Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
95


__ADS_3

...اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ و على آ لِ إ بْر ا هِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَا ر كْتَ عَلَى إبْرَ ا هِيمَ وَعَلَى آل إبرا هيم في ا لعا لَمِينَ إ نَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ....


...Saya Lhu-Lhu mengucapkan Selamat Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW....


...Semoga peringatan hari kelahiran Rasulullah menjadi alarm bagi Umat Islam untuk terus mengikuti jejak langkah beliau untuk menjadi rahmatan lil'alamin....


...💚💚💚...


Jika biasanya Eza dan Wardah diajak makan di ndalem, kini mereka lebih memilih untuk makan malam di kantin pesantren. Dengan Ning Shila juga tentunya. Pilihan mereka jatuh pada bakso Malang. Eza sudah memesan makanan, kini saatnya mereka menunggu.


"Weiiih, nggak ajak-ajak nih makan bareng?" tanya teman Eza yang tadi rapat.


"Monggo silahkan, ini juga lagi nungguin pesanan kok," jawab Eza.


Sontak mereka segera bergabung. Tampak Wardah yang awalnya canggung mencoba untuk mengakrabkan diri. Sungguh tak enak jika hanya berperan sebagai penonton.


......................


"Ning, boleh minjam Al-Quran?" tanya Wardah saat mereka sudah berada di kamar.


Mereka baru saja menyelesaikan tugas mengajar untuk Mbak-Mbak santri. Saatnya istirahat. Setelah sholat isya' tadi Ning Shila mengajak Wardah untuk kembali mengisi kelas. Okelah! Wardah mengikutinya. Hingga kini sudah pukul 11 malam, mereka baru memasuki kamar Ning Shila.


Wardah baru ingat jika ia belum lalaran /murajaah malam ini.


"Boleh dong Mbak, di rak buku itu ambil saja," jawab Ning Shila.


Wardah segera memperbarui wudunya kemudian mengambil Al-Quran milik Ning Shila. Wardah memilih duduk di teras depan kamar Ning Shila karena beliau memang sedang sibuk mengoreksi hasil kerja santri. Takut jika mengganggu, makanya Wardah memilih untuk ke teras saja. Hari juga sudah malam nan sepi, jadi tak perlu khawatir dilihat oleh orang-orang.


Alunan suara merdu Wardah membaca Al-Quran mengusik pendengaran Kang Thoif yang sedang mengecek sekitar asrama santri putri. Seolah menariknya untuk segera mengungkap siapa gerangan pemilik suara merdu itu. Kakinya melangkah menyusuri tanah mengarah pada asal suara itu.


Perempuan itu, perempuan yang tadi ikut Ning Shila rapat. Yang katanya merupakan calon dari Eza temannya dulu.


"Assalamu'alaikum!" tiba-tiba Eza datang menepuk pundaknya.


"Waalaikumussalam," jawab Kang Thoif.


"Bagus ya suara calon istriku," celetuk Eza. Spontanitas Kang Thoif menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Setiap pagi sama malam pasti terdengar suara seperti itu. Karena memang apartemen kami bersebelahan. Waktu aku cek ternyata dia sedang duduk manis di balkon kamar murajaah/ lalaran sembari menikmati pemandangan sekitar. Suaranya sangat menenangkan," celetuk Eza.


"Masyaallah," gumam Kang Thoif.


"Sudah If! Ayo balik, nggak rela gua, kalau calon bini lu kagumin gitu," balas Eza kemudian menarik Kang Thoif kembali ke asalnya.


💛💛


Pagi ini Wardah telah bersiap-siap untuk hijrah ke pesantren Abah Munif. Ia kembali harus meminjam pakaian Ning Shila karena memang tak membawa pakaian bawaan.


"Ndak papa, anggap saja sebagai kenang-kenangan dari saya," ujar beliau memberikan setelan sarung dengan baju kurungnya kepada Wardah.


Eza sudah menunggu di depan ndalem sembari menyiapkan mobilnya. Begitupun dengan Kang Thoif, beliau juga tengah menyiapkan mobil pesantren untuk Abah Kyai Fadhoil kenakan nanti.


Tepat setelah sholat dhuha berjamaah, mereka langsung berangkat ke Jombang. Wardah dengan Eza dan Ning Shila satu mobil. Sedangkan Abah beserta istri dengan mobil pesantren. Eza sudah seperti supir saja kali ini. Pasalnya Ning Shila dan Wardah duduk di jok belakang. Eza sendirian di depan.

__ADS_1


Wardah tampak tengah belajar bagaimana caranya mengendors barang dari orang-orang. Wajarlah, Ning Shila sudah biasa melakukan hal itu.


"Beneran boleh Mas?" tanya Wardah memastikan.


"Iya Ay... Mas juga sering kok dimintain tolong gitu, untuk masalah finansial nanti Mas jelaskan di rumah saja, tapi kalau mau sama seperti Ning Shila ya ndak papa," jelas Eza.


"Mbak, Foto yuk!" ajak Ning Shila.


Dengan senang hati Wardah menganggukkan kepalanya. Wardah sudah diberi wejangan oleh Ning Shila. Ya! Wardah diminta untuk royal pada penggemarnya. Ning Shila juga memintanya untuk selalu mau jika ada yang meminta fotonya. Itu kuncinya supaya tidak dicap sombong! Walau sebenarnya seorang Wardah memang hanya hoby foto tapi tak mengunggah di media sosialnya. Hahaha.


"Ingat! Menyenangkan hati seseorang itu termasuk pahala lho. Walaupun kita tidak merasa terkenal, tapi pandangan orang-orang itu berbeda mbak... Mereka seolah memiliki kesenangan sendiri bisa berfoto dengan publik figur seperti Sampean ataupun Mas Eza," jelas Ning Shila.


Kenapa seolah yang menjadi senior Wardah adalah Ning Shila? Hahaha.


"Matursuwun Suhu," jawab Wardah seolah membungkukkan badan tanda hormat. Tawa beliau langsung menggelegar mendengar kata Suhu.


💛💛


Oke! Satu jam setengah akhirnya sampailah mereka memasuki gerbang pesantren Abah Munif. Wardah tampak gugup setengah mati. Setelah tragedi ia bercerai dengan Cak Ibil, ia baru kali ini menginjakkan kaki kembali di pesantren ini.


Wardah berdiri di samping Eza dengan gemetar. Ia sungguh tak berani bertemu Abah dan Umi. Bagaimana juga jika nanti ada Cak Ibil? Ia sudah move on, tapi masih ada secercah rasa takut di hatinya.


"Bismillah ndak papa, ada Mamas di sini," ujar Eza menenangkan Wardah.


Eza mengajak Wardah untuk ikut di rombongan Abah Fadhoil. Ia juga meminta Ning Shila untuk mendampingi Wardah. Ning Shila merangkul Wardah memberikan ketenangan. Ning Shila memang tak tahu apa-apa, tapi beliau sungguh bijak memberikan ketenangan untuk Wardah. Mungkin pikir beliau, Wardah itu hanya gugup bertemu Abah Munif dan meminta doa restu beliau.


"Wa'alaikumussalam," jawab Abah Munif dan Umi menyambut tamu beliau.


"Wardah?" lirih Umi saat Wardah menyalami Uminya.


Wardah tersenyum haru. Tak dapat di pungkiri, ia sungguh rindu dengan tempat ini. Apalagi dengan Umi dan Abah. Umi langsung memeluk sayang pada Wardah. Sedangkan Ning Shila masih setia menunggu mereka. Sedangkan yang lain sudah masuk di ruangan.


"Kenapa baru berkunjung? Eh tiba-tiba malah kunjungan minta doa restu," goda Umi.


Pipi Wardah bersemu seketika.


"Nggak jadi menantu Umi dong," sambung Umi.


What! Jangan bilang Umi berniat merujukkan Cak Ibil kembali. Cak Ibil kan terkenal dengan anak angkat Umi.


"Bukan Ibil. Tapi Hasan," sambung Umi. Seolah Umi tahu jalan pikir Wardah.


Gus Hasan? Astaghfirullah, ia dulu sering kali ngalem dan lebih banyak cek cok dengan beliau. Bagaimana mungkin malah berujung pada pernikahan?


"Umii," lirih Wardah.


Sontak Umi kembali memeluk Wardah, menciumi seluruh wajahnya. Ning Shila terenyuh seketika. Sedekat itukah mereka? Terbesit rasa iri di hatinya.


"Sudah, ayo kita ke dalam... Ini putrinya Abah Fadhoil?" akhirnya fokus Umi kembali pada sekitar.


"Inggih Umi," jawab Ning Shila.


"Monggo-monggo nduk, ayo masuk... Wardah, bantu Umi menyiapkan hidangan di dapur yaa?" ujar Umi.

__ADS_1


"Siap Mi," jawab Wardah.


Umi mengantarkan Ning Shila duduk di ruang tamu bersama para rombongan yang lain. Sedangkan Wardah pamit izin untuk ke belakang.


"Neng, ambilkan air zam-zam yang ada di lemari Abah dulu ya," ujar Abah Munif pada Wardah sebelum ia beranjak.


"Inggih Abah," jawab Wardah.


Barulah ia ke belakang. Wardah benar-benar kembali pada rutinitas hariannya dulu. Ia senang perlakuan Abah dan Umi tak berubah. Sejujurnya ia rindu suasana seperti ini, melayani keluarga ndalem dengan sepenuh hati.


"Wardah?" panggil seseorang dari arah belakang Wardah.


"Cak Ibil," lirihnya.


Dengan segera Wardah menuangkan air dalam teko yang sudah ia ambil dari rak tadi. Gelas-gelas kecil juga sudah ia tata rapi di atas nampan.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Cak Ibil.


"Maaf, saya harus ke depan," jawab Wardah kemudian berlalu meninggalkan Cak Ibil berdiri mematung di tempatnya.


Dengan hati-hati Wardah menuangkan air zam-zam di gelas mungil untuk para tamu.


"Ini anak saya kalau sudah di sini Fadh," ujar Abah Munif pada sahabatnya.


"Iya-iya, percaya saya. Itu yang membuat saya setuju jika Nduk Cantik ini menikah dengan Anakku ini," jawab Abah Fadhoil.


Abah Munif mengelus lembut kepala Wardah. Ternyata Abah Fadhoil yang memintakan izin Eza terhadap Wardah kepada Abah Munif.


"Siapkan minuman dan makanan di belakang yuk Nduk," ajak Umi.


"Inggih Umi," jawab Wardah. Kemudian mengikuti Umi ke belakang.


Langkah Umi terhenti dengan adanya Cak Ibil di samping pintu masuk dapur. Umi mendekatinya dengan Wardah yang terus menunduk di belakang Umi. Terdengar hembusan napas berat Umi tanda apalah itu, Lhu-Lhu pun tak tahu


) "Sudah Bil, lepaskan, kasihan Wardah, biarkan dia memilih jalan hidupnya. Biarkan Wardah bahagia dengan santri Abah Munif," ujar Umi.


"Biarkan Ibil mendengar langsung dari Wardah Mi," ujar Cak Ibil masih kekehnya.


"Wardah, kamu bilang sejelas-jelasnya dengan kunyuk satu ini." ujar Umi.


Wardah menggenggam erat jemari Umi. Ia benar-benar takut melihat mantan suaminya ini.


"Bismillah, Cak Ibil, mohon maaf sebelumnya... Wardah mohon, jangan ganggu Wardah lagi. Wardah sudah memutuskan untuk memilih Mas Eza sebagai imam Wardah nantinya," lirih Wardah.


"Wardah, tolong bantu saya keluar dari rasa bersalah ini," ujar Cak Ibil.


"Saya sudah memaafkan Cacak, tapi kalau Cak Ibil meminta saya untuk kembali di lubang yang sama, maaf saya tidak bisa," jawab Wardah.


"Sudah sana, Umi sama Wardah mau nyiapin makan siang untuk tamu," lerai Umi. Kemudian meninggalkan Cak Ibil.


...💛Bersambung💛...


Maafkan Lhu-Lhu yang baru update lagi gaess, lagi banyak acara Maulidan 😬

__ADS_1


__ADS_2