Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Dongeng


__ADS_3

Wardah menyantap makan malamnya sembari bercerita ria bersama Anisa, Farhan, dan Eza yang duduk di sebelahnya. Sesekali Eza mencomot lauk yang ada di piring Wardah dan memakannya. Saking asiknya, Wardah sampai tak mempermasalahkan tingkah Eza yang berkedudukan sebagai bosnya itu.


Cak Ibil yang melihat hal itu tampak teriris seketika. Mantan istrinya sudah bahagia sekarang, tapi dirinya masih dihantui rasa bersalah dan rasa cinta yang sudah tumbuh terlalu dalam.Menyelesaikan ritual makan malamnya, Bunda menghampiri anaknya itu untuk pulang.


"Dek, pulang Yu! Kasihan Nak Eza sudah capek sepertinya. Nak Eza nginep di rumah lagi aja ya! Nggak ada penolakan. Besok kalian sudah berangkat lagi," ajak Bunda menghampiri anaknya.


Wardah tersedak seketika. Ketika Bunda memaksa Eza untuk menginap. Kemarin Wardah memaksa Eza untuk tak mau menginap, tapi sepertinya sekarang ia tak bisa menolak permintaan Bunda. Tampak Eza melirik ke arah Wardah, dan Wardah segera memberikan isyarat untuk menolaknya.


"Baik Bunda," ujar Eza.


Tanpa diduga, ternyata Eza malah menuruti permintaan Bunda. Wardah pun tak tahu kenapa tiba-tiba Eza memanggil dengan sebutan Bunda. Kemarin ia rasa Eza masih memanggil Bunda dengan sebutan ibu.


"Ayo Dek, diajak nak Eza-nya," ujar Bunda lagi kemudian berlalu. Jangan lupakan senyuman Bunda yang terus berkembang mendengar jawaban Eza. Sepertinya Bunda deh yang kesemsem sama Eza. Hahaha.


"Pamit dulu Mas Farhan, Anisa, kayaknya besok aku langsung berangkat deh! Nggak bisa mampir ke sini lagi. Udah ya, aku udah nurutin buat ikut andil dalam 7 bulanan kamu Lho! Aku pamit dulu,Assalamualaikum," pamit Wardah.


Cipika-cipiki tak lupa Wardah lakukan dengan Anisa. Air mata Anisa mulai lolos. Dasar bumil satu ini. Sangat-sangat cengeng. Farhan merangkul istrinya dan mengajaknya ke kamar. Agar lebih tenang. Sabar ya Mas Farhan, 2 bulan lagi bakalan normal kok istrimu itu. Hahaha.


Sudut mata Wardah tak sengaja menangkap keberadaan Cak Ibil yang tengah melihat ke arahnya juga. Eza langsung mengarahkan kepala Wardah ke arah depan. Tak rela rasanya melihat sang pujaan hati bertatapan dengan mantan suami.


"Jangan dilihatin. Udah bekas," celetuk Eza.

__ADS_1


"Mas Eza kenal sama orang itu?" tanya Wardah.


"Pernah ketemu dulu. Udah lumayan lama laaah. Dan ternyata mantan suami kamu," jawab Eza dengan malasnya.


"Kapan ketemunya? Siapa yang ngasih info kalau dia mantan saya?" tanya Wardah lagi.


Eza gelagapan sendiri dibuatnya. Untung saja Bunda menyelamatkannya. Bunda meminta pada Eza dan Wardah untuk segera memasuki mobil.


"Mas Eza hutang penjelasan sama saya," ancam Wardah.


"Kenapa? Kamu masih peduli dengan dia? Kok kayaknya excited banget mau tahu?" tanya balik Eza.


.


.


Sampai di rumah, Bunda mengantarkan Eza di kamar tamu. Wardah diberi tugas untuk menyiapkan baju ganti untuk Eza. Tentu saja meminjam pada Kak Yusuf. Siapa lagi jika bukan Kak Yusuf? Pakaian Ayah juga sudah disedekahkan untuk orang-orang sekitar yang membutuhkan. Tersisa dua baju dan itu disimpan rapi oleh Bunda di lemarinya. Pakaian yang dipilihkan Bunda saat haji di tanah suci dan jaz yang digunakan saat ijab qobul dengan Bunda.


"Ya sudah, Nak Eza istirahat. Bunda dan Wardah juga mau ke kamar. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi Wardah ya," ujar Bunda.


"Siap Bun!" jawab Eza.

__ADS_1


.


.


Menjelang terlelap, seperti biasanya Wardah akan memeluk Bunda dengan posesifnya. Memang sudah menjadi kebiasaannya jika terlelap akan memeluk orang atau guling yang ada di sampingnya. Wardah tak akan bisa tidur jika tak ada yang bisa dipeluknya. Bahkan ketika masih di pesantren, ia rela tak mengenakan bantal demi mendapatkan guling.


Untung saja Bunda atau Anisa tak risih jika Wardah memeluknya.


"Dek, Bunda rasa Nak Eza benar-benar serius dengan dedek, apa dedek nggak mau mencoba membuka hati untuk dia?" tanya Bunda lembut sembari mengelus lembut rambut anaknya.


"Mas Eza nggak suka sama dedek Bun, mas Eza aja, nggak pernah nyatain perasaannya sama dedek," jawab Wardah.


"Kalau Eza nyatain perasaan ke dedek, dedek mau?" tanya Bunda terkikik.


"Nggak tahu Bun, masih terbesit rasa takut," jawab Wardah.


"Eza aja waktu main ke rumah tempo lalu sudah minta izin sama Bunda buat deketin anaknya Bunda. Selama tiga hari ini Bunda juga mengamati jika dia serius. Bunda yakin analisis kali ini tak melenceng. Dia aja terlihat cemburu saat Ibil lihatin dedek terus," ujar Bunda panjang lebar.


"Dek! Dedek! Kaaan kebiasaan. Orang lagi cerita dikira dongeng kali ya. Malah ditinggal molor," celetuk Bunda.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2