Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
0813********


__ADS_3

Tengah malam rasa lapar menyerang lambung Wardah. Padahal sebelum pulang tadi, ia sudah makan. Wardah mengurai pelukan Bunda darinya. Beringsut turun dari tempat tidur untuk mencari makanan yang bisa dimakan.


Kenapa rumah ini begitu gelap? Hobi banget matiin lampu malam hari. Wardah harus meraba-raba gawai yang ada di nakas dan menyalakan flash-nya. Gelap gulita bagai rumah horor saja.


Klunting!


Wardah berjalan menuju arah suara. Kak Yusuf pasti lagi masak nih di dapur.


"Kak?" panggil Wardah.


"Kak Yusuf?" panggilnya lagi. Wardah mendekati meja pantri dapur. Seseorang melongok dari bawah.


"Astaghfirullah! Mas Eza ngapain?" tanya Wardah yang masih terkaget.


Eza muncul dari balik pantri sepertinya habis mengambil sendok yang jatuh tampak ia memegang sendok di tangan kanannya. Ia tampak nyengir menanggapi Wardah tanpa berniat menjawab pertanyaannya.


“Laper saya,” ujar Eza dengan muka bersemu merah. Sebenarnya ia tadi hendak menahan rasa laparnya, tapi ia malah tak bisa tidur nyenyak. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Wardah dan tak ada jawaban. Sepertinya memang sudah tidur. Akhir dari akhirnya ia keluar kamar memutuskan untuk mencari keberadaan dapur.


“Ya sudah kebetulan, saya juga laper, hehehe. Biarkan saya yang memasakkan makanan untuk kita berdua malam ini,” celetuk Wadah mengambil alih posisi Eza dan memulai aksinya.


“Mas, saya pengen tanya boleh?” tanya Wardah sembari mengiris bawang-bawangan.


“Tanya apa?” jawab Mas Eza.


“Saya mengenalkan Mas Eza pada Bunda kan hanya sekilas. Waktu Bapak mengantarkan saya pulang, tapi kok sepertinya kalian udah akrab banget ya? Tadi pagi juga tiba-tiba sudah humble banget sama Bunda dan Kak Yusuf?” Wardah benar-benar penasaran kali ini.

__ADS_1


“Rahasia itu mah!” ujar Eza tak mau memberitahu kejadian dibalik keakrabannya dengan Bunda.


*Flash Back*


Setelah mengantarkan Wadah pulang dar pemakaman, Eza dijemput supirnya untuk brmalam di penginapannya. Untung saja Eza memiliki cabang penginapan di Jombang, jadi ia tak perlu susah payah membayar uang pengeluaran bermalam di hotel.


Ia sempat melihat instastory Wardah yang membagikan sebuah foto gadis mungil dengan tawa gembiranya bersama seorang laki-laki paruh baya yang memeluknya erat. Sepertinya itu sang Ayah yang sangat dicintainya.


Pujaannya sangat merindukan sosok Ayah!


Tak berselang lama, deringan telepon mengusik malamnya. Baru saja ia hendak memejamkan mata, suara itu sudah mengusiknya kembali. +62813******** nomoor telepon tak dikenal. Ragu hendak mengangkatnya, tapi ia juga terusik jika nomor itu terus meneleponnya.


Nomor hp-nya sangat terjaga. Tak sembarang orang memiliki nomor hpnya. Mereka yang meminta atau igin memiliki nomornya harus melalui persetujuannya.


“Assalamu’alaikum?” sapa seorang perempuan di seberang sana.


“Waalaikumussalam Bu, ada yang bisa Eza bantu?” tanya balik Eza.


“Hahaha, kamu tahu kalau ini Bunda ternyata. Jangan panggil Ibu, panggil saja Bunda. Semua teman Wardah juga memanggil Bunda,” ujar Bunda.


“Maaf ya Nak Eza, Bunda mengambil nomor kamu dari hp-nya Wardah. untuk dia sudah tidur, xixixi,” sambung Bunda dengan terkikik.


“Tidak apa-pa Bunda, Eza juga senang bisa kenal dengan Bunda yang baiknya masyaallah,” jawab Eza, sesunggguhnya ia bingung hendak menjawab apa.


“Nak, kamu bosnya Wardah, tapi kenapa bisa sebaik itu? Kamu ini suka sama anak Bunda? Atau kamu in i sebenarnya pacar anak Bunda?” tanya Bunda to the point kali ini. Eza diam membisu seketikan. Kena mental boss!

__ADS_1


Eza bingung hendak menjawab apa. Ia tak menyangka jika Bunda meneponnya karena ingin menanyakan hal itu. Akankah ia menjawab saat ini juga? Haruskan Eza mengakuinya terhadap Bunda? Secepat itukah?


“Nak Eza?” panggil Bunda karena tak mendapat jawaban dari Eza.


“Eza bukan pacarnya Wardah Bunda,” jawab Eza akhirnya. Dag dig dug rasanya.


“Bunda, apa Bunda keberatan jika Eza mendekati Wardah?” tanya Eza dengan suara terlirihnya.


“Hahaha, yang mau menjalin hubungan itu kalian bukan Bunda. Kalau kamu serius dengan ucapan kamu, Bunda izinkan. Tapi jangan sekali-kali kamu permainkan perasaan Wardah Za! Bunda tidak akan memaafkan kamu!” tegas Bunda yang seketika bersuara serius. Eza begidik ngeri dibuatnya.


“Apa yang akan kamu lakukan untuk membuat Bunda percaya dengan niat baik kamu?” tanya Bunda.


“Eza tahu Bunda dan Wardah sangat terluka dengan kejadian yang dialami. Mohon maaf jika Eza sebelumnya sudah mencari informasi mengenai Wardah Bun... Eza rasa, jika memberikan bentuk bukti versi Eza, itu tak akan serta merta membuat Bunda, Wardah, bahkan Bang Yusuf percaya. Jadi saat ini Eza hanya meminta izin dari Bunda untuk meyakinkan hati Wardah atas kesungguhan Eza. Eza akan berjanji sepenuh hati untuk tidak mengecewakan Bunda. Eza rela dibunuh jika Eza ingkar janji,” ujar Eza dengan penuh keyakinan.


“Cobalah yakinkan Wardah ya Za,” jawab Bunda.


“Bunda izinkan Eza?” tanya Eza dengan berbinar.


“Iya, Bunda ingin melihat Warah tersenyum merasakan kebahagiaan yang sama seperti sahabatnya,” jawab Bunda.


“Alhamdulillah, Eza tidak akan mengecewakan Bunda dan Wardah. pegang janji Eza Bun,” ujar Eza.


Akhirnya berakhirlah sambungan teleponnya dengan Bunda. Ia sudah meyakinkan Bunda dan Bang Yusuf. Wardah, kini giliran Eza menaklukkan hatimu.


*Flash Back off*

__ADS_1


...Bersambung... ...


__ADS_2