
Pagi hari ini berjalan seperti biasanya. Seolah semua benar-benar sudah baik-baik saja setelah kemarin proses perceraian Kak Winda dan Kak Rio. Kak Winda sendiri sudah bersiap untuk berangkat ke kantor sekaligus mengantarkan anak-anak sekolah.
Kali ini ia harus ke kantor cabang untuk mengatur ulang anggota kepengurusan kantor cabang. Sebab hari ini adalah hari Rio untuk angkat kaki dari kantor itu. Sekaligus Winda akan mengumumkan statusnya yang sekarang bukan istri Rio lagi. Agar mereka para pegawai kantor cabang tak menggunjing membicarakan alasan Bos mereka pergi.
Sampai di kantor cabang, suasana masih kondusif seperti biasa. Para karyawan menyapa Kak Winda seperti biasa pula. Tak berselang lama datanglah Rio. Sehingga tak terelakkan mereka berdua harus naik ke lantai atas secara beriringan. Tak ada bisikan-bisikan tetangga di sini karena mereka belum tahu.
“Kamu ngapain ke sini Win? Mau ambil barang-barang kamu? Nanti juga aku suruh orang buat antar ke kantor pusat,” celetuk Rio di sela-sela menaiki tangga.
__ADS_1
“Nggak, justru aku mau pastikan barang-barang kamu sudah nggak ada di kantor ini. Nanti siang akan ada rapat pembentukan susunan direksi baru untuk pemegang kantor cabang ini,” jawab Winda dengan santai-nya.
“Ha? Maksud kamu? Iyaa, aku tau kalau akan ada susunan direksi baru. Tapi sudah aku jadwalkan besok. Kamu juga sudah aku kabarin-kan kalau kamu Cuma perlu beresin barang-barang kamu,” sambung Rio.
Kecuali seorang wanita centil yang tiba-tiba nyerobot mengikuti dua mantan pasutri itu. Winda memang datang sendiri tadi. Wardah dan Eza akan menyusul setelah dari kantor penyiaran.
“Mas, kok nggak nungguin aku sih? Aku-kan mau nemenin Mas buat beresin barang-barang Mbak Winda,” celetuk Ayu.
__ADS_1
Hal itu membuat Papa dan Eza harus kembali mengurus data kepemilikan kantor ini. Tak dapat dipungkiri, ternyata pembalikan nama kembali itu membutuhkan proses yang cukup sulit. Berkat kerja keras Eza yang terus meminta kepada kuasa hukum keluarganya untuk segera menyelesaikan, akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. Dan hal ini belum diketahui oleh Rio sama sekali.
Winda tersenyum kecut melihat perilaku dua manusia yang tak tau diri itu. Ia terus berjalan tak menghiraukan ocehan mereka. Winda yang jarang ke kantor ini membuatnya tak punya ruangan sendiri. Mau tak mau ia memilih untuk ke ruang penyimpanan berkas. Ia harus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kantor cabang selama dipegang oleh Rio. Sembari menunggu Eza yang membawa Surat Keputusan kepemilikan perusahaan cabang ini.
Sebenarnya bisa saja ia menggunakan ruangan Rio, tapi ia harus menunggu Eza terlebih dahulu. Ia juga tak mau jika berhadapan dengan pasangan tak tahu diri itu. Anggap saja dirinya menyendiri saat ini. Bukannya fokus pada berkas yang ada di tangannya, Winda justru malah melamun bertarung dengan isi kepalanya. Ia kembali berkecamuk memikirkan bagaimana bisa dirinya memilih lelaki yang salah. Bahkan ia bisa bertahan hingga hampir 10 tahun dari pacaran sampai saat ini. Lamunannya terbuyarkan saat gawainya berdering. Ternyata Eza sudah datang dan sudah berada di ruang rapat besar.
Kak Winda langsung beranjak dari ruangan yang dipenuhi dengan kertas-kertas yang tertata rapi di rak yang berjejer. Kak Winda sengaja ke ruangan
__ADS_1
"Kalian ditunggu di ruang direksi," ujar Kak Winda.
...Bersambung...