
Sampai di Padang azan asar berkumandang dengan merdunya. Wardah dan Eza pun sudah dijemput oleh driver mereka. Aroma khas setelah turun hujan begitu menenangkan. Seolah udara kembali segar.
"Bapak sama Ibu mau langsung saya antarkan ke resort, atau mau berhenti sholat dulu?" tanya Bapak supir.
"Kita melewati masjid Raya apa nggak Pak?" tanya Wardah.
"Iya Bu, kita melewati Masjid Raya," jawab supir itu.
"Berhenti di sana saja Pak," ujar Eza.
Sekaligus berkunjung apa salahnya? hehehe, setelah beberapa menit perjalanan, terlihatlah atap runcing dari masjid yang ingin Wardah kunjungi. Semakin dekat, semakin indah dan tampak eksterior unik khas Padang pada masjid itu. halamannya pun super luas.
"Subhanallah, cantik ya Mass," ujar Wardah saat mereka keluar dari mobil.
"Iyaa Ay, ayo sholat dulu! Setelah itu pengabadian momen sejenak, hehe," jawab Eza.
__ADS_1
Eza mengantarkan Wardah ke area perempuan terlebih dahulu. Baru setelah itu ia tinggalkan. Bahkan Eza juga mengantarkan Wardah ke tempat wudu. Padahal Wardah sendiri juga berani. Jika Wardah tak bersikeras meminta Eza pergi, mungkin ia akan mengantarkan sampai dalam kamar mandi. Bisa digebukin satu pengunjung mereka.
"Jangan kemana-mana tanpa Mas! Tunggu Mas di sini setelah selesai sholat," begitulah pesan Bapak Negara.
Setelah selesai sholat Wardah mengikuti pesan Eza. Menunggu beberapa saat hingga kemudian muncullah sosok laki-laki tampan yang tengah ia tunggu. Wajahnya berseri ke arah Wardah. mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari istrinya. Eza mengajak Wardah ke sisi masjid agar dapat melihat ukiran khas dari atap masjid yang runcing. Biasa disebut atap bergonjong.
Bukan hanya ukirannya yang terlihat jelas, tapi pemandangan sekitar yang dapat mereka lihat dari ketinggian ini juga menyihir mereka berdua. Tampak rumah-rumah di sekitar ini juga beratapkan yang sama. Eza mengambil gawainya dari dalam tas Wardah dan mulai mengabadikan momen mereka.
"Kak Wardah? Iya bukan sih?" sapa seorang wanita menyapa Wardah dengan sedikit ragu. Sepertinya seorang mahasiswa, karena ia mengenakan almamater dengan logo di dada kanannya.
"Iyaa kan? Kak Wardah News Anchor yang di siaran TV XXX?" tanya perempuan itu.
Wardah mengangguk dengan tersenyum menimpali. Tampak jelas wajah sumringah dari anak gadis itu melihat respon Wardah. Spontan ia memeluk Wardah tanpa sungkannya.
"Maaf kak... Aku salah satu penggemar berat kakak. Pasti kakak ikut suami kakak ngisi seminar di kampus kami-kan?" tanya perempuan itu.
__ADS_1
"Emm, mungkin iyaa, saya sendiri tidak tahu universitas apa yang akan dikunjungi," jawab Wardah.
Ehm! Ehm!
Eza berdeham membuyarkan obrolan dua perempuan di depannya. Bisa-bisanya dirinya dicueki. Perempuan itu baru menyadari jika di belakangnya ada sosok laki-laki tampan, yang tentu saja dirinya sudah tahu siapa dia.
"Pak Eza, boleh minta tolong fotoin kami Ndak? Kak Wardah boleh minta fotonya?" tanya perempuan itu.
Eza benar-benar tak habis pikir. Bisa-bisanya ia diminta untuk menjadi fotografer. Tapi tetap ia lakukan. 3 kali jepretan lalu Eza memberikan gawai perempuan itu.
"Jangan sampai gara-gara kamu, kami jadi diburu orang minta foto ya," ujar Eza PD. Lebih tepatnya mengancam.
"Siap Kak! Teman-teman saya ada di latar sebelah sana kok! Kak Wardah, sampai ketemu lagi besok di kampus aku!" ujar perempuan itu.
Wardah tersenyum dengan memberikan tanda OKE dari tangannya. Lucu anak itu menurutnya. Eza menggenggam erat jemari Wardah mengajaknya pergi. Padahal belum banyak foto yang mereka ambil. Eza tak mau melayani para penggemar hari ini. Ia tahu pasti jika Sang Istri pasti juga capek setelah perjalanan tadi.
__ADS_1
...Bersambung ...