
Tujuan Wardah kali ini adalah butik Bunda. Jalanan Jombang cukup padat ternyata. Mungkin karena saat ini saatnya jam makan siang. Percayalah, udara sekitar begitu panas menyengat kali ini.
"Terima kasih nggeh Pak, sudah saya bayar lewat aplikasi ya, " Ujar Wardah pada bapak taksi online.
"Iya Neng terima kasih kembali," Jawab sang bapak.
Sampailah wardah disebuah toko butik berlantai dua yang tak terlalu mewah itu. Meskipun tak terlalu mewah, ternyata pengunjung butik itu tak bisa dibilang sedikit. Banyak orang-orang berdatangan ke butik ini.
"Selamat siang, Silahkan dek, mau cari apa ya? Biar kami bantu," Sapa salah satu pramuniaga.
"Terima kasih Mbak, saya ada perlu dengan Ibu Roya," Jawab Wardah.
"Sebelumnya sudah membuat janji?" Tanya mbak-mbak itu. Walah-walah, sudah seperti pemilik butik terkenal saja harus membuat janji terlebih dahulu.
"Oh sudah, sebentar lagi insyaallah beliau kemari," Jawab Wardah. Ternyata ia sudah memberi tahu Bunda melalui chat WhatsApp.
"Sayang? Sudah datang ternyata. Sini dek. Ayo ke ruangan Bunda," Ajak Bunda yang baru saja menghampirinya.
__ADS_1
Wardah mengangguk sopan mengikuti Bunda yang menggandengnya. Tampaknya para pegawai tengah sibuk bertanya satu sama lain mengenai status Wardah yang kenal dengan pemilik butik.
"Kenapa Bun? Kok tumben nyuruh dedek ke butik," Tanya Wardah to the poin. Wardah kini duduk di sofa dengan Bunda di sampingnya. View mereka kini menghadap pada dinsing kaca yang menghadap jalanan yang cukup ramai.
"Bunda minta Ibil buat datang ke rumah besok sore," Jawab Bunda tak mengalihkan pandangannya dari dinding kaca itu.
"Owh, Mas Aibil mau jemput dedek ya?" Tanya Wardah sumringah.
"Bunda gak yakin Ibil akan datang kalau nggak Bunda minta, apalagi berinisiatif jemput kamu, gak akan mungkin!" Jawab Bunda ketus.
"Kok ngomongnya gitu sih Bun? Mas Aibil biasanya juga ngabarin dedek kok Bun," Ujar Wardah membela suaminya.
"Wardah gak minat belajar fasions Bun, apalagi yang berurusan dengan perbutikan. Dedek aja baru 2 kali ini masuk ke butik,"
"Ayo, setidaknya dedek paham dikit-dikit." Bunda menarik tangan Wardah.
Mau tak mau Wardah mengikuti Bunda turun ke lantai 1. Sebenarnya di lantai 2 juga ada beberapa pakaian, tetapi lebih di khususkan pada gaun-gaun untuk acara-acara tertentu. Berbeda dengan lantai dasar yang menyediakan pakaian harian.
__ADS_1
"Jadi, mbak ini anaknya Bunda? Maaf Mbak, tadi saya gak tahu," Ujar Mbak-mbak pramuniaga setelah Bunda menjelaskan siapa sebenarnya Wardah.
"Gak papa Mbak, santai aja... Saya bukan anaknya Pak presiden kok," Canda Wardah.
Kini Wardah tengah melihat-lihat pakaian ditemani Mbak Naura salah satu pegawai Bunda. Sesekali Wardah akan bertanya dan Mbak Naura akan menjelaskannya.
"Aku coba layanin pengunjung yang baru datang itu ya Mbak?" Pinta Wardah pada Mbak Naura.
"Iya, coba ajah! Ingat, harus sabar jika pengunjung banyak maunya," Jawab Mbak Naura.
"Siap Bos!" Jawab Wardah kemudian berlalu mendekati pengunjung yang baru saja masuk ke butik.
Semoga saja percobaan Wardah sukses. Hehehe
Siapa tahu nanti dikemudian hari, ia bisa menggantikan Bunda sebagai penanggungjawab butik.
.
__ADS_1
...Bersambung...