
“Kakak nggak pengen tanya ke Mas Rio pelan-pelan?” lirih Wardah.
“Kakak takut dek, kakak takut kalau yang kakak khawatirkan benar-benar terjadi,” jawab Kak Winda.
“Kakak, kakak tahu kan Wardah dulu juga pernah diposisi janda? Untuk memutuskan meminta cerai Wardah juga nggak mudah kak, apalagi saat itu umur pernikahan Wardah dengan mantan suami juga masih terbilang baru dan impian Wardah dari dulu hanya menikah sekali seumur hidup,” lirih Wardah mencoba memotivasi kakaknya.
“Tapi Wardah ingat jika Wardah nggak sendiri. Wardah punya Allah yang selalu ada kapan pun dan dimana pun. Wardah punya Bunda, Wardah punya Ayah yang Wardah sendiri yakin kalau Ayah pasti selalu berdoa dan mendukung Wardah. Wardah punya orang-orang baik di sekeliling Wardah. Dari situ Wardah menguatkan diri untuk berani melewati masalah itu. Wardah sudah mencoba berbicara baik-baik dari hati ke hati, hingga Wardah meminta nasehat dari orang-orang kepercayaan Wardah. Alhamdulillah Wardah bisa lepas dari belenggu menyakitkan itu Kak,” sambung Wardah dengan tetesan air matanya karena terharu ternyata dirinya sekuat itu.
“Kakak juga bisa. Kakak bicarakan baik-baik dengan Mas Rio, coba bicarakan berdua… Semoga itu hanya prasangka buruk dari Kakak saja. Putuskan setelah itu.” Ujar Wardah lagi.
“Bagaimana kalau Mas Rio berbohong?” tanya Kak Wardah lagi.
__ADS_1
“Kunci dari sebuah hubungan itu adalah kepercayaan dari dua belah pihak. Tapi kita juga tak bisa menyalahkan diri jika diri kita curiga, karena itu adalah wujud dari penjagaan diri.” Jawab Wardah.
“Masalah bohong atau tidak itu menjadi tanggungan Mas Rio yang menjawab, yang jelas disini Kakak hanya perlu memastikan terlebih dahulu jawaban dari Mas Rio. Kedepannya kita bisa atur lagi bagaimana selanjutnya,” sambung Wardah.
Wooahh! Wardah merasa sudah menjadi Suhu (sesepuh) di sini. berani sekali dirinya menasehati kakak iparnya. Wardah sendiri tak percaya bahwa dirinya bisa berbicara demikian. Mana jawabannya seolah bijak sekali. Wardah tersenyum getir mengingat ucapannya barusan. Kak Wardah mengucapkan terima kasih pada adik iparnya itu. Ia juga akan mengikuti saran Wardah.
“Kakak bisa minta nasehat sama yang lain kok Kak, jangan sama Wardah aja,” Wardah mewanti-wanti.
Wardah melihat jam dinding yang ternyata sudah lama ia meninggalkan kamar. Ia memastikan Kak Winda istirahat terlebih dahulu barulah ia pergi. Tak lupa ia mematikan lampu utama kamar kakaknya itu. Melihat sekilas foto pernikahan kakaknya Wardah menjadi sendu.
‘Aku harap Mas Rio tidak setega itu pada Kak Winda,’ batin Wardah sembari menutup pintu kakaknya.
__ADS_1
Masuk ke kamar, Eza masih setia menonton tv. Tapi kini siarannya sudah berubah menjadi Bedah Rumah & Uang Kaget. Diletakkannya air minum di atas meja kemudian berbaring di samping suaminya.
“Dari mana aja sih Ay lama banget? Ngelewatin Laut Merah apa?” tanya Eza dengan candaan recehnya sembari memeluk Wardah dengan sangat erat. Ditinggal mengambil air saja rasanya sudah sangat rindu.
“Emm, ittu, tadi ngobrol sama Faiz sama Kak Winda,” jawab Wardah.
“Owh, asik bener ngobrolnya sampai aku kangen gini,” sambung Eza yang kini mendusel pada ceruk leher istrinya.
“Dasar modus!”
Wardah mengelus lembut rambut Eza agar suaminya itu tidur. Awalnya ia kira akan meminta jatah ternyata setelah berbincang sebentar suaminya sudah pulas memeluknya. Padahal Wardah masih asik bercerita. Malah ditinggal tidur. Wardah melihat ke arah box Sakha sebentar. Setelah dirasa aman ia membenarkan selimutnya dan Eza, mematikan tv, dan mengikuti jejak Eza yang sudah jalan-jalan ke dalam mimpi indahnya malam ini.
__ADS_1
...Bersambung...