
Malam ini Wardah dan Eza tengah menyiapkan barang-barang mereka kembali. Esok hari harus segera kembali ke Jakarta. Sebenarnya Eza hendak mengajak Wardah untuk liburan ke kota yang lain, tapi ada tuntutan pekerjaan yang mengharuskan dirinya kembali.
"Aku pengen ke pantai," ujar Wardah yang kini menyender di dada Eza.
Eza tengah memantau email di iPadnya setelah membantu Wardah beberes.
"Iya, nanti kita atur waktu libur lagi ya," jawab Eza mencium ubun-ubun Wardah.
Tak berselang lama pintu kamar mereka tampak diketok seseorang. Mengganggu rutinitasnya berduaan dengan sang istri saja. Dengan malasnya Eza membuka pintu itu setelah sepuluh menit masih saja mengetok.
Hito! Ntah kenapa orang itu hobi sekali mengganggunya.
"Yang lain minta meeting malam ini. Buruan join zoom, ditungguin Elu," ujar Hito bukannya pergi malah ngancrit masuk ke kamar Eza dan Wardah.
Hito say hello pada Wardah yang duduk di sofa sambil menonton serial drama korea. Untung saja Wardah gerak cepat mengambil jilbabnya sebelum Hito masuk.
"Caca mana Mas?" tanya Wardah.
"Ada di kamarnya. Bentar lagi juga ke sini. Barusan aku chat," jawab Hito.
"Kalau meeting bisa di tempat masing-masing kali! Napa harus di tempat gua sih?" geram Eza kembali duduk di samping Wardah.
"Sengaja buat ngawasin Elu. Rapat yang terakhir, Lu ngilang tanpa ngasih masukan untuk penutupan," jawab Hito.
Wardah hanya menjadi pendengar setia kali ini. Ia tak membela suaminya, karena memang ucapan Hito benar. Hadirnya Caca menghentikan perdebatan dua sahabat itu. Barulah mereka melakukan rapat. Caca yang juga ikut andil dalam acara yang akan mereka langsungkan tentu saja mengikuti rapat itu.
Di sini Wardah lah yang tak ikut sibuk. Ia memilih untuk menyiapkan minuman serta cemilan untuk tiga orang sibuk itu. Beruntung ia dan Eza tadi menyempatkan untuk membeli cemilan. Wardah juga memesankan pizza kepada petugas villa. Setelah rapat pasti mereka kelaparan.
Barulah ia kembali duduk di samping Eza. Menyenderkan kepalanya di dada bidang Eza. Wardah memilih menggunakan handset agar tak mengganggu tiga orang sibuk itu. Beruntung smart tv di kamarnya canggih.
__ADS_1
Caca yang melihat kemesraan di depannya pun sontak ikut menyenderkan kepalanya di pundak Hito. Tak dapat dipungkiri jika dirinya juga lelah. Tak lupa pula dirinya memposisikan gawainya agar tak terlihat jika dirinya menyender dengan Hito.
Wardah yang gabutnya masyaAllah pun mulai bosan dengan tontonannya. Jemarinya yang terbebas pun mulai jahil. Dimainkannya dagu Eza yang bersih dari rambut-rambut. Caca yang melihat tangan Wardah dari layar zoomnya sontak segera melihat ke arah belakang gawainya. Benar-benar aneh temannya itu. Anehnya Eza sama sekali tak mencegahnya. Dengan enjoynya ia tetap hikmat menyimak rapat. Sesekali juga berbincang dengan Hito ataupun Caca.
"Kayaknya mereka berdua benar-benar dimabuk cinta deh!" celetuk Caca pada pacarnya.
"Biasa pengantin baru mah. Bisa aja besok kalau kita nikah juga kek gitu," jawab Hito dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tangan kamu masuk frame Dah," ujar Caca gemas.
"Bosen aku tuh..." lirih Wardah menurunkan tangannya dari dagu Eza.
Eza menggenggam jemari Wardah. Mengelusnya dengan lembut.
"Sabar ya, bentar lagi selesai kok," ujar Eza mencium kening Wardah.
"Ini beneran tembus pandang?" tanya Caca.
Secara bersamaan Wardah dan Eza mengangguk tanpa canggung.
"Gile lo dua! Nggak ngerti lagi gua ama jalan pikir orang udah nikah," ujar Caca.
Caca merinding memikirkan hal itu. Mungkinkah ia nanti juga seperti itu nantinya bersama Hito? Apakah iya dengan Hito? Bagaimana jika dengan yang lain? Caca menggelengkan kepalanya menghapus khayalan laknat itu. Segeralah ia mengajak Hito pergi.
"Pergi juga dua orang itu," celetuk Eza.
Ditariknya Wardah kepangkuannya dengan senyum smirk-nya.
"Mau tahu nggak Ay, gimana caranya biar nggak bosen?" tanya Eza.
__ADS_1
"Selesaiin dulu meetingnya," jawab Wardah yang kini memeluk Eza.
Percayalah, kini posisi mereka seperti seorang bapak yang bekerja sembari menimang anak. Eza sendiri tak merasa terganggu dengan posisi Wardah. Ia malah membopong Wardah berpindah haluan ke tempat tidur mereka setelah mengunci pintu mereka.
Eza melanjutkan rapatnya dengan Wardah yang ikut mendengarkan. Meski sebenarnya ia sendiri tak paham.
"Ini siapa Mas?" tanya Wardah menunjuk orang yang ada di zoom.
"Itu Pak Indra, ketua panitia penyelenggara acara ulang tahun stasiun tv kita," jawab Eza.
Wardah manggut-manggut mengerti sepertinya acara kali ini akan sangat megah melihat orang-orang ini rapat dengan fokusnya.
"Lama banget rapatnya," rengek Wardah yang kini kembali dilanda bosan.
"Iya Ay sebentar ya, rapat yang kemarin Mas nggak ikut sampai selesai. Nggak enak kalau mau keluar duluan," ujar Eza mengelus lembut rambut Wardah.
"He'em, nggak papa. Kan harus profesional," jawab Wardah sembari memainkan kotak-kotak dari balik baju Eza.
Tentu saja Eza menahan gejolak rasa geli atas perlakuan Wardah. Geli? Tentu saja! Eza menggenggam jemari Wardah yang terus mengelus choco chipsnya.
"Mas mau ngomong dulu ya, jangan dielus... Geli," ujar Eza.
Wardah mengangguk mengerti. Ditengah Eza sedang memberikan masukan tiba-tiba Wardah kembali mengusap area terlarang lagi. Dengan sekuat tenaga Eza mencoba menetralkan suaranya agar tak berubah. Usapan itu semakin lemah, hingga tak terasa sedikitpun lagi. Eza yang telah selesai mengeluarkan pendapatnya lantas melihat ke arah Wardah yang memeluk dirinya sedari tadi. Ternyata sang empunya sudah tertidur. Disibaknya rambut Wardah yang menutupi wajahnya.
"MasyaAllah, cantiknya istriku ya Allah," gumam Eza.
Dibenarkannya posisi tidur Wardah agar lebih nyaman. Mendusel di pelukan suami memang yang ternyaman. Eza memeluk sang istri sembari mengecek email yang tadi sempat tertunda.
...Bersambung...
__ADS_1