Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Up


__ADS_3

Dua bocil dengan Mbak Winda dan suami yang mengantarkan mereka ke bandara. Sepanjang perjalanan dua bocil itu terus bertanya sesuka hati mereka. Untung saja Wardah tergolong wanita yang sabar, jadi ia bisa menemani ocehan dua bocil itu.


"Kata Mama, nanti di sini ada dedeknya... Kalau Dinda ikut nggak jadi ada adeknya. Padahalkan Dinda pengen ikuut," celetuk Dinda dengan menempelkan telinganya di perut Wardah.


"Emangnya iya ya Aunti? Waahhh! Hebat!" sambung Inayah yang ikut menempelkan telinganya di perut Wardah.


"Hahaha, iya insyaallah nanti ada dedeknya..." jawab Wardah dengan sedikit bingung mendengar ranah pembicaraan Dinda dan Inayah.


"Mbak Winda kebiasaan," ujar Eza.


"Dari pada dua krucil itu ikut, mending Mbak bilang gitu aja," sambung Mbak Winda.


🌾🌾🌾


Sampai di bandara, Eza langsung mengenakan masker. Bahaya jika tidak. Bisa-bisa tertunda nanti keberangkatannya karena orang-orang mengajaknya berfoto. Dengan begitu, Wardah juga harus mengikuti cara Eza. Sedikit banyak pasti mereka ada yang mengenalinya pula.


Mas Rio membantu Eza menyusun barang-barangnya di troli agar mudah membawanya. Drama kali ini yaitu dua bocil yang kembali merengek tak mau ditinggal oleh Wardah.


"Ayo kita beli kucing! Biar bisa buat mainan Naya sama Dinda," bujuk Mbak Winda.


Cukup lama membujuk mereka, akhirnya berhasil juga dengan kucing.


"Nanti kalau Aunty pulang, Dinda mau nengok dedeknya!" tidak hanya kucing ternyata. Dinda juga menagih seorang adek. Dimana gerangan seorang Wardah dan Eza mendapatkan dengan secepat itu?


...


"Apaan sih main iyain aja! Dimana mau dapet adek?" tanya Wardah kesal saat mereka berjalan ke ruang tunggu.


"Tenang Ay, nanti kita berusaha sekuat tenaga. Every day, every time, every night," jawab Eza dengan santainya.


"Haiiss! Mbohlah," sambung Wardah.


Eza terkikik melihat ekspresi istrinya.Ia tampak kesal, tapi sama sekali tak menolak genggaman Eza.


"Mau es krim?" tanya Eza.

__ADS_1


"Nggak," jawab Wardah.


"Mau toast?" tanya Eza lagi.


"Mau," jawab Wardah dengan semangatnya.


Jadilah sebelum berangkat Eza mengajak Wardah menuju kedai toast. Kehendak hati ingin makan di tempat, tapi panggilan keberangkatan sudah berkumandang.


Eza sengaja mengambil penerbangan first class agar lebih nyaman selama perjalanan. Baru duduk sejenak, Wardah sudah menodongkan tangannya pada Eza. Meminta toast yang mereka beli tadi. 


"Cemong itu," ujar Eza menunjuk sudut bibir Wardah.


"Sweet dikit napa sih!" jawab Wardah ketus.


Tanpa aba-aba Eza mel*mat bibir Wardah, membersihkan sisa mayo di sudut bibirnya. Wardah membulatkan matanya menerima perlakuan itu.


"Super sweetkan?" ujar Eza.


Wardah gelagapan dibuatnya. Melihat ke kanan ke kiri memastikan tak ada yang melihat adegan barusan. Wardah memukul gemas dada Eza. Ia malu, tapi juga senang mendapatkan perlakuan itu. Dapat dipastikan pipi Wardah sudah merah merona saat ini.


Eza menarik Wardah agar berbaring di dadanya. Perjalanan memang tak terlalu lama, tapi tak salah juga jika dihabiskan untuk tidur. Eza memilih untuk memainkan game yang ada dihadapannya. Sedangkan Wardah masih setia merebahkan dirinya di dada Eza sembari memakan makanan yang Eza pesan kepada pramugari.


"Gimana Ay?" tanya Eza mengelus lembut kepala Wardah.


"Boleh," jawab Wardah.


Tanpa mengubah posisinya Wardah dan Eza berpose mengikuti dua pramugari itu. Beberapa pose berhasil mereka ambil. Setelah kepergian dua pramugari itu gantian Eza yang mengambil beberapa gambar berdua dengan Wardah. Tentu saja untuk bahan konten nanti setelah sampai tujuan.


Sedikit menurunkan sandaran kursi memang pilihan yang tepat. Semakin nyaman dalam menikmati pemandangan langit nan biru itu. Wardah tak melepaskan sama sekali pelukannya untuk Eza. Ia bahkan sudah tak peduli dengan tatapan para penumpang yang lain. Yang ia inginkan hanya kenyamanan dengan Eza.



Dua jam penerbangan, akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan. Wardah yang harusnya membawa tasnya, diambil alih oleh Eza. Dengan senang hati Wardah memberikan tasnya. Mereka harus menunggu barang mereka pula. Untung saja ada Ozay orang suruhan Eza untuk membantu.


Lima belas menit meninggalkan bandara, kawasan yang mereka tuju sudah memberikan ciri khas kealamian. Pepohonan hijau dan pedesaan yang berdampingan dengan sawah-sawah milik warga menambah kecantikan untuk daerah ini. Satu jam sudah perjalanan mereka, akhirnya sampailah di penginapan yang dituju. Hampir seperti hutan lindung.

__ADS_1


Memasuki gerbang penginapan masih bisa dikatakan jika itu penginapan berkelas. Tapi, keluar dari lobi utama, mereka kembali disambut dengan hehijauan. Tak tampak tanah, tapi juga tak tampak paving atau aspal untuk akses jalan. Akan tetapi, bebatuan pipih yang tersusun rapi nan cantik menjadi akses jalan menuju ke tiap kamar.


Batu dengan perpaduan rumput hijau yang terbentang menutupi tanah menjadikan pemandangan semakin asri. Apalagi dipadukan lagu dengan aliran sungai disepanjang penginapan. Sungguh cantik. Disisi lain kita dapat melihat gunung yang menjulang dengan tingginya. Jangan lupakan suasana dingin ini, menjadikan rencana honeymoon Eza semakin berkesan nantinya.



Sampai di kamar, Eza langsung mengajak Wardah untuk sholat zuhur. Ini kali pertama mereka melaksanakan sholat secara berjamaah. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Eza saat ini, tentu saja ia sangat senang sekali. Baru duduk sejenak, makanan mereka datang. Saatnya makan siang!



Eza dan Wardah memilih untuk menikmati makan siang mereka di meja yang ada di dekat sungai. Kali ini memang tengah hari, tapi tak terasa terik sama sekali. Padahal hari ini juga tergolong cerah.


"Nanti mau mandi di sungai itu dah!" celetuk Eza.


"Besok aja! Jangan nanti. Istirahat dulu Mas," jawab Wardah.


"Iya cantikku," sambung Eza.


Tepat setelah makan siang, Eza mengajak Wardah untuk beristirahat. Menikmati suasana kamar yang baru dengan nuansa alam yang asri. Eza memeluk erat Wardah untuk menciptakan kehangatan bagi mereka. Padahal AC di kamar mereka sudah tersetting menjadi penghangat, tapi sepertinya tak berpengaruh. Karena Wardah dan Eza masih kedinginan.


Sore harinya, Eza mengajak Wardah untuk berkeliling di sekitar penginapan. Eza mengajak Wardah ke pinggir sungai. Dengan sangat excited Wardah menceburkan kakinya ke dalam sungai itu. Tentu saja dirinya kedinginan. Aliran air itu berasal dari pegunungan langsung.


"Itu gunung yang akan kita daki lusa," ujar Eza menunjuk gunung yang ada di hadapan mereka.


"Lusa? Bukannya besok Mas?" tanya Wardah heran.


"Mas nggak yakin kalau besok. Lusa aja kalau jadi. Kalau nggak jadi ya ditunda lagi," jawab Eza dengan senyuman anehnya.


Perasaan Wardah tak enak seketika.


...Bersambung...


...Janji deh nanti malam up lagi!...


...Tapi kalian bantuin Lhu-Lhu buat bangkit dong!...

__ADS_1


...Komen, like, vote, kasih hadiah minimal mawarlah, sama satu lagi share.......


...Okeee!...


__ADS_2