
Setelah belanjaan yang dibutuhkan sudah selesai, Mama langsung mengajak Wardah ke café tempat pertemuannya berlangsung. Ternyata ibu-ibu sosialita sudah banyak yang berkumpul di sana. Sakha yang ada di gendongan Mama sontak menjadi pusat perhatian para ibu-ibu itu. Bukan hanya ibu-ibu, ternyata pengunjung café ini juga banyak yang mengenal Sakha dari sosial media Wardah.
Hal ini yang sangat membuat Wardah geram. Mood baik Sakha tak akan bertahan lama. Baru duduk sebentar saja beberapa orang sudah meminta foto pada Sakha dan Wardah. Benar saja, Sakha langsung memasang wajah datarnya tak mau merespon para aunty-aunty penggemarnya yang bertanya-tanya.
“Maaf ya Aunty-Aunty, Sakha-nya mau makan dulu dong, jangan berkerumun yaa, Sakhanya pengap,” ujar Wardah mencoba memberi ruang untuk Sakha.
“Kalau mau foto gentian yaa, jangan berkerumun, nanti Sakhanya ngambek nggak mau,” sambung Wardah lagi.
Tadi waktu membeli barang tak banyak yang mengenal Sakha, eh tetiba di café ini mendadak banyak yang menyapanya. Mama juga membantu Wardah untuk mengatur orang-orang ini. Wardah juga tak kepikiran menanyakan tempat pertemuan Mamanya seperti apa tadinya. Jadi ia tak sempat mengantisipasi hal ini.
__ADS_1
Selang beberapa saat akhirnya mereda juga. Wardah sampai tak enak pada teman-teman Mama mertuanya itu. Niatan hendak menemani Mama malah menghambat reuni mamanya.
“Gini ya kalau jadi artis, banyak yang minta foto, hahaha,” ujar salah satu teman Mama.
“Iya jeng, sampai kadang harus benar-benar memastikan tempat singgah agar bisa tenang,” jawab Mama.
“Bukan artis Tante, Cuma lagi sedikit naik daun aja gara-gara instag*am,” sambung Wardah merendah.
Wardah menemani Mama tak sampai selesai. Eza sudah meneleponnya beberapa kali agar segera ke kantor. Sebenarnya Wardah pun juga bersyukur suaminya memintanya segera datang. Ibu-ibu itu banyak mewawancarainya, ia menjadi tak nyaman sendiri di sini. jadilah Wardah pulang terlebih dahulu bersama Sakha. Wardah segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke rumah mengambil makanan yang akan ia bawa. Mama menyuruhnya pulang bersama supir sebenarnya, tapi Wardah menolak. Biarlah pak supir menunggu Mama sampai pulang. Sampai di rumah Wardah segera menyiapkan bekal makanan untuk Eza. Sakha ia biarkan mengikutinya mengekor kemana pun berjalan. Menuju kulkas, ke wastafel, bahkan saat memanaskan lauk. Tenang saja, Wardah bisa sekaligus menjaga Sakha. Anak itu juga untungnya tak pernah membuatnya khawatir.
__ADS_1
Sedari tadi Wardah perhatikan, rumah ini begitu sunyi. Kemana orang-orang yang lain sebenarnya? Kalau penghui tetap memang pada keluar semuanya. Bunda yang biasanya di rumah juga keluar akhir-akhir ini. Karena Bunda sudah membuka cabang butik baru di Jakarta. Bunda memegang yang ada di Jakarta, sedangkan istri Kak Faisal memegang yang ada di Jombang. Biasanya Mbak-Mbak pekerja dan yang lain banyak berbincang atau sekedar bercanda di depan teras tempat khusus para pekerja rumah. Tumben sekali sunyi sekali ini tempat. Hanya percakapan bapak petugas yang ada di gerbang depan Wardah mendengar.
“Lho Dek! Kamu sudah pulang ta?” tanya Mbak Winda yang baru saja turun dari lantai atas.
“Iya Mbak Win, tumben Mbak Winda nggak ke kantor?” jawab Wardah dengan pertanyaannya lagi. Biasanya Winda memang selalu ke kantor bersama suaminya. Karena mereka berdua memang satu kantor.
“Nggak dek, lagi pengen free aja, sekalian nanti mau my time sama Dinda,” jawab Mbak Winda.
Wardah mengangguk menimpali. Mbak Winda menemani Wardah hingga selesai menyiapkan makanan. Sakha juga sudah ada di pangkuan Mbak Winda sembari menyantap buah apel di tangannya. Setelah selesai Wardah langsung pamit untuk berangkat ke kantor. Kali ini Wardah memilih untuk menyetir mobilnya sendiri. Sakha sudah anteng di stoller khususnya. Sepanjang perjalanan, lagu anak-anaklah yang menemani mereka berdua.
__ADS_1
...Bersambung...