
...Hari senin lhoo inii. Jangan lupa vote! Komen! Bintang! Like! Share yaaa!...
"Za! Nanti gua lakban mulut Lo. Setiap menit kok nanyain Wardah mulu," ujar Caca geram.
Bukannya menanggapi Caca, Eza terus berjalan dengan menggenggam tangan Wardah. Sedangkan Wardah tertawa mendengar kegeraman Caca. Perjalanan ke posko 2 membutuhkan waktu 30 menit. Sampai di posko pun mereka istirahat sejenak untuk mengistirahatkan kaki mereka.
Sedangkan Wardah yang baru pertama kali mendaki pun sangat excited untuk berfoto ria. Tentunya dengan Caca. Beberapa spot foto yang ada di sana mereka gunakan untuk berfoto. Ini baru posko awal, jika setiap posko mereka berfoto, sudah dapat dipastikan full memori gawai Eza. Ya! Gawai yang digunakan Wardah milik suaminya. Tentu saja ia memilih gawai itu, karena memang hasil jepretannya luar biasa bagusnya. Maklumlah, apel cuil merek hpnya.
Perjalanan menuju posko 3 jalanan mulai terlihat menanjak. Pepohonan rimbun sudah mengepung alur jalan mereka. Jalanan yang dilalui pun ada yang licin. Bunyi-bunyi hewan pun sudah saling bersahutan di sini. Yang paling mendominasi yakni bunyi jangkrik. Terlihat burung beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya juga banyak.
"Kwak! Kwak! Kwak!"
Wardah terlonjak kaget mendengar bunyi gagak. Sontak Wardah memeluk erat lengan Eza.
"Cuma gagak Dah. Nggak usah takut," ujar Caca.
Caca yang sudah beberapa kali mendaki tampak enjoy berjalan beriringan dengan Hito. Jika untuk sampai di posko 2 membutuhkan waktu 30 menit, maka untuk sampai di posko 3 mereka membutuhkan waktu 1 jam setengah. Beberapa kali mereka juga beristirahat di tengah jalan. Sepanjang perjalanan, Wardah menggenggam erat jemari Eza. Udara yang dirasakannya semakin dingin ternyata.
“Dingin banget ya Ay?” tanya Eza.
“Iya, tapi masih bisa nahan kok Mas,” jawab Wardah.
Dengan cekatan, Eza berhenti dan mengambil jaket persiapannya di ransel. Memakaikannya kepada Wardah agar memberi kehangatan lagi. Tak lupa ia memakaikan sarung tangan rajut untuk jemari Wardah agar tak menggigil. Ia benar-benar lupa tak memberikannya sarung tangan.
Beruntung anggota yang ikut Bersama mereka tergolong orang-orang yang sabar. Dengan sabarnya mereka menunggu Eza mengurus Wardah terlebih dahulu. Caca juga membantu Eza memakaikan jaket kepada sahabatnya. Ia khawatir jika Wardah terkena hipotermia.
Sebelumnya Caca sudah meminta kepada Hito untuk mencari gunung yang tidak terlalu ekstrem cuaca sekitarnya. Mengingat ini merupakan permulaan untuk sahabatnya. Tapi Hito bersikukuh merekomendasikan Gunung XXX untuk mereka daki.
Eza ingin menunjukkan sebuah pemandangan yang indah untuk istrinya. Eza tak tahu setelah pendakian ini akan Kembali mendaki Bersama Wardah atau tidak, makanya ia ingin pendakian pertama ini membekas dalam ingatan Wardah selamanya. Ia ingin memberikan kesan yang luar biasa untuk istrinya di kali pertama mendaki.
Maka dari itu, ia meminta kepada Hito untuk memilihkan lokasi mendaki mereka. Sebelumnya Eza sudah mengajak Wardah untuk mengecek Kesehatan mereka berdua. Berdasarkan pemeriksaan dokter, tak ada masalah dari mereka. Tak salah jika Eza menyetujui tujuan yang dipilihkan Hito.
“Kan aku udah bilang, cari gunung yang standard ulu aja!” ujar Caca dengan menghembus jemari Wardah agar hangat.
“Karena masih pagi aja ini, makanya kedinginan,” jawab Hito.
__ADS_1
“Jangan berdebat. Bantu aku dulu. Mbak Fira tolong buatkan minuman hangat,” jawab Eza sembari mendudukkan Wardah di pangkuannya yang kini duduk di sebuah gundukan tanah.
Eza membantu Wardah meminum air yang sudah disiapkan salah satu anggota pendakinya. Eza juga melepaskan sarung tangannya. Menghangatkan telapak tangannya menggunakan gelas yang berisi air panas tadi. Kemudian mengusapkan pada wajah Wardah.
“Kuat kok Mas… kita lanjut lagi ya,” ujar Wardah beranjak dari duduknya.
“Beneran nggak papa Dah?” tanya Caca menggenggam tangan Wardah.
“Iya, nggak papa,” jawab Wardah dengan senyumannya.
Wardah memakaikan sarung tangan Eza seperti yang ia lakukan kepadanya. Menangkup pipi Eza mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Kita lanjut, tapi Ayang aku gendong!” tegas Eza.
“Nggak. Aku kuat Mas, nanti di pos selanjutnya aja baru adegan gendong-gendongan,” jawab Wardah.
Bukan dirinya tak mau. Tapi ia cukup malu menjadi tontonan anak-anak yang lain. Tak jarang pula pendaki lain juga penasaran dengan mereka.
“Mau sampai sore dengerin perdebatan kalian?” sindir Caca.
Setelah drama perjalanan mereka tadi, akhirnya sampailah mereka di pos ke 3. Dari pos ini mereka dapat melihat alam perkampungan di bawah sana. Sangat indah. Di sana juga terlihat ada sebuah telaga yang sangat cantik. Air birunya sangat menggoda.
Wardah tak sabar ingin bermain air di sana. Eza yang Kembali melihat keceriaan sang istri juga ikut senang. Destinasi itu merupakan salah satu tempat yang ingin Eza tunjukkan. Untuk sampai sana mereka harus berjalan kurang lebih 45 menit lagi. Sebelum Kembali berjalan, Eza mengajak anggotanya untuk istirahat Kembali. Eza kalang kabut mencari Wardah yang tiba-tiba sudah tidak ada di sampingnya.
Yang dicari pun tak merasa bersalah. Wardah enak-enakkan memilih makanan yang disuguhkan oleh beberapa penjual di posko 3 ini bersama Caca.
“Itu tu bini Elu. Lihat makanan langsung bugar lagi,” ujar Hito memberitahu Eza.
Eza geleng-geleng kepala melihat istrinya. Eza menghampiri Wardah bersama Hito.
“Enak?” tanya Eza tepat di samping Wardah. Wardah terlonjak kaget mendengar Eza. Dipukulnya lengan Eza dengan gemas. Suka sekali mengagetkan orang. Untung saja Wardah punya Riwayat penyakit.
“Astaghfirullah! Kaget tahu!” seru Wardah.
“Udah sehat Dah ketemu makanan?” gurau Hito yang kini di samping Caca.
__ADS_1
“Alhamdulillah dinginnya tersamarkan dengan jajanan enak Ibuk ini,” jawab Wardah dengan tawanya. Sang ibu penjual itu pun tertawa pula mendengar candaan Wardah.
“Mas nggak dikasih makan nih?” tanya Eza.
“Oh iya! Ciloknya enak lho Mas ini,” jawab Wardah menyuapi Eza.
“Cepet halalin aku Mas! Aku juga pengen kayak mereka,” ujar Caca pada pacarnya.
“Iya sayang, sabar ya sebentar lagi,” jawab Hito dengan senyum canggungnya.
Berulang kali sang pacar meminta kepastian, tapi dirinya benar-benar harus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu sebelum melamarnya. Hito tak ingin sang pacar harus ikut berjuang. Ia hanya ingin Caca menikmati semuanya setelah menikah. Panutan Hito dari dulu adalah Eza. Sahabatnya sendiri. Ia ingin benar-benar mampu membahagiakan Caca terlebih dahulu. Tak ingin melihat Caca menderita di pernikahan mereka.
Ternyata mereka sampai di posko 3 di waktu zuhur. Sekalian mereka melaksanakan sholat zuhur berjamaah. Wardah tampak ragu melepas jaket dan sarung tangannya. Takut hendak menyentuh air.
"Takut air Lu? Tumben," ledek Caca.
"Nggak! Siapa yang takut?" Wardah mengelak.
Caca terkikik mendengar jawaban sahabatnya. Jelas-jelas wajah Wardah menggambarkan jika ia takut.
"Kenapa Ay?" tanya Eza menghampiri Wardah.
"Nggak papa, mau ikut Caca ambil wudhu," jawab Wardah kemudian mengejar Caca.
Benar saja dugaan Wardah. Air mancur ini begitu dingin. Sama persis dengan air es di dalam kulkasnya. Wardah menggigil dibuatnya. Eza yang melihat Wardah keluar dengan menggigil sontak menghampiri hendak memeluknya. Tapi langsung dicegah oleh Caca.
"Za! Lu mau Wardah ambil wudhu dua kali? Udah sana! Biar Wardah sama gua!" geram Caca.
"Elu kenapa sih marah-marah mulu?" tanya Wardah sembari memakai kembali jaket dan perintilan penghangat tubuhnya lagi.
"Kagak papa. Ayo sholat," elak Caca. Sepertinya suasana hati Caca tercemarkan dengan perbincangannya dengan Hito tadi.
Puas beristirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke posko selanjutnya. Jika tadi mereka berjalan di jalan setapak, mulai dari posko ini jalanan mulai lebar. Akan tetapi masih menanjak. Eza bersikeras menggendong Wardah. Meski Wardah sendiri sudah menolaknya.
...Bersambung ...
__ADS_1