Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Survey


__ADS_3

"Sejak kapan Mas Eza di situ?" tanya Wardah.


"Barusan, waktu Mbak Winda tanya gimana kalau media tahu," ujar Eza.


Napas lega Wardah hembuskan. Begitupun juga dengan Mbak Winda.


"Besok Mbak ikut ke Jombang... Ayo istirahat, sudah malam," ujar Mbak Winda kemudian berlalu menepuk pundak Wardah.


"Maas," lirih Wardah.


"Ngobrol apa sama Mbak Winda tadi? Sepertinya udah ngerestuin kita deh Ay," ujar Eza.


"Cuma ngobrol biasa Mas," jawab Wardah yang tak kalah senangnya.


Wardah melihat jamnya sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Sudah lewat waktu tidur Inayah. Wardah segera kembali ke dalam diikuti Eza. Ternyata anak itu sudah mengantuk berat. Tampak ia berulang kali mengucek matanya.


"Nggak mau Mama ajak ke kamar, nungguin Aunty katanya," ujar Mama setelah Wardah kembali.


"Kita bobok yuk!" ajak Wardah berjongkok di hadapan Inayah yang membaringkan kepalanya di pangkuan Mama.


"Naya nggak mau pulang," rengeknya.


"Iya, kita nggak pulang sekarang sayang... Kita bobok di rumah Adek Dinda," jawab Wardah. Mama terkikik melihat interaksi antara ponakan dengan bibik itu.


Inayah duduk dari tidurnya dan merenggangkan tangannya minta digendong.


"Digendong Om Eza ya," pinta Eza.


Inayah mengangguk menanggapi. Anak ngantuk kalau tidak pasrah ya rewel. Hahaha.


"Di kamar Alif aja Za," ujar Mama.


"Biar Eza yang tidur di kamar Alif," jawab Eza.


"Karepmu Lee," ujar Mama.

__ADS_1


Wardah mengikuti Eza yang berjalan ke kamarnya. Hendak menaiki tangga, tiba-tiba Dinda berlari menghampiri Wardah. Sontak Wardah menyambut dengan pelukan.


"Dinda mau bobok cama Aunty," ujarnya.


"Nggak mau tidur dari tadi," sambung Mbak Winda.


Setelah melakukan tawar menawar dengan sang Mama, akhirnya Dinda pamitan untuk ke kamar Eza. Wardah menggendong Dinda mengikuti Eza. Ia pikir akan langsung istirahat, ternyata Dinda dan Inayah rebutan posisi di samping Wardah terlebih dahulu. Hingga berakhir Wardah yang ada di tengah mereka. Dipeluk posesif oleh mereka.


Wardah sampai tak bisa menutup tangannya. Pasalnya, mereka berada di ketiaknya. Mati-matian Wardah menahan geli dengan gerakan yang mereka timbulkan. Rambut mereka seolah menggelitiki ketiaknya.


"Keteknya Aunty nggak bau ya dek?" tanya Wardah pada Dinda yang belum terlelap. Karena Inayah memang sudah tidur dengan cepatnya.


"Ndak! Dinda ceneng," jawab Dinda semakin mengeratkan pelukannya.


Wardah mengelus lembut rambut kedua anak itu agar semakin pulas dan cepat tertidur. Tak dapat dipungkiri, ia sudah mengantuk juga.


🌼🌼🌼


Tepat adzan subuh Wardah terbangun. Wardah mengusap lembut pipi gemoy Inayah untuk diajak sholat. Tiga kali empat kali belum ada pergerakan. Lima kali, ia mulai menggeliat dan membuka matanya.


Tak beberapa lama, sepertinya Dinda terganggu dengan pergerakan Wardah dan Inayah. Akhirnya ia ikut bangun dan Wardah melakukan hal sama.


Wardah menunggu anak-anak itu keluar kamar mandi. Dilihatnya seisi kamar Eza yang luar biasa mewah dan tertata rapi. Semalam ia terlalu lelah, sehingga tak mengamati kamar ini dengan seksama.Larian dua anak kecil mengusik lamunannya. Kini gantian Wardah yang mengambil wudhu.


Wardah mengantarkan Dinda mengambil mukenanya baru kemudian ke mushola. Ternyata Mama masih menunggu di depan kamarnya.


"Wiiish, cucu Oma rajin-rajin ternyata," ujar Mama mengusap kepala Inayah dan Dinda.


"Tumben, bangun krucil ini," celetuk Eza sembari mengacak rambut Dinda yang belum memakai mukena.


"Aaaa! Om Eja lece!" teriak Dinda.


"Lece-lece apaan? Rese!" goda Eza.


Eza segera kabur dengan mengajak Inayah ikut bersamanya ke mushola. Benar saja, Dinda berteriak lagi sebal dengan Eza. Papa langsung menggendong Dinda mengikuti Eza. Ntah sejak kapan Papa sudah keluar kamar. Dipukulnya kepala Eza untuk membujuk sang cucu agar tak menangis lagi.

__ADS_1


"Sukanya kok jailin Dinda terus," gereget Papa.


"Biar nggak ngantuk Pa, hahaha," jawab Eza tak kesakitan. Karena memang tak sakit. Dan hanya untuk menenangkan Dinda saja Papa berpura-pura memukul Eza.


Di mushola sudah ada beberapa art dan petugas lainnya. Mas Rio kali ini yang adzan. Sedangkan Papa memerintahkan kepada Eza untuk menjadi imam. Wardah diapit oleh dua bocil yang masih mengantuk. Mereka terkantuk-kantuk ketika wirid. Hahaha. Lucu sekali.


Tepat setelah sarapan mereka langsung melakukan perjalanan kembali ke Jombang. Caca sudah memberitahukan kepada Eza juga jika persiapan lamaran serta aqiqah si kembar sudah siap. Tinggal pengecekan saja jika ada yang perlu ditambah atau dikurang. Bunda juga sudah menyelesaikan gaun yang akan digunakan Wardah dan Eza nantinya.


"Dea, kamu ikut ke Jombang saja," ujar Wardah.


"Nggak! Ngomong aja mau pamer kalau Mas Eza mau lamar kamu!" sewotnya. Maklumlah, di dapur hanya mereka berdua. Tak heran jika Dea berkata tak sopan pada Wardah.


"Ndak, saya hanya basa-basi mengajak kamu saja, hahaha," jawab Wardah kemudian berlalu.


Dea kembali ke rumahnya sendiri, karena memang membawa mobil sendiri kemarin. Ia hendak ikut sebenarnya, tapi Papa menolaknya. Ia diminta datang saat acara saja.


Mereka hanya mengenakan satu mobil kali ini. Tentu saja dengan Eza yang menjadi bapak supirnya. Bergantian dengan Mas Rio. Mobil Papa yang menjadi sasaran kali ini. Karena mobil Eza memang tak muat jika dinaiki seluruh anggota keluarga seperti saat ini. Perjalanan kemarin ramai dengan ocehan Inayah, kali ini semakin ramai dengan adanya Dinda dan lelucon-lelucon Papa.


Tak terasa perjalanan 4 jam mereka lalui dengan tawaan serta curhatan dari bocil-bocil itu. Bahkan mereka tak tidur sama sekali selama di jalan. Tapi, menjelang sampai di rumah, barulah mereka terlelap. Inayah yang dipangkuan Papa dan Dinda yang ada di pangkuan Papanya.


Bunda dan yang lainnya sudah menyambut di depan rumah ternyata. Caca dengan girangnya ikut menyambut. Senang sekali rasanya, rumah semakin ramai. Sepertinya Bunda dan yang lainnya bersikeras membersihkan rumah dan kamar-kamar untuk para tamu.


Bocil-bocil sudah aktif kembali setelah charger selama perjalanan. Inayah dengan bangganya memperkenalkan Dinda dengan Oma, Papa dan Mamanya. Tak lupa dengan mbok pekerja dan mamang yang ada di rumahnya. Inayah mengajak Dinda mengelilingi rumahnya dan berakhir di kamarnya untuk bermain.


"Pantesan nggak mau pulang, udah punya kembaran ternyata, hahaha," celetuk Kak Yusuf. Dibalas tawaan dari yang lain.


🌼🌼🌼


Setelah makan siang, Mama, Bunda, Mbak Winda dan Caca tampak berdiskusi mengenai hasil dekorasi yang dihandle Caca. Sedangkan para bapak-bapak tampak mengobrol dengan serunya di pendopo taman belakang. Wardah? Ia sibuk menyiapkan cemilan untuk teman ngemil mereka-mereka.


Mbak Winda cepat sekali akrab dengan Bunda. Mungkin karena mereka berdua yang notabenya hamble, menjadi keakraban cepat terkendali. Caca yang sudah kenal dengan keluarga Eza dan suka melucu pun membuat mereka tak bosan membahas dekorasi.


Barulah sore ini mereka bersama-sama menuju gedung yang direkomendasikan Farhan. Tepatnya di universitasnya. Anisa juga ikut andil dalam pengecekan kali ini. Karena acara mereka memang jadi untuk digabungkan. Aqiqah si kembar, dengan acara lamaran Wardah dan Eza.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2