidak bisa membantumu lagi. Aku harap kau mengerti itu dan memikirkannya dengan matang seperti apa hidupmu kedepannya." Ucap Lina.
__ADS_1
Aku hanya merenung dan terdiam sampai aku tidak sadar dia pergi lalu datang kembali membelikanku burger dan minuman soda Pepsi. "Ini, makanlah dulu." ucap Lina sambil mencari tempat duduk untuk beristirahat. kami mencari, ternyata ketemu juga tempat duduk batinku titik kami duduk dan makan bersama, dalam suasana canggung aku tidak tahu mau berkata apa.
Usai beristirahat setengah jam, lina langsung mengajakku ke kasir, dan mengantri titik usaha itu kami langsung kembali pulang menuju rumah. Di dalam mobil, sepanjang perjalanan Dina hanya diam. Aku tidak tahu harus bagaimana dan yang bisa kulakukan hanyalah berpangku dagu sembari menatap gedung-gedung di kota Tokyo dari jendela mobil dan memikirkan bagaimana aku menyikapi ini.