Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Mendadak Manja


__ADS_3

Kali ini Wardah memilih untuk menyetir mobilnya sendiri. Sakha sudah anteng di stoller khususnya. Sepanjang perjalanan, lagu anak-anaklah yang menemani mereka berdua. Sedari tadi Sakha juga mengoceh seolah tengah curhat pada Bunanya. Padahal Wardah sendiri sedikit banyak takt ahu dengan ucapan Sakha yang masih belepotan itu. Hanya segelintir kata yang dapat ia pahami. Itupun jika Wardah benar-benar menyimaknya.


Sampai di depan pinntu masuk kantor, Wardah memberikan kunci mobilnya pada petugas yang ada di sana meminta tolong untuk memarkirkan mobilnya.


“Sakha…”


“Hallo Sakhaa,”


“Iiihhh, gemes bener lihat abang Sakha ini!”


Sapa para karyawan yang kebetulan berpapasan dengan Wardah dan Sakha. Tak jarang mereka menoel bahkan sampai mencubit ringan pipi gembul Sakha. Beruntung karyawan di kantor ini tak seagresif penggemar Sakha di luar. Wardah menggandeng Sakha yang ingin berjalan sendiri. Sampailah mereka di ruanngan Eza. Wardah membuka perlahan pintu Eza tak lupa dengan ucapan salamnya.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, hallo jagoan Ayaahh. Sini Nak!” sambut Eza yang langsung menggendong Sakha dan menghujani-nya dengan ciuman bertubi.


“Mau makan sekarang Mas?” tanya Wardah meletakkan makanan di meja tamu.


“Boleh,” jawab Eza.


Eza membiarkan Sakha mengeksplor ruangan kerjanya. Sedangkan dirinya langsung duduk di samping Wardah dengan gelendotan. Kepalanya ia tidurkan di paha Wardah dan memeluknya erat. Wardah sampai bingung sendiri. Kenapa suaminya ini? Biasanya memang manja, tapi ini kelewat manjanya. Ia sampai susah untuk bergerak karena suaminya itu.


“Duduk ih! Katanya mau langsung makan,” ujar Wardah yang kini mengelus lembut rambut suaminya.


Katanya sih sebentar, tapi sudah hampir lima belas menit Eza diposisi itu. Apa ia tak kehabisan napas? Pasalnya wajah Eza dibiarkan tenggelam di perut Wardah. Tak ada percakapan apapun. Sepertinya Eza benar-benar ingin istirahat. Wardah membiarkannya dengan terus mengelus rambut Eza sembari melihat Sakha yang masih asik dengan mainannya.

__ADS_1


Sakha yang sudah bosan dengan mainannya sontak menghampiri orang tuanya. Anak itu berusaha naik ke atas sofa menindih Ayahnya yang tengah memeluk Buna. Wardah sama sekali tak mencegahnya, biarlah suaminya itu terganggu. Agar cepat bangun dan segera makan siang.


“Apa sih Sakhaa? Ayah masih pengen meluk Bunaa,” ujar Eza langsung memeluk Sakha yang duduk di atasnya.


“Yuk makan yuk! Ntar dingin lho lauknya,” ujar Wardah setelah Eza bangun.


Dengan malas Eza duduk dengan memangku Sakha. Wardah menyiapkan makanan untuk Eza dan juga Sakha yang kebetulan juga belum makan siang. Tiba-tiba Wardah teringat dengan Mbak Winda yang menangis tadi pagi. Apa sebaiknya ia beritahu suaminya? Tapi tadi waktu bertemu terakhir kali Mbak Winda sudah ceria lagi.


“Kenapa Ay?” tanya Eza saat melihat istrinya melamun.


“Ha? Nggak papa kok Mas,” jawab Wardah dengan senyumnya.

__ADS_1


Mengingat hari ini Wardah benar-benar free dari pekerjaan kantor, membuatnya berfikir, jika hari ini ia seolah benar-benar mendalami peran sebagai ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Ia sama sekali tak menyentuk pekerjaan kantor sama sekali. Tak ada yang menghubunginya mengenai berita esok hari dan apapun itu. Ia hanya fokus mengurus Eza dan Sakha saja sedari tadi bangun tidur. Ia menghabiskan hari berbelanja dan menemani Mama berkumpul dengan teman-temannya. Untuk satu hari ini ia bisa enjoy dan senang melakukannya, tapi ia tak yakin jika nanti suatu saat ia benar-benar berhenti bekerja, pasti akan bosan dan jenuh.


...Bersambung...


__ADS_2