
Sembari menyuapi Sakha, Wardah yang awalnya sedikit canggung karena banyaknya rekan Eza, kini mulai asik berbaur menanggapi perbincangan mereka
"Tak kirain Sampean ki kualeem (pendiam) lho Mbak. Lha kok ternyata asik juga kalau sudah ikut nimbrung," celetuk Kang Nasrul salah satu teman Eza.
"Kan first impression harus sempurna dulu, jam dulu, baru nanti kalau udah kenal ketemu bobroknya," jawab Eza dan sukses mendapatkan hadiah timpukan dari Wardah.
"Jadi kulo bobrok?" tanya Wardah menghakimi suaminya.
"Hehe, nggak Ay.... Nggak gitu maksudnya, itu untuk orang-orang di luar sana.... Kalau kamu mah luar biasa sempurna untuk aku," jawab Eza yang menyadari kesalahannya.
"Kapok Za! Ati ati ntar ke pending lagi adiknya Sakha," ejek temannya.
Tentu saja Wardah memaklumi candaan suaminya. Ning Vida sepertinya penggemar berat No 1 Sakha. Kali ini saja ia sudah kembali mendekati Wardah untuk mengganggu Sakha.
"Ning! Eh maap, Wardah," panggil Ning Vida dengan lirih.
"Iyaa Ning, ada apa?" tanya Wardah heran. Ada apa gerangan Ning Vida bisik-bisik.
"Njenengan kenal sama Mbak-Mbak itu? Dari tadi kok perasaan ngelihatin njenengan terus," ujar Ning Vida mengisyaratkan matanya pada seorang perempuan yang duduk tak jauh dari gerombolannya. Tentu saja masih bagian dari alumni.
Wardah langsung menoleh karena penasaran. Ning Vida yang melihat reaksi Wardah spontan menepuk pelan lengan Wardah. Kalau spontan melihat tentu saja nampak jika mereka tengah membicarakan orang itu. Pasti akan mengelak nanti. Wardah tertawa pelan menimpali. Akhirnya ia pelan-pelan menoleh melihat siapa yang mengamatinya.
Seorang perempuan, sepertinya memang benar tengah mengamati Wardah. Saat tak sengaja bertatapan Wardah langsung tersenyum ramah dan menundukkan kepalanya sejenak seolah menyapa orang itu. Tapi yang disapa tampak acuh tak acuh ternyata.
"Yaahh, dicuekin," ledek Ning Vida.
Wardah pun tak tahu siapa wanita itu. Tapi ia duduk bersama dengan para santri dari pesantrennya. Rasanya tadi Wardah sudah menyapa bagian pendopo itu, tapi ia rasa tak bertemu dengan Mbak-mbak itu. Ntahlah! Wardah tak mau ambil pusing.
Lebih baik ia segera menyantap makanan yang baru saja di pesan Eza dan teman-temannya. Oh iya! Sakha sudah bermain dengan Mbak-mbak santri yang duduk tak jauh darinya. BTW makanan Sakha juga sudah habis.
"Sepiring berdua aja Ay... Biar romantis dilihatin orang," bisik Eza.
__ADS_1
"Mau romantis kalau di luar aja ni?" serka Wardah.
"Kamu PMS ya Ay? dari tadi perasaan perkataan aku salah mulu," Bukan begitu maksud Eza. Setiap saat mereka pasti romantis, tapi maksud Eza itu saat ini ayoo makin romantis lagi gitu. Serba salah perasaan.
Meski protes, Wardah tetap menuruti suaminya. Karena juga memang piring untuk makan ternyata tinggal satu. Tak mau repot-repot meminta pada waiters jadilah sepiring berdua.
Berkumpul dan berbincang dengan yang berilmu memang memberikan kesan berbeda. Pembahasan yang dibahas pun tidak melulu hanya candaan, tapi juga sharing-sharing ilmu yang tentunya sangat berbobot. Sehingga imbang antara candaan, flashback pengalaman lama, dan menambah ilmu baru. Bukan hanya itu, reuni akbar yang berkolaborasi dengan beberapa pesantren tentunya membuat mereka semakin banyak teman atau relasi baru di seluruh penjuru dan dari latar belakang yang beragam.
Wardah menghampiri Kak Aisyah yang tengah berkumpul bersama teman-temannya. Tentunya dengan Sakha yang memaksa ingin jalan sendiri. Baru saja Bunda menghubungi Wardah, dan ingin berbincang dengan Kak Aisyah.
"Bunda mau ngobrol sama Kakak, ini kak," ujar Wardah memberikan hp-nya pada Kak Aisyah.
Kak Aisyah menerima hp adiknya dan memilih sedikit menjauh agar tak terlalu bising dan mengganggu percakapan teman-teman yang lain.
"Ya Allah Sakhaaa.... Kamu kok cute banget sih! Nggak ada habisnya deh gemess-nyaaa," celetuk teman Kak Aisyah yang kebetulan Wardah memang belum beranjak kembali ke tempat Eza.
"Alhamdulillah Aunty.... Bisa jadi mainan Buna-nya kalau ditinggal berdua," jawab Wardah menirukan suara anak kecil.
"Aku udah tahu siapa perempuan yang lihatin kau terus dari tadi," bisiknya.
Ia sampai menghampiri Wardah saking excited-nya mengenai topik yang ia buat. Wardah yang tak enak dilihati oleh teman-teman Kak Aisyah sontak menarik lengan Tina mengajaknya sedikit menjauh dari kerumunan. Barulah ia konfirmasi kembali kabar yang akan disampaikan temannya itu.
"Kamu tahu Cak Ibil-kan? Iya, mantan suami kamu," ujar Tina seolah tahu dengan pertanyaan yang akan dilontarkan.
"Nah! Perempuan itu istrinya yang sekarang," sambungnya.
Wardah tak habis pikir, bisa-bisanya temannya itu akan memberitahu hal itu. Tapi tak dapat dipungkiri jika dirinya sebenarnya juga ingin tahu siapa orang yang memperhatikannya dan apa maksudnya.
""Mungkin beliau tersepona melihatku," canda Wardah kemudian meninggalkan Tina yang masih kepo dengan perempuan tadi.
Wardah menghampiri kakaknya kembali untuk mengambil gawainya. Sekaligus kepo dengan perbincangan kakak dan Bundanya. Barulah ia kembali duduk di samping Eza. Tapi Sakha malah tak mau duduk diam. Ia menarik tangan Wardah mengajaknya jalan-jalan di sekitar tempat makan.
__ADS_1
Ning Vida yang sudah tampak bosan mendengarkan perbincangan memilih untuk ikut dengannya. Sakha mengajaknya untuk melihat ikan yang memang sengaja dibudidayakan di sebuah kolam yang tersebar di sekitar pendopo.
Wardah berbincang asik dengan Ning Vida sembari mengawasi Sakha. Awalnya Wardah memang masih canggung bercakap dengan Ning cantik di sampingnya ini. Tapi semakin ke sini, ia justru ikut asik terbawa arus keakraban ini. Bahkan Ning Vida tak segan-segan curhat dan meminta pendapat dari Wardah mengenai masalah pribadi. Bagi seorang wanita yang masih jomblo tentu saja perbincangan yang diciptakannya Ning Vida mengenai proses pencarian tambatan hati.
"Asal njenengan tahu ya Ning, saya itu sudah pernah gagal dalam pernikahan, jadi kalau masalah hati seperti ini saya merasa kurang percaya diri untuk memberikan komentar," ujar Wardah seadanya.
"Memang tidak ada pernikahan yang selamanya mulus Ning Wardah... Tapi justru dengan njenengan punya bekal pengalaman itu, bisa menjadi bekal kedepannya untuk njenengan sendiri, atau bahkan untuk orang lain. Seperti kulo misalnya.... Kulo tidak pernah berfikir jika pernikahan gagal itu hina, justru dengan adanya hal semacam itu saya bisa belajar dari njenengan yang notabenenya sudah berpengalaman Ning," jawab Ning Vida menjelaskan. Tak ingin jika idolanya itu merasa kecil hati.
"Toh kegagalan pernikahan njenengan pasti dan saya yakin jika itu bukan bersumber dari kesalahan njenengan. Justru njenengan yang menjadi korban di sini. Saya memang tidak tahu persis permasalahan yang njenengan hadapi. Tapi semenjak saya tahu dan kenal njenengan, saya jadi yakin jika njenengan itu orang yang baik Ning..." sambung Ning Vida.
"Saya jadi malu," jawab Wardah. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Assalamu'alaikum," sapa seseorang menghampiri Wardah dan Ning Vida.
Jreng! Jreng! Jreng!
Betapa terkejutnya Wardah jika yang datang tak lain dan tak bukan adalah Cak Ibil. Wardah jadi kagok sendiri tak siap dengan situasi ini. Bukan karena masih menaruh hati, tapi ia merasa tak siap saja jika bertemu dengan sosok yang membuatnya terpuruk beberapa tahun yang lalu.
"Maaf mengganggu waktunya, Ning Vida dipanggil Umi di dalam aula," ujar Cak Ibil.
Ning Vida pamitan pada Wardah sebelum beranjak. Tak mungkin jika Wardah juga tetap di sini, ia juga ikut beranjak pergi.
"Shaka sayang, kita ikut Ayah lagi ya," ujar Wardah yang langsung hendak menggendong Sakha.
Belum sempat terangkat, tiba-tiba Eza sudah ada di sampingnya mengambil alih Shaka ke gendongannya.
"Jangan terlalu sering gendong Sakha, dia udah mulai berisi. Ntar capek gimana?" ujar Eza mengelus lembut pundak Wardah.
Yang diajak bicara pun hanya diam mengangguk patuh menanggapi suaminya. Bukannya langsung pergi, Eza justru menyapa Cak Ibil dan mengajaknya berbincang. Wardah benar-benar merasakan ke-awkward-an di sini.
...Bersambung ...
__ADS_1