Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Seriuss?


__ADS_3

Sampai di villa dokter David sudah standby di depan villa. Jangan berani-berani ia telat jika tak mau kena amukan Eza. Eza berlari memasuki villa segera membawa Wardah menuju kamar mereka. Ia terus mengawasi dokter David yang sedang memeriksa Wardah. Ia seolah terintimidasi atas tatapan Eza.


"Bagaimana? Istriku kenapa Dav?" tanya Eza dengan wajah paniknya.


"Sabar, biarkan Wardah istirahat, aku sudah meminta perawat menelepon temanku untuk datang memeriksanya kembali," jawab David.


"Apa keahlianmu sudah hilang, sampai harus mencari dokter pengganti? Rupanya kau minta dipecat ya?" tegas Eza.


"Hiishh, aku akan memberitahu mu nanti! Karena ini bukan spesialisasi ku," jawab David tak terima atas hinaan Eza.


Mereka menunggu teman dokter David lumayan lama, bahkan sampai Wardah sudah sadar pun teman dokter itu belum juga sampai. Eza sudah uring-uringan kepada temannya itu. Ya, David memang salah satu teman Eza. Itulah mengapa ia bisa memarahinya dengan leluasa.


“Sayang, gimana rasanya sekarang? Apa yang sakit?” tanya Eza mengelus lembut ubun-ubun Wardah yang masih berbalut jilbab.


“Udah mendingan kok Mas, Cuma ngerasain lemes aja,” jawab Wardah lirih. Sangat-sangat lirih.


Keluarga yang lain masih menunggu di luar. Tak diizinkan masuk oleh Eza. Bahkan Bunda sekalipun. Eza ingin Wardah istirahat, setelah pulih baru ia mengizinkan yang lain untuk masuk ke kamarnya. Dasar Eza ini, menantu durhaka. Hahaha. Coba saja kalau David bukan dokternya, pasti laki-laki itu juga tak akan diperbolehkan di dalam ruangan ini dengan satu perawatnya.


Tak berselang lama, Mama masuk mengantarkan Dokter Ira. Teman David yang tadi ia telepon untuk datang.


“Saya periksa terlebih dahulu ya Pak ya,” ujar Dokter Ira meminta izin pada Eza.


“Tunggu! Harus dibuka bajunya? David! Keluar lo!” ujar Eza menunda Dokter Ira menyibakkan baju Wardah untuk memeriksa perutnya.


David memutar bola matanya jengah mendengar perintah temannya itu.


“Itu tujuan gua manggil Ira, Lo pasti bakal nonjok gua kalau nyentuh kulit Wardah dikit aja,” David ngedumel sembari berjalan keluar.


Mama geleng-geleng kepala melihat keposesifan anaknya. Sedangkan dokter Ira tempak menahan senyumnya melihat temannya disemprot. Barulah ia memulai untuk memeriksa keadaan kliennya itu. Eza menggenggam erat jemari Wardah di sampingnya. Mama juga masih setia menunggu hasil diagnosis untuk menantunya.


“Mama nggak kamu usir kayak David tadi Za?” celetuk Mama.

__ADS_1


“Kalau yang di sini Papa, pasti aku usir juga,” jawab Eza dengan ekspresi tegangnya.


Mama dan dokter Ira terkikik mendengar jawaban Eza. Bahkan Dokter Ira yang sedari tadi menahan tawa akhirnya keceplosan juga. Wardah tersenyum simpul menanggapi.


“Oke, sudah siap mendengar hasil pemeriksaan ini Pak? Bu?” tanya Dokter Ira dengan senyumnya yang mengembang.


“Iyaa, istri saya sakit apa Dok?” tanya Eza.


“Alhamdulillah istri bapak tidak sakit serius, hanya kecapaian. Sepertinya kegiatan hari ini cukup over ya?” tanya Dokter Ira.


“Iya sih Dok, tadi pagi perjalanan 2-3 jam, terus menjelang sore jalan lumayan jauh juga.” Jawab Mama.


“Ada hal lain yang perlu saya sampaikan,” ujar dokter Ira lagi. Wardah meremas jemari Eza yang masih setia menggenggamnya. Takut jika ada penyakit lain. Mama tak kalah tegangnya juga.


“Alhamdulillah, bapak dan mbak Wardah akan memiliki anak lagi. Ibu juga akan dikaruniai cucu lagi. Selamat ya,” ujar Dokter Ira.


Mata Eza terbelalak seketika mendengar ujaran Dokter Ira. Pandangannya kini tertuju pada manik Wardah yang sudah mulai berkaca-kaca.


“Mass… Alhamdulillah, akhirnya aku hamil mas,” lirih Wardah dengan sesenggukan.


“Saba ya Ra, biarkan dua sejoli itu bersuka cita terlebih dahulu. Nanti kalau pulang biar Gua yang anter Lu,” ujar David saat Ira sudah keluar. Mereka tengah duduk di ruang keluarga bersama yang lain kini.


“Itu mah modusnya Kak David aja Kak, aslinya mau sekalian PDKT. Oh iya, ditambah mau kunjungan ke rumah camer,” celetuk Faiz yang sudah kenal dengan David juga.


“Hush! Bercandanya suka bener deh Lu!” balas David disusul dengan canda tawa yang lain.


Jangan tanyakan bagaimana raut wajah Dokter Ira, ia sudah tersipu malu di tengah-tengah keluarga orang.


Setengah jam sudah berlalu, Mama mencoba untuk ke kamar anaknya lagi. Tentu saja yang lain juga ingin mengunjungi Wardah.


“Mama sama yang lain udah boleh ketemu Wardah belum Nih?” sindir Mama yang masih setia di ambang pintu.

__ADS_1


“Boleh dong Ma, Mas Eza nih dari tadi suruh buka pintu malah nggak mau,” jawab Wardah.


“Duduk kamu! Bunda sama Sakha ma uke sini tuh!” tegur Mama yang melihat Eza masih setia berbaring di samping Wardah sembari memeluknya.


Dengan malas-malas Eza akhirnya duduk. Wardah juga sudah mengganti bajunya ternyata. Eza membantu Wardah untuk duduk menyender pada nakas.


“BUNNAAA! Chaka mau puna adek ya!!!” teriak Sakha yang berlari menghampiri Buna-nya dengan tak sabaran.


“Iyaa sayang, Sakha happy nggak mau punya adek?” tanya Wardah. Eza mengangkat Sakha untuk duduk di pangkuannya.


“Happy dong! Nanti Cakha jaga adek kalo cekula!” jawab Sakha dengan senangnya.


“Tanan Buna napa dicuntik?” tanya Sakha saat melihat tangan Wardah yang diinfus.


“Buna dikasih vitamin sama Bu Dokter, biar kuat!” jawab Eza.


“Wah! Nanti Cakha juga mau jadi kuat! Bial bica dendong adek!” ujar Sakha


Yang lain tampak tersenyum dan tertawa melihat interaksi ibu dan anak itu. Mereka bertiga tampak seperti keluarga yang sempurna, meski tak dapat dipungkiri jika Sakha anak angkat di keluarga ini. Dan penghalang itu kini sudah hancur sebab mereka dapat memperlakukan Sakha sama seperti keluarga kandung.


”Ini beberapa vitamin penguat kandungannya ya Mbak Wardah, bisa mulai diminum setelah makan malam. Mbak Wardah boleh banget kok jalan-jalan, tapi ingat porsinya ya… Jangan over kayak hari ini. Hehehe. Makannya yang semangat, biar tambah kuat. Apa akhir-akhir ini makannya lancer Mbak?” tanya Dokter Ira dengan menjelaskan anjuran-anjuran.


“Alhamdulillah lancer Dok, nggak ada mual-mual sama sekali. Makanya tadi sempet kaget waktu tahu kalau hamil. Cuma sadar kalau perutnya tambah buncit aja,” jawab Eza.


Plak! Satu pukulan mendarat pada paha Eza. Tentu saja Wardah malu saat mendengar kata buncit. Ia jadi teringat saat dirinya berniat untuk diet agar perutnya tak buncit.


“Oh iya, usia kandungan Mbak Wardah sudah menginjak minggu ke-10. Kalau sudah pulang bisa diperiksakan ke rumah sakit, insyaAllah sudah terlihat nanti saat di-usg. Sama, minum susu ibu hamilnya juga jangan diskip ya… Tapi Mbak Wardah ini hebat lho, sudah 10 minggu tapi nggak ada keluhan sama sekali, hehehe,”


“Dedek bayinya nggak mau Buna-nya susah kali ya Dok,” jawab Papa disambung dengan candaan yang lain.


Mereka berbincang hingga malam menyapa. David benar-benar mengantar Ira, sebab sudah malam. Tak mungkin ia biarkan Ira pulang sendiri malam-malam. Tidak hanya berdua, sebab David membawa pengikut kesini. Gagal sudah PDKT-nya kali ini.

__ADS_1


Eza dan Wardah makan berdua di kamar, karena infus Wardah yang belum dilepas. Mungkin tengah malam nanti Eza bisa melepaskan infusnya.


...Bersambung...


__ADS_2