
Hotel yang disediakan untuk mereka terletak di kota dekat dengan pegunungan. Mereka dapat menikmati pemandangan hehijauan dari jendela kaca dan balkon kamar. Eza sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Sini Ay, ditata nanti aja barangnya..." panggil Eza.
Wardah menurut, diletakkannya koper bawaannya di depan lemari. Kemudian melepas jilbabnya dan dirinya menghampiri Eza.
"Manja banget sih jadi suami, kan jadi sayang," celetuk Wardah duduk di sisi Eza dan mencium pipinya.
Eza menarik tangan Wardah hingga terbaring di sampingnya. mengurung Wardah dalam pelukannya.
"Jangan hilang yaa sayangnya," lirih Eza mengusap rambut Wardah dengan lembut. Tak luntur senyumnya setelah mendengar istrinya mengucapkan kata sayang.
Cup!
Satu kecupan yang cukup lama diberikan Eza di kening Wardah. Eza memejamkan matanya. Tak kuasa menahan kantuk. Selama perjalanan dirinya hanya tertidur sebentar. Selebihnya ia memandangi wajah Sang Istri yang tertidur pulas.
"Akunya nggak ngantuk sayang. Masa iya disuruh tidur lagi," protes Wardah saat Eza memejamkan matanya.
__ADS_1
"Bentar aja Ay... Mas pengen meluk kamu gini," lirih Eza tanpa membuka matanya dan malah mengeratkan pelukannya.
Mau tak mau Wardah menurut. Mengelus lembut rambut Eza agar lebih nyenyak tidurnya. Benar saja, hembusan nafasnya mulai teratur halus khas seseorang yang tertidur pulas. Wardah bisa merasakan pelukan Eza mengendor tak seerat tadi.
"Bisa yaa aku dapet suami yang baiknya MasyaAllah kayak gini," ujar Wardah dengan suara teramat lirih. mungkin ini tingkatan oktaf yang 0aling rendah.
"Terima kasih sayangnya aku yang udah sabar bimbing dan jaga aku sepenuh hati... Terima kasih sudah menyembuhkan luka yang teramat dalam dari relung hatiku yang mungkin sudah terinfeksi," sambungnya lagi yang kini masih mengelus lembut rambut Eza dan kini beralih pada pipi mulus yang kini menjadi sedikit berisi. Tentu saja tak mengurangi ketampanan laki-laki di hadapan Wardah ini.
Cuppp!
Wardah mengecup bibir Eza.
Tak dapat dipungkiri jika ada secercah rasa takut jika Eza meninggalkannya apabila dirinya tak bisa memberikan keturunan. Tapi Eza selalu berhasil menenangkan pikiran Wardah jika sesekali ia memikirkan hal itu.
Satu jam setengah Wardah menemani Eza tidur. Benar-benar menemani tanpa ikut memejamkan matanya. Sedari tadi Wardah hanya memandang wajah Eza dengan pujian-pujian di dalam hatinya.
Hingga usapan lembut pada hidung mancung Eza berhasil mengusiknya. Sayup-sayup Esa membuka matanya. Posisi mereka tak berubah sama sekali sedari tadi. Wardah yang hendak membereskan perlengkapan mereka, tak berhasil melepaskan pelukan suaminya itu.
__ADS_1
"MasyaAllah, cantiknya istri hamba ya Allah," celetuk Eza dengan suara seraknya khas bangun tidur.
"Dasar! Bangun tidur kok langsung ngegombal."jawab Wardah melepaskan pelukan Eza.
Barulah Wardah bisa terbebas dari pelukan hangat itu. Wardah mencuci wajahnya dan barulah ia menata barang-barang mereka. Tentu saja Eza membantu Wardah menata barang-barang mereka. Sekalian Wardah melihat-lihat suasana kamarnya.
Eza memeluk Wardah dari belakang yang tengah menikmati pemandangan sore dari balkon kamarnya. Suasana sore memandangi pepohonan hijau dari pegunungan di hadapannya terlihat begitu indah. Wardah menyenderkan kepalanya pada dada bidang di belakangnya. Semakin membuatnya nyaman. Jangan lupakan tangan mereka yang saling bertautan satu sama lainnya.
"Besok aku ikut Mas isi acara juga?" tanya Wardah.
"Iyaa dong! Harus ikut, nanti kalau Mas di gangguin ama anak orang gimana?" jawab Eza dengan candaannya.
"Kesenengan Mas kalau itu," balas Wardah dengan jengkel.
Eza menciumi rambut Wardah dengan gemas yang tepat berada di bawah dagunya.
"Aku belum keramas lho Mas, ntar apek bahunya," ujar Wardah mencegah Eza kembali menciumi rambutnya.
__ADS_1
Yang diajak bicara pun tak menghiraukannya. Eza masih saja menciumi atau terkadang memainkan dagunya di ubun-ubun Sang Istri.
"Rese banget deh!" celetuk Wardah.