
Kak Winda POV, ini Lhu-Lhu kasih part khusus kak Winda ya gaess....
Angin sepoi-sepoi menghembus dengan damainya. Mata indah itu menerawang jauh di depan sana. Winda tengah berdiri dengan tenangnya di rooftop kantor. Ia tak benar-benar melamun mengosongkan pikiran, tapi di dalam pikirannya ia tengah berkecamuk memberikan argument-argument yang tak berujung.
Sudah hampir satu jam ia berdiam sendiri. Bahkan ia juga tak merasakan pegal di kakinya. Tak ada orang lain, karena memang masih jam kerja.
"Huufftt! Selama liburan memang nggak ada kejanggalan sama sekali. Tapi setelah pulang kenapa rasa sepi ini kembali hadir?" gumamnya.
"Apa iya, perpisahan memang jalan terbaik?" monolognya kembali.
...****************...
Ditempat lain, Eza dan Wardah tengah menikmati arem-arem yang baru saja mereka dapatkan di pinggiran danau buatan. Tepatnya di tengah taman kota. Betapa bahagianya Wardah mendapatkan makanan itu.
Eza yang teringat kakaknya sontak segera menghubungi orang suruhannya. Ia harus segera mencari titik terang untuk kakaknya itu.
Beberapa minggu setelah pulang liburan pemantauan, Eza ternyata mendapatkan banyak bukti. Ntah bagaimana caranya ia memberitahu kakaknya nanti.
__ADS_1
"Gimana Mas hasilnya?" tanya Wardah saat menyadari suaminya tampak berubah mood.
"Sepertinya perpisahan kak Winda nggak bisa dihindari Ay," jawab Eza dengan lesunya.
Wardah sontak merebut gawai Eza dan melihat beberapa tangkapan foto. Wardah dapat melihat luapan emosi suaminya yang dengan sekuat tenaga ditahan. Sepertinya Eza benar-benar sangat menjaga emosionalnya saat bersama Sang istri.
Wardah mengelus lembut lengan Eza. Memberinya semangat dan ketenangan.
"Kita ke kantor Kak Winda yuk! Kita nggak bisa kalau lama-lama menundanya," lirih Wardah.
Beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di kantor Papa, yang juga kantor Kak Winda. Beberapa kali Wardah menghubungi kakaknya itu tapi tak diangkat sama sekali. Eza yang tak sengaja celingukan melihat ke segala arah menemukan siluet kakaknya dari pantulan kaca bangunan sekitar yang memang tak berjauhan.
Wardah mengikuti arah pandang suaminya, yang tengah memandang siluet kakaknya. Jelas sekali pancaran kesedihan dari keduanya. Sebenarnya Wardah tak begitu jelas melihat kakak iparnya di atas. Tapi anehnya sang suami justru dapat menemukan siluet itu, meski kecil. Sepertinya hubungan batin keduanya sangat erat.
"Ayo, ke atas," ajak Wardah.
Gedung kantor yang cukup tinggi membutuhkan beberapa waktu untuk sampai di tempat teratas. Beruntung lift sedang sepi. Mungkin juga karena memang masih jam kerja. Sampai di atas Kak Winda masih belum menyadari kehadiran dua adiknya itu. Hingga Wardah memberanikan diri untuk mengelus lembut pundak kakaknya.
__ADS_1
"Lho! Kalian kok di sini? Nggak ngabarin kakak lagi," celetuk Kak Winda yang langsung mengubah mimik wajahnya.
"Kakak lagi ngapain nglamun sendiri di atas gini? Emangnya nggak kerja apa?" tanya Wardah.
"Kerjaan banyak sih, tapi kakak kasih ke karyawan yang lain. Lagi sumpek nih! Pengen menghirup udara segar," jawab kak Winda.
"Aku haus nih! Di ruangan kakak ada minuman dingin apa nggak?" tanya Eza.
"Ada dong! Emangnya cuma ruangan kamu aja yang lengkap?" jawab Kak Winda.
Mereka beralih tempat ke ruangan Kak Winda. Sepertinya akan lebih baik mengobrol di ruangan pribadi.
"Tumben banget ke sini, ada apa?" tanya Kak Winda.
Mereka kini sudah duduk di sofa ruangan Kak Winda. Wardah memilih untuk memberikan waktu untuk kakak beradik itu berbincang. Wardah berdalih untuk ke dapur menyiapkan makanan yang sempat mereka beli di jalan sebelah ke sini tadi.
Memang masih bisa mendengar perbincangan mereka, tapi sepertinya mereka bisa lebih leluasa meluapkan uneg-uneg mereka masing-masing jika dirinya tak di tempat. Melihat ada beberapa buah di meja pantri tentu sangat membahagiakan. Menyemil buah sepertinya ide yang bagus.....
__ADS_1
...Bersambung ...