Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Beraktifitas


__ADS_3

Setelah menikmati pantai, mereka beralih untuk jalan-jalan ke alun-alun Yogyakarta. Selama jalan-jalan Wardah sempat memperhatikan adik dari bosnya itu. Tak mau sama sekali menyapanya. Boro-boro menyapa, Wardah tersenyum padanya saja tak digubris.


Berhubung Mama dan Eza tengah melihat-lihat barang antik, Wardah mendekati Alif yang duduk di salah-satu bangku. Bahkan ia tak melengos padanya sedikit pun.


"Assalamualaikum," sapa Wardah sopan.


"Waalaikumussalam," jawabnya.


"Saya ada salah ya sama kamu? Kok responnya gitu?" tanya Wardah penasaran.


"Kakak kenapa nggak menerima Kak Eza? Padahal tadi Kak Eza sudah berusaha melawan rasa takutnya untuk melamar Kakak," jawabnya to the point.


"Kak Eza serius kak. Aku saja tak pernah melihat Kak Eza mendekati perempuan seperti itu," sambungnya lagi. Wardah tersenyum mendengarkannya. Ternyata anak ingusan ini menguping pembicaraannya dengan Eza.


"Kamu masih labil untuk memahami urusan kami orang dewasa dek," lirih Wardah.


"Kamu punya pacar?" tanya Wardah. Tiba-tiba saja ia kepo perihal anak ini.


"Minta digorok lehernya sama Mama kalau ketahuan pacaran," celetuknya. Spontan tawa Wardah pecah. Ternyata Mama seketat itu mengawasi anak-anaknya.


"Di pesantren hafalan Al-Quran atau fokus ke kitab?" tanya Wardah.

__ADS_1


"Kitab," jawabnya singkat.


"Boleh dong Kakak tes dikit," pancing Wardah.


"Emang Kakak bisa?" tanyanya mulai penasaran dengan Wardah.


"Bisa dong! Kakak juga Mbak Santri tahuu," sombong Wardah. Alif tampak terkejut sesaat. Melihat penampilan Wardah.


"Boleh, siapa takut?" sombongnya balik.


"Ada berapa ciri-ciri kalimat fi'il," tanya Wardah.


"Itu mah pelajaran kelas 2 MTS Kak, ada 7-kan?" tegas Alif.


"Dapat dimasuki قد, سين تنويس, سوف تسويف," Alif terdiam. Tampaknya tengah berpikir.


"Bisa dimasuki نون توكيد، تاء تاءنيث، ضمير رفع متحرك، ياءموءنث مخاطبة " sambung Eza dengan lancarnya. Sembari mendekati Wardah dan Alif.


"Ngajinya yang bener! Gitu aja nggak tahu. Itu baru ilmu dasar lhoo," celetuk Eza.


"Iyaa, lupa dikit," jawab Alif.

__ADS_1


Wardah melihat Eza tanpa berkedip. Ia pikir Eza tak paham perihal nahwu shorof. Ternyata benar jika dia anak pesantren. Setelah perbincangan panjang itu, Eza, Alif dan Wardah mencoba permainan yang kerap dilakukan di sini. Yakni menutup mata untuk melewati dua pohon beringin kembar. Sedangkan Mama melihat anak-anaknya di pinggiran. Senang sekali melihat tawa mereka.


Wardah berjalan perlahan mengikuti alur instingnya. Cukup pusing diputar tiga kali tadi. Jadinya sedikit ngglieng.


Brugh! Wardah dan Eza tabrakan. Dengan Eza yang memeluk Wardah. Sontak Wardah segera melepas ikatan yang menutupi matanya. Wajah Eza yang masih tertutup kain.


Dug! Dug! Dug!


Jantung Wardah berdetak cepat sekali. Tangannya yang menyentuh dada bidang Eza gemetar seketika. Tak baik-tak baik. Kesehatan Wardah bermasalah sepertinya. Pikirnya. Wardah segera melepaskan adegan itu. Barulah Eza membuka ikatan di kepalanya yang menutupi matanya.


Padahal sedikit lagi mereka memasuki jalur tengah dua pohon kembar itu. Setelah melakukan refreshing ala Mama Eza, akhirnya pulanglah mereka ke mansion sebelum keesokan harinya berangkat ke Jakarta.


.


.


.


Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta mereka tempuh menggunakan mobil. Untung saja tak terlalu jauh.


Sepulang dari Yogyakarta, paginya Wardah sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Menyiapkan edit naskah, rundown acara, hingga mengawasi keberlangsungan acara. Wardah tak melihat Eza beberapa hari ini. Di apartemen pun ia tak melihatnya.

__ADS_1


"Kemarin ngajak nikah! Sekarang malah ngilang. Dasar!" gumam Wardah.


...Bersambung.... ...


__ADS_2