Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Awalu


__ADS_3

Sorotan cahaya pagi dari balik gorden jendela mengusik tidur lelap Wardah. Pasalnya ia baru bisa tertidur dengan nyaman selepas subuh. Semalam suntuk Wardah tak bisa tidur dengan nyenyak, bagaimana tidak? Caca tidur bagai ronaldowati main sepak bola. Setiap kali ia terjadi dari tempat tidur gegara tendangan mautnya.


Pandangan Wardah menyusuri dinding mencari asal suara detikan jam. Ternyata kamar ini tak memiliki jam dinding. Wardah mengambil jam beker yang ada di meja samping tempat tidur.


Rasanya masih berat mata ini untuk memulai hari. Caca sudah tak ada di sebelahnya, sepertinya sudah memulai aktivitas baru. Mau tak mau Wardah beranjak ke luar. Sungkan jika tak membantu tuan rumah.


Sampainya di dapur, Wardah kembali duduk di meja makan menutup wajahnya dengan tangan.


"Kalau masih ngantuk tidur aja Dah, masih jam 6 juga. Kita ke kantor pukul 9," Ujar Caca setelah menyadari kedatangan Wardah.


"Sungkan aku sama tuan rumah," Jawab Wardah.


"Rambut tuh disisir, diikat, nggak dibiarin ke gitu! Macam penampakan aja dah!" Celetuk Caca. Memang kini rambut Wardah menutupi wajahnya yang menekungkup di tangannya yang terlipat di atas meja.


"Kok kamu kayak Bunda sih!"


Wardah mendekati Caca yang tengah sibuk menguleni adonan untuk sarapan mereka. Ia menyomot karet gelang yang tersedia pada gantungan yang sepertinya khusus untuk pengumpulan karet gelang. Di ikatnya asal agar rambutnya tak mengganggu. Barulah ia membantu Caca. Sebenarnya tak membantu sepenuhnya, ia hanya bertugas mengambilkan bahan masakan. Caca sangat memuliakan tamu yang sangat merepotkannya.


Jika biasanya di dalam apartemen hanya hening dan hembusan napas Caca saja, kini terwarnai sudah dengan ocehan Wardah yang tengah flashback dengan kisah masa di pesantren mereka. Ide brilian Wardah muncul, ia menghubungi Anisa untuk pamer akan kebersamaan mereka berdua. Benar saja! Anisa mencak-mencak sendiri dan merengek hebat dengan suaminya yang kebetulan berada di samping Anisa. Alamat mendapat teguran dari Pak Rektor ini mah!


Ting Tong!

__ADS_1


Bel apartemen berbunyi. Siapa gerangan pagi-pagi seperti ini datang?


“Kayaknya itu Hito deh! Pakai jilbab gih!” Ujar Caca sembari meletakkan masakan terakhir di atas meja.


“Gangguin aja dah!” Gerutu Wardah, dengan lunglai ia ke kamar untuk menutupi rambut indahnya.


Cklek! Wardah menjadi bahan tontonan sekarang. Bukan hanya kekasih Caca ternyata, di sana juga ada lelaki yang mengantarkannya mencari kamar Caca. Kenapa ada dia? Tak apalah, hitung-hitung cuci mata pagi-pagi. Gaswat! Wardah tersadar jika ia belum cuci muka. Dapat dipastikan jika ia masih bermuka bantal. Berkurang sudah citra dirinya di depan lelaki tampan itu.


Hendak masuk ke kamar kembali rasanya sudah tertangkap basah. Kini Wardah hanya nyengir dan menghampiri orang-orang yang sudah berkumpul di meja makan.


“Bangun tidur apa Mbak?” Tanya Hito pacar Caca.


“Iya, semalem nggak bisa tidur katanya, aku tendangin terus. Jadi dia tidur habis subuh deh!” Bukannya Wardah yang menjawab, tapi sudah disela Caca. Setidaknya ia tak perlu mencari-cari alas an.


"Kirain udah berubah, makanya aku terima aja di ajak tidur bareng. Ternyata masih sama," Jawab Wardah yang kini sudah duduk di samping Caca, berhadapan dengan lelaki yang bernama Aditya.


"Tenang Yank, aku akan berubah demi kamu," Ujar Caca.


Sontak membuat Wardah dan Aditya memutar bola matanya jengah secara bersamaan. Apa lagi saat Hito menghampiri Caca dan memeluknya.


"Astaghfirullah! Belum halal juga! Udah peluk-peluk!" Protes Wardah.

__ADS_1


"Iya-iya, khilaf Wardah sayang," Ujar Caca.


Barulah mereka sarapan bersama setelah percekcokan itu. Wardah masih diselimuti rasa penasaran dengan kehadiran lelaki tampan itu. Memang iya, dia teman dari Hito, tapi apa iya setiap pagi memang seperti ini? Sarapan bersama seperti ini? Kan Wardah jadi senang, bisa cuci mata terus. Hahaha.


.


.


.


"Temannya Hito ngapain di sini Ca?" Tanya Wardah ketika mereka sudah berada di kamar, bersiap untuk ke kantor.


"Diajak Hito tadi, mau nyomblangin ke kamu! Mau aa? Seandainya kalau aku di tembak Pak Adit dulu sebelum Hito, sekarang aku jadi pacarnya Pak Adit aku," Jawab Caca curhat.


"Dia pernah nembak kamu?" Wardah terkaget-kaget.


"Aku bilang seandainya zeyeeng," Tambah Caca.


"Aku masih masa iddah Caca," Lirih Wardah.


"Kamu masih gadis Wardah, nggak ada masa iddah!" Ujar Caca mengelus lembut pundak Wardah.

__ADS_1


"Aku masih butuh menata hatiku," Jawab Wardah dengan senyum simpulnya.


Caca memeluk Wardah erat. Menyalurkan ketenangan di dalamnya.


__ADS_2