
Sampai di rumah, niat Eza ingin mengajak Wardah istirahat, tapi ditolak olehnya. Wardah meminta untuk membahas permasalahan ini sekarang. Beruntuk anggota keluarga di sore ini lengkap. Bahkan ada Mama dan Papa Dinda di sini. Saat ini Wardah ingin meminta pendapat tiap orang di keluarganya. Agar ia bisa menentukan keputusan terbaik untuknya dan untuk orang-orang di sekitarnya. Eza menjelaskan duduk persoalan kepada keluarganya.
“Kok bisa Bapak itu menyerahkan kepada Wardah? Apa dia nggak kasihan melihat Wardah merawat cucunya. Kalau kamu terluka melihat anak itu, mendingan nggak usah dek,” ujar Mbak Winda setelah Eza selesai menjelaskan.
“Itu berarti Pak Bagas menaruh kepercayaan pada kamu Dek, mana ada orang tua yang tega menelantarkan anaknya di panti asuhan kalau semisal Dedek nggak mau? Eza tadi juga udah bilang kalau sebenarnya Pak Bagas merasa sangat bersalah. Kalau memang dia berbohong atas rasa bersalahnya, harusnya dia tetap diam dengan Tindakan kaburnya. Bahkan dia juga rela menerima identitas barunya dari pelaku sesungguhnya,” jelas Suami Mbak Winda tak setuju dengan ucapan istrinya.
Papa, Mama, dan Bunda masih diam mendengar pendapat anak-anaknya. Wardah kini masih diam bersenderkan pada dada bidang Eza mendengarkan ujaran kakak iparnya.
“Iya sayang, anak itu tidak bersalah, seharusnya anak sekecil itu merasakan hangatnya keluarga. Tapi, kini ia harus kehilangan kasih sayang orang tua bahkan kakek neneknya sebentar lagi,” sambung Mama.
__ADS_1
“Menurut kamu gimana Za?” tanya Papa pada Eza.
“Eza menerima apapun keputusan Wardah Pa, yang terpenting Wardah tetap aman, tenang, Bahagia. Eza senang jika bisa merawat anak itu, tapi Eza juga siap memberikan perawatan yang baik untuk anak itu melalui orang lain. Eza akan mencari orang tua asuh yang bertanggung jawab untuk anak itu.” Jawab Eza.
“Sayang, jika memang kehadiran anak itu membuat luka lama yang dengan susah payah kamu sembuhkan kembali menganga, Mas nggak akan izinin kamu merawat anak itu,” sambung Eza pada Wardah.
“Setiap keputusan pasti ada baik dan buruknya. Tapi kita bisa membenahi setiap kesalahan yang diperbuat. Kamu nggak sendiri sayang, kamu punya keluarga besar yang siap membantu dan menjadi tempat untuk berkeluh kesah, terkhusus Eza, dia siap menompang kamu apapun yang terjadi. Kamu ingat pesan Papa waktu pernikahan kalian-kan? Papa sendiri yang akan bertndak jika Eza menyakiti kamu,” ujar Papa.
“Nggak Bun, anak itu nggak salah sama sekali,” lirih Wardah.
__ADS_1
“Gimana perasaan Wardah kalau bersama anak itu tadi?” tanya Bunda lagi.
“Awalnya Wardah sakit melihat anak itu, tapi setelah Wardah mendengar nasehat dari Mama, Papa, Mas Rio, dan Bunda itu benar, anak itu nggak salah, dia berhak menerima kasih sayang seorang orang tua. Apa tidak apa-apa kalau kita merawat anak itu Mas?” tanya Wardah.
“Nggak papa sayang, besok Mas langsung urung berkas-berkas mengenai hak asuh anak itu,” jawab Eza dengan senyumnya.
“Bismillah, anak Bunda bisa, kamu punya keluarga yang sangat baik sayang,” sambung Bunda.
Syukurlah seluruh keluarga menyetujui niat Wardah dan Eza untuk merawat cucu dari Om Bagas. Eza segera menghubungi kuasa hukum keluarganya untuk mengurus proses adopsi atau pindah hak asuh anak. Wardah yang masih memiliki secercah ketakutan tak bisa menyayangi anak itu tentu saja hawatir. Ia harus benar-benar menyiapkan diri untuk menjadi orang tua anak itu. Bahkan Wardah dan Eza sendiri belum tahu siapa nama anak itu. Tapi Eza dan Wardah memiliki pemikiran yang sama, yakni membuatkan nama baru untuk baby itu.
__ADS_1
...Bersambung ...