
“Semoga Sakha bisa cepat punya adik ya,” bisik Bunda setelah Eza meletakkan Sakha di tempat tidur.
“Bismillah Bun, semoga ya,” jawab Eza dengan kerlingan matanya kemudian menghilang di balik pintu.
Tak lupa Eza mengecek keamanan rumah sebelum naik ke lantai atas. Meski sudah ada penjaga di bagian depan dan di belakang Eza memang masih tetap mengecek sekeliling rumah. Seluruh pintu dan jendela harus sudah terkunci. Menyisakan satu pintu yang terhubung di dapur terbuka jika saja para petugas hendak membuat minuman.
Setelah itu barulah Eza naik menuju ke kamarnya. Ia tak sabar bisa berduaan dengan Wardah. Masuk ke kamar, sudah ada Wardah yang mengenakan mukena menunggu suaminya untuk sholat Isya bersama. Tercium aroma sabun khas milik Wardah, sepertinya Sang Istri sudah mandi. Sepertinya tadi Eza memang terlalu lama singgah di pos keamanan dan Wardah langsung membersihkan diri.
“Mas Eza mandi dulu gih! Aku tungguin buat sholat,” ujar Wardah memberikan setelan piyama pada Eza.
“Oke Ay, mandi kilat kok aku!” jawab Eza segera meluncur ke kamar mandi.
***
__ADS_1
Selesai sholat berjamaah, inilah momen yang dirindukan dua sejoli itu. Dapat deeptalk berdua. Biasanya memang ada perbincangan sebelum tidur. Tapi denga nada Sakha di antara mereka. Saat ini mereka bisa bersama tanpa penghalang. Eza bisa memeluk Wardah dengan nyaman tanpa mengkhawatirkan Sakha yang menangis atau merebut Wardah.
“Ay, maaf ya sebelumnya, aku kok merasa kalau Si Fadhil itu ada … apay a, aku susah ngomongnya.” Ujar Eza yang kini masih memeluk Wardah dengan mengusap lembut rambutnya.
“Kenapa sih Mas? Aku sama Bang Fadhilkan Cuma temen sekolah,” jawab Wardah.
“Iya Ay, Mas paham, bukan di kamu-nya, tapi di Fadhil-nya. soalnya aku lihat kayak tatapannya ke kamu kayak tatapan yang… nggak biasa,” ujar Eza lagi dengan hati-hati.
“Mas, mau aku kasih tahu suatu hal nggak?” tanya Wardah tiba-tiba.
“Bang Fadhil itu dulu cinta pertama aku di pesantren,” jawab Wardah dengan tenang.
“Tapi dulu banget Mas, kayak cinta monyet gitu lhoo,”
__ADS_1
Berbeda dengan Eza yang tampak terjut. Pantas saja ia dari tadi melihat ada yang aneh dari tatapan Fadhil. Eza tak khawatir ataupun meragukan perasaan Wardah, justru ia sedikit ingin waspada dengan perasaan Fadhil. Jangan-jangan laki-laki itu menyimpan perasaan untuk istrinya?
“Mas… Nggak boleh su’udzon tahu, aku-kan udah Bahagia lahir batin sama kamu. Bang Fadhil juga sudah sama Gita,” ujar Wardah mengelus lembut pipi Eza.
Benar kata Wardah. Itu urusan hati zaman dulu. Sekarang sudah berubah. Eza memilih untuk membuang jauh-jauh pikiran jeleknya mengenai Fadhil.
“Ay, sekarang yuk!” ujar Eza dengan semangat 45.
“Apanya?” tanya Wardah bingung saat tiba-tiba Eza mengukungnya.
“Haiish, mumpung Sakha lagi sama Bunda,” jawab Eza mengerlingkan matanya.
Wardah tersenyum saat paham atas maksud suaminya. Padahal Wardah salah satu tipe orang yang tak ingin bersenggama di waktu malam seperti ini. Ia terlalu malas untuk mandi sebelum subuh. Melihat semangat Eza yang menggebu-gebu membuat Wardah berfikir ulang untuk menolaknya. Tengah asik memadu kasih, ditengah perc*mbuan mereka hujan turun dengan derasnya. Membuat aktifitas mereka semakin menggebu. Seolah semesta mendukung.
__ADS_1
Jika malam sebelumnya jegiatan mereka akan diselimuti was-was jika Sakha terbangun, berbeda dengan malam ini. Mereka berdua dapat melakukannya denga naman tentram sejahtera dan puas bahkan sampai pagi. Hahaha.
...Bersambung...