
Pagi ini Wardah sudah siap dengan setelan yang berbeda dari biasanya. Pasalnya ia tempo lalu diberi hadiah oleh Mama Sarah sebelum berpisah.
Tak apalah ya, sesekali memakai celana. Pikirnya.
Wardah segera mengambil tas dan berkas-berkas yang digunakan untuk suting jurnal pagi. Hari ini ia harus berangkat subuh-subuh buta. Karena persiapan di studio juga membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Untunglah randown berita, teks berita, dan video berita juga sudah ia siapkan kemarin hari bersama sang editor setia, Mas Erik. Kini ia tinggal mengkondisikan presenter dan Kepala Derector beserta jajaran di dalam studio.
Wardah melirik sekilas pada apartemen Eza, tertutup rapat seolah tak ada kehidupan di dalamnya. Kemana gerangan orang itu? Wardah bergegas ke lift untuk menuju lobi apartemen. Ia baru saja memesan ojol. Untung saja ojol beroperasi 24 jam.
Jarak apartemen ke kantor tak membutuhkan banyak waktu. Cukup 5 menit sampailah ia di depan gedung megah itu. Masih sangat sepi. Hanya empat pak satpam yang berjaga di sekitar kantor.
"Selamat pagi Pak!" sapa Wardah.
"Selamat pagi neng. Tugas pagi ya neng?" tanya bapak satpam.
"Iya Pak, saya ke dalam duluan ya Pak," jawab Wardah.
Memasuki pintu lobi, tampak sunyi sekali. Menambah kesan kehororan sebuah kantor. Wardah mempercepat laju jalannya agar segera ke lift.
"Kenapa buru-buru?" tanya seseorang di sebelah Wardah yang menyeimbangkan jalannya.
"Oh! Mas Angga, kok masuk pagi juga?" tanya Wardah.
"Ada yang harus diselesaikan," jawabnya.
Wardah sedikit lega akhirnya ada teman di dalam lift. Menjelang pintu lift tertutup, tampak sebuah tangan menahan agar tak tertutup. Sosok yang dicari Wardah sedari tadi muncul di hadapannya.
Eza masuk tepat di depan Wardah berdiri. Membelakangi Wardah.
"Mas Eza! Kok pagi banget berangkatnya?" tanya Wardah spontan.
__ADS_1
"Kenapa nggak ngabarin saya kalau kamu masuk pagi? Nanti kalau kenapa-kenapa gimana? Kan saya yang dipasrahin Bunda untuk jagain kamu," tanya balik dia.
"Lha saya-kan nggak tahu kalau Mas di apartemen. Lagian, seminggu ini juga nggak nampak!" jawab Wardah dengan sedikit marah.
"Kalau orang ngomong tuh dilihat! Bukan dikasih punggung aja!" sambung Wardah.
Mas Angga yang berada di samping Wardah malah seperti suporter yang menonton pasutri bercekcok. Ia hanya diam membisu memperhatikan adu mulut antara Wardah dan Eza.
Sontak Eza membalikkan badannya menghadap ke arah Wardah. Tepat dihadapannya. Manik matanya seolah menembus tatapan dalam Wardah. Wardah gugup seketika diperhatikan seperti itu.
"Mas juga nggak ngabarin saya selama ini," ujar Wardah memelankan suaranya. Ia baru sadar jika ada orang lain diantara ia dan Eza.
"Ya maaf, Mas ada urusan di cafe cabang, Mama juga mau main, tapi takut kamunya sibuk," jawab Eza merasa acuh dengan kehadiran Angga.
Sedekat itukah mereka? Angga terus berpikir. Selama ini, ia pikir Wardah dan Bosnya itu hanya dekat karena urusan pekerjaan. Ternyata mereka berdua justru sudah saling kenal dengan orang tua masing-masing.
Ting! Sampailah mereka di lantai yang mereka tuju.
"Saya ke ruangan dulu, assalamualaikum," pamit Eza meninggalkan Wardah dan Mas Angga. Ia mengamati Mas Angga sejenak, kemudian pergi.
Wardah menjadi canggung sendiri sedari tadi ditonton Mas Angga. Wardah segera mengecek persiapan untuk syuting jurnal pagi. Takut tak terkejar.
"Kamu ada hubungan apa Dah sama Pak Bos?" tanya Mas Angga.
"Hehehe, nggak ada Mas, karena tempo lalu pernah ke Jombang bareng, terus otomatiskan sering ngobrol aja makanya sedikit lebih akrab." jawab Wardah.
"Ya udah Mas, saya ke studio dulu, assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam,"
.
__ADS_1
.
.
Di studio, Pak Hari selaku PD (Penanggung Jawab Priductions) suda siap mengatur para cameraman. Papan baca untuk presenter juga sudah siap. Wardah tampak mondar-mandir menelepon presenter yang bertugas hari ini. Tak ada jawaban sama sekali.
"Pak! Ini mbak Zira kemana ya? Kok nggak di angkat?" keluh Wardah pada Pak Hari.
"Iya, dari tadi sudah tak telepon juga nggak ada sambungan," jawab Pak Hari yang juga mencoba menghubungi presenter.
Wardah sudah drodog ini. Kan nggak lucu kalau tidak ada presenternya. Waktu kurang setengah jam lagi dimulai. Gaswat ini mah.
"Wardah, mendingan kamu aja deh yang gantiin. Waktunya mepet, belum cek suara dan layar presenter," celetuk Pak Hari.
"Gak bisa gitu Pak, gerogi saya di depan camera," jawab Wardah syok mendengar penuturan Pak Hari.
"Waktunya mepet mbak. Ayolah mbak! Kayak'e mbak Zira sepertinya nggak bisa diharapkan kali ini," sambung yang lain.
"Ayo Wardah, pakaian kamu juga mendukung kok. Tinggal make up dikit," ujar Pak Hari lagi.
"Haduuuuh, takut Pak," rengek Wardah.
"Ayo, bismillah," pak Hari mendorong Wardah ke meja presenter. Dan mulai memberikan alat kotak hitam ntah apa namanya. Yang penting itu untuk menperjelas suara.
Wardah tak memiliki kesempatan untuk kabur. Akhirnya Wardah mengambil alat make up yang sudah disediakan dan memoles sedikit agar pantas. Dan mulai cek suara plus cek penampilan.
Jadilah kini Wardah yang menjadi presenter. Perdana! Daebak! Eza memperhatikan dari balik layar, tersenyum tertahan. Rencananya berhasil. Sedangkan wanita di sampingnya tampak gusar bingung bagaimana menjelaskan pada Wardah.
Pasalnya, ketika ia buru-buru untuk naik ke ruang studio, Eza memanggilnya dan melaksanakan rencananya. Eza sengaja ingin menjadikan Wardah presenter. Awalnya Eza memintanya secara langsung, tapi Wardah bersikeras tak mau. Okelah! Akhirnya Eza melakukan cara ini.
"Kamu nanti telvon saja Wardah, bilang kalau sedang ada acara mendadak. Gaji kamu tetap akan jalan, tenang saja. Kamu boleh pulang," ujar Eza.
__ADS_1
"Baik Mas," jawab Mbak Zira. Sia-sia saja pagi ini keberangkatannya ke kantor.
...Bersambung.... ...