
Papa masih memeluk Wardah saat ini. Bukan dengan posisi berdiri lagi, kini mereka sudah duduk di sofa depan televisi yang sangat besar. Hampir sama dengan bioskop sepertinya. Hahaha.
Sebenarnya Wardah sudah melepaskan pelukannya, tapi Papa masih saja ingin memeluk Wardah. Ia ingin menenangkan anak ini. Pak Adhitama memang selalu saja tak tega melihat wanita menangis. Mama Eza duduk di sisi lain Wardah. Mengelus lembut lengannya.
"Maaf Pa Ma, jadi melow, hahaha," ujar Wardah dengan suara bindeng sehabis menangis. Sembari ia mengurai pelukan ayah dari Bos-nya itu.
"Nggak papa sayang, kamu bisa anggap Papa sebagai Ayah kamu mulai sekarang. Kalau mau memanggil Ayah juga boleh kok," ujar Mama lembut. Wardah tersenyum dengan sangat manisnya pada Mama. Mencium tangan Mama lembut. Tak tahan melihat tingkah Wardah, Mama memeluk sayang anak perempuan di sampingnya ini. Dengan senang hati Wardah membalas pelukan itu.
"Wardah biasanya dipanggil apa sama Ayah?" tanya Pak Adhitama lembut.
"Biasanya Ayah panggil Wardah Dedek. Nggak tahu kenapa, padahal Wardah udah besar," jawab Wardah dengan tawanya lagi. Jangan lupakan suara bindengnya.
"Papa dan Mama juga akan memanggil Wardah dengan sebutan dedek kalau begitu. Boleh?" tanya Papa.
"Boleh," jawab Wardah mantab. Ia benar-benar bahagia saat ini. Pak Adhitama ntah kenapa memiliki kepribadian yang sama dengan Ayah Wardah. Yaa, meskipun wajah mereka tak mirip. Tapi Wardah dapat merasakan kehangatan yang sama di sini.
.
.
.
Hari semakin malam. Dan Mama tak mengizinkan Eza untuk mengantarkan Wardah kembali ke apartemennya. Mama tak ingin Wardah kesepian saat ini, melihat kondisinya sehabis menangis seperti ini membuatnya tak tega.
"Sudah, kalian berangkat ke Jombang dari sini saja. Dedek bobok sama Mama ya? Mama pengen berduaan sama dedek," ujar Mama.
Wardah bingung hendak menjawab apa. Ia melirik ke arah Papa. Niat hati tak setuju jika sang istri tak tidur dengannya, tapi Papa juga tak ingin Wardah tidur sendirian. Akhirnya Papa tersenyum mengangguk mengiyakan.
"Iya Mama," jawab Wardah.
.
.
.
Mama menyiapkan beberapa pakaian tidur untuk Wardah pilih. Ya! Kini mereka berdua sudah ada di dalam kamar. Banyak sekali dan sangat bagus. Wardah dibuat bingung sendiri memilihnya.
__ADS_1
"Sayang, ini sebenarnya baju Mama dulu. Sayang kalau mau dimuseumkan, masih bagus-bagus. Sekarang malah nggak muat lagi dengan Mama. Nggak papa kan kalau dedek pakai ini?" tanya Mama.
"Nggak papa Ma, ini bagus banget. Dedek suka," jawab Wardah mengambil salah satu piyama tidur untuknya. Sebenarnya Wardah masih belum terbiasa dengan panggilan Mama padanya, karena mereka juga baru saja kenal.
"Dilepas saja jilbabnya, disinikan cuma ada kita berdua," ujar Mama lembut dengan senyuman teduhnya.
"Hehehe, iya Ma," jawab Wardah.
Ia mulai melepaskan jilbabnya. Mama mengambil dari tangan Wardah dan meletakkannya di tempat khusus. Mama meminta Wardah agar duduk di meja riasnya, dielusnya perlahan rambut indah Wardah, disisir, dan diberikan sebuah cairan yang ntah apalah itu. Wardah rasa, rambutnya terasa semakin lembut setelah diberikan cairan itu.
"Wardah ngantuk dielus-elus rambutnya sama Mama, hahaha," ujar Wardah dengan mengusap matanya yang semakin berat.
Malam ini Wardah seakan berada di rumahnya sendiri, seolah kini tengah dipelukan Bunda yang hangat, karena Mama memang tengah memeluknya. Dapat dipastikan tidurnya nyenyak nanti.
Berbeda dengan dua manusia di kamar lain. Papa tampak ngedumel sendiri karena sang istri menelantarkannya. Eza memutar bola matanya jengah melihat tingkah sang Papa. Hanya semalam tak tidur bersama sudah kalang kabut saja.
.
.
.
Mama tak ikut mengantarkan mereka berdua ke bandara, karena siapa lagi kalau bukan Papa. Papa merajuk karena semalam harus tidur dengan anaknya itu. Mau tak mau Mama harus membujuknya. Wkwkwk.
Barang bawaan Wardah yang sebelumnya ia tata sendiri gagal total untuk dibawa. Mama sudah menyiapkan barang bawaan yang baru ternyata. Papa melarang Eza untuk kembali ke apartemen mengambil barang mereka. Jadilah mereka berdua dibekali barang bawaan oleh Mama.
Bandara di Pagi-pagi buta seperti ini cukup ramai ternyata. Wardah sedikit mempercepat jalannya menyeimbangkan jalan bosnya. Padahal Wardah hanya perlu membawa tas ransel keperluan perintintilannya. Eza yang membawakan kopernya.
"Maas, pelan-pelan," lirih Wardah.
"Ya Allah, kasihan sekali dedek ini, ayo sayang," ujar Eza dengan mendorong koper dengan satu tangannya. Untung saja koper-koper ini mungil.
Wajah Wardah bias seketika, mendengar Eza menyebutnya dengan sebutan sayang. Meski ia tahu jika itu gurauan semata. Apalagi kini Eza menggenggam pergelangan tangan Wardah yang terhalang bajunya.
Berbeda dengan Eza yang tersenyum penuh kemenangan, Wardah hanya diam membisu kali ini. Eza sengaja menggandeng Wardah, karena jam penerbangan mereka memang sebentar lagi. Untung saja tadi Eza sudah check-in online.
"Selamat menikmati perjalanan anda kali ini tuan," sapa pramugari pada Eza dan Wardah.
__ADS_1
Senyuman manis dari Eza dan Wardah menjadi balasan sapaan itu. Ternyata Eza memesan kelas bisnis untuk perjalanan kali ini. Wardah sempat tertegun melihat interior pesawat yang tak seperti biasanya. Bahkan ia rasa hanya dirinya dan Eza saja yang menggunakan pesawat ini. Tunggu!
Pesawat ini juga tak sebesar pesawat pada umumnya. Atau Jangan-jangan, ini... Ini...
"Mas! Ini pesawat siapa?" tanya Wardah spontan.
"Pesawat kita, kan kita yang pakai," jawab Eza.
Dengan santainya ia duduk di sebuah sofa khusus dua orang, tak lupa mengenakan sabuk pengamannya. Sedangkan Wardah masih berdiri mematung sembari mengamati setiap sudut pesawat mungil ini. Amazing! Ini bukan pesawat umum sepertinya.
"Duduk dedek, kita sudah mau berangkat ini," ujar Eza.
Wardah duduk di samping Eza dengan memperhatikan dua pramugari yang ntah sedang apa itu.
"Jangan panggil dedek, risih Mas kalau orang sering manggil nama tiba-tiba manggil dedek," Gerutu Wardah.
"Hahaha, makanya biasain," jawab Eza.
"Mas! Ini punya Mas Eza?" tanya Wardah.
"Ciee, ganti nama panggilan," ledek Eza. Satu pukulan mendarat pada lengan Eza dengan mulusnya.
"Hahaha, iya-iya... Mas jawab. Ini punya Eyang. Diberikan untuk Papa dan keluarganya," ujar Eza dengan tawanya tadi. Ia rasa, dirinya semakin senang menggoda Wardah.
Wardah berdecak kagum mendengarnya. Wardah jadi ingin bertemu Eyang, mau izin daftar jadi cucu menantunya. Hahaha. Canda cucu menantu.
Setengah jam berlalu sukses membuat Wardah mengantuk. Apalagi mereka selesai menyantap makanan yang dibawakan Bunda tadi.
Terlihat dua pramugari itu terkikik melihat Wardah yang terkantuk. Eza dengan hati-hati menyenderkan kepala Wardah di bahunya. Sontak para pramugari itu beralih. Mungkin jealous melihat Eza yang perhatian dengan Wardah. Hahahaha.
Hingga satu jam setengah akhirnya sampailah mereka di kota Jombang. Ternyata mereka sudah dijemput oleh supir khusus dari tempatnya mengisi seminar. Wardah syok mendadak melihat stiker nama Universitas di badan mobil itu.
..."UNIVERSITAS ISLAM HARAPAN BANGSA"...
Daebak! Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati. Ia langsung memfoto mobil itu dan mengirimkan kepada sahabatnya.
...Bersambung.......
__ADS_1
... Lanjut di novelnya Anisa ya lanjutan Edisi Jombangnya.... ...